KESEHATAN INDONESIA

Teknologi Pengobatan: Sel Punca (Stem Cells)

By: Septiani Rahayu, Apt.

Pada saat ini, pencarian metode pengobatan yang efektif dan efisien terus dilakukan untuk menjawab permasalahan penyakit, terutama dibutuhkan untuk menyembuhkan penyakit dengan tingkat keparahan tinggi atau yang dapat menimbulkan komplikasi seperti penyakit tidak menular atau dikenal sebagai penyakit kronik. Penyakit kronik merupakan penyakit yang berlangsung lama hingga menahun, dapat bertambah parah, menetap, dan atau sering kambuh sehingga memerlukan pengobatan seumur hidup, contohnya seperti penyakit jantung koroner, diabetes, dan kanker. Penyakit kronik disebabkan oleh adanya kerusakan pada fungsi tubuh sehingga pasien perlu disiplin mengonsumsi obat dalam jangka waktu panjang untuk menjaga fungsi tubuhnya tetap baik. Namun, terapi menggunakan obat tersebut mayoritas hanya bertujuan untuk mengurangi atau mengontrol gejala yang timbul, bukan untuk memperbaiki kerusakan fungsi tubuh yang dimiliki oleh pasien. Metode pengobatan untuk penyakit kronik kemudian semakin berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Sel punca, teknologi terkini!

 

Salah satu inovasi pengobatan penyakit kronik yang sedang ditekuni oleh peneliti yaitu teknologi sel punca (Stem Cell). Sel punca yaitu sel yang mampu memperbaharui diri sehingga dapat menghasilkan lebih banyak sel punca lainnya yang identik atau mampu berubah (berdiferensiasi) menjadi berbagai bentuk sel lain yang fungsinya khusus (terspesialisasi)1,2,3. Terdapat dua jenis sel punca yaitu Embryonic Stem Cells(ESCs) dan Tissue Spesific Stem Cells(TSSCs) atau dikenal juga sebagai Adult Stem Cells. Perbedaan kedua jenis sel tersebut yaitu ESCs berasal dari janin (embrio) yang bersifat pluripoten atau dapat berubah menjadi berbagai jenis sel tubuh sedangkan TSSCs berasal dari jaringan tubuh pasien itu sendiri atau pasien donor yang sudah dewasa dan mayoritas hanya dapat berubah menjadi sel tertentu sesuai jaringan asal sel punca 1,3. Sel punca dewasa dapat diperoleh dari berbagai jaringan tubuh contohnya seperti sumsum tulang belakang, plasenta, otak, pembuluh darah, otot, hati, kulit, bahkan lemak1,3. Prinsip pengobatan menggunakan teknologi sel punca yaitu sel punca ditransplantasikan ke dalam organ tubuh yang mengalami kerusakan, sel punca akan memperbaiki kerusakan organ dengan berubah menjadi sel penyusun organ tersebut dan menggantikan sel yang rusak sehingga fungsi organ tersebut akan normal kembali. 

 

Sel punca versus etik?

 

Secara etik, transplantasi sel punca yang berasal dari janin (ESCs) masih diperdebatkan karena sel punca ini menyebabkan kerusakan embrio manusia yang merupakan awal kehidupan. Selain itu sel punca ini dapat menimbulkan tumor karena proses pertumbuhannya yang tidak dapat terkontrol akibat sifatnya yang pluripoten seperti yang telah dibahas di atas. Sedangkan transplantasi TSSCs secara etis diizinkan dan secara klinis sudah dilakukan sejak tahun 1950 yaitu transplantasi sel punca yang berasal dari sumsum tulang2. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses transplantasi sel punca yaitu dibutuhkannya kesesuaian sistem imun pasien terhadap sel punca yang berasal dari pasien donor agar setelah transplantasi, sel punca tidak mendapat reaksi penolakan dan dapat bekerja dengan baik pada tubuh pasien. Bila TSSCs berasal dari pasien itu sendiri maka reaksi sistem imun tubuh pasien terhadap sel punca akan rendah sedangkan bila TSSCs berasal dari pasien donor maka reaksi sistem imun tubuh pasien terhadap sel punca akan tinggi2.  

Aplikasi teknologi sel punca yang berasal dari sumsum tulang belakang, tali pusar, plasenta, atau darah (Hematopoietic Stem Cells/HSCs) dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit seperti leukeumia (kanker sel darah putih) atau anemia. Sel punca jenis ini mampu menghasilkan semua jenis sel darah seperti sel darah merah untuk mengangkut oksigen ataupun sel darah putih untuk melawan zat asing bagi tubuh1. Penyakit jantung juga dapat disembuhkan dengan mentransplantasi sel punca yang bukan berasal dari jantung ke dalam jantung, sel punca tersebut dapat berubah menjadi sel jantung yang sehat4.

 

Penelitian seputar sel punca.

 

Penelitian mengenai sel punca lainnya juga dilakukan terhadap penyakit diabetes. Penyakit diabetes merupakan kondisi dimana tubuh kekurangan insulin yang berguna untuk mengangkut gula (glukosa) ke dalam sel agar sel tetap berenergi. Penyakit diabetes terdiri atas tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 disebabkan adanya kerusakan sel beta yang terletak di sel islet langerhans pada pankreas sedangkan tipe 2 disebabkan kurangnya jumlah insulin yang diproduksi oleh tubuh atau tubuh menjadi resisten terhadap insulin. Keadaan ini disebut juga resistensi insulin, yaitu insulin dalam tubuh tidak bekerja dengan baik sehingga kadar gula tetap tinggi dalam darah. Diabetes tipe 2 mungkin dapat dikontrol dengan terapi obat-obatan, olahraga teratur, dan disiplin mengonsumsi makanan sehat. Terapi pada diabetes tipe 1 harus diberikan asupan hormon insulin dari luar tubuh, diperiksa gula darahnya beberapa kali dalam sehari, dan masih sulit dikontrol bila hanya dengan terapi seperti diabetes tipe 2 saja. Untuk diabetes tipe 1, pengobatan dengan teknologi sel punca dapat menjadi solusi dengan melakukan transplantasi sel islet langerhans. Namun, transplantasi ini memerlukan kualitas dan jumlah sel punca yang memadai serta harus dipastikan lebih lanjut diterima atau ditolaknya sel punca oleh sistem imun. Untuk itu, sejak tahun 2014 dilakukan percobaan untuk membuat sel langerhans dari sel induk pluripoten dan dilakukan percobaan klinis fase 1 dan 2 untuk mengetahui efisiensi serta efikasi sel induk pluripoten tersebut. Sel induk tersebut diharapkan akan berkembang menjadi sel penghasil insulin5. Rumah sakit yang telah menggunakan teknologi sel punca untuk menyembuhkan penyakit diabetes salah satunya yaitu rumah sakit Guangzhou Meyo Stem Cell di Cina sejak tahun 20106.

 

Bagaimana perkembangannya di Indonesia?

 

Di Indonesia, pengembangan sel punca dilakukan oleh industri farmasi (Stem Cell and Cancer Institute/SCI, PT. Kalbe Farma). Sejauh ini pengembangan sel punca di Indonesia bertujuan untuk menyembuhkan penyakit osteoarthritis, jantung, dan diabetes. Mulai tahun 2016, PT. Kalbe Farma melakukan penelitian pra klinis (pada hewan tikus dan domba) serta klinis (pada manusia) bekerja sama dengan 11 rumah sakit nasional yang ditetapkan Kementrian Kesehatan, salah satunya yaitu RSUP Cipto Mangunkusumo. Produk sel punca rencananya akan didaftarkan di BPOM dan dikomersilkan di Indonesia mulai tahun 20197.

Teknologi pengobatan sel punca ini merupakan metode yang dipercaya peneliti dan kalangan medis untuk menjawab permasalahan kesehatan yang akan semakin berkembang di masa depan. Semoga penelitian dan pelaksanaan klinis sel punca semakin berkembang, terutama di Indonesia, sehingga Indonesia bisa mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya dalam bidang kesehatan. Salam Indonesia Sehat!

 

Referensi:

1.    Macherla, S. and N.K. Murahari. 2012. Stem Cell Therapy-An Overview. International Journal of Pharma and Bio Sciences3:1.

2.    Placzek M.R, I.M. Chung, H.M. Macedo, S. Ismail, T.M. Blanco, M. Lim, J.M. Cha, I. Fauzi, Y. Kang, D.C.L. Yeo, C.Y.J. Ma, J.M. Polak, N. Panoskaltsis, A. Mantalaris. 2009. Stem Cell Bioprocessing: Fundamentals and Principles. J.R.Soc. Interface 6: 209-232.

3.    Can, A. 2008. A Concise Review on The Classification and Nomenclature of Stem Cells.Turk J Hematol25: 57-9.

4.    Murnaghan, I. 2016. Major Diseases and Stem Cells. www.explorestemcells.co.uk/majordiseasesstemcells[diakses 26 Juli 2016]

5.    Euro Stem Cell. 2015. Diabetes: How Could Stem Cells Help?. Available at: www.eurostemcell.org/factsheet/diabetes-how-could-stem-cells-help[diakses 23 Juli 2016]

6.    Siahaan, M.W. Teknologi Sel Induk, Tren Baru Penyembuhan Diabetes. 2015. Tersedia di: health.kompas.com/read/2015/06/25/041300923/Teknologi.Sel.Induk.Tren.Baru.Penyembuhan.Diabetes[diakses 23 Juli 2016]

7.   Kompas. 2016. September Produk Sel Punca Pertama Indonesia Diuji Pada Manusia. Tersedia di: http://sains.kompas.com/read/2016/01/07/15041381/September.Produk.Sel.Punca.Pertama.Diuji.pada.Manusia[diakses 26 Juli 2016]

 

 


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.