Oleh : Sani Asmi Ramdani Lestari, Apt.

 

Dari sebelum sejarah terekam oleh banyak media, tanaman di seluruh dunia sudah mempunyai ‘nama’ sebagai penyembuh dan ‘nama’ tersebut selalu digandeng dengan rasa ‘pahit’. Bukan hanya tanaman, tapi juga air, mineral, bahkan minyak yang berasal dari hewan. Indonesia yang kaya akan flora dan fauna tidak bisa terlepas dari sejarah-sejarah tak tercatat itu dan hal tersebut menjadi warisan budaya di Indonesia sendiri yang dipercaya dari mulut ke mulut, juga bukti ke bukti.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian pesat, mendorong hal-hal yang hanya dipercayai dari mulut ke mulut, seperti khasiat tanaman-tanaman herbal, menjadi hal yang lebih riil, modern, bahkan menarik. Yang tadinya hanya berbentuk daun, sudah menjadi bagian halus yang dikemas cantik dalam kapsul-kapsul berwarna mentereng. Yang tadinya dijual dari gendongan ke gendongan, dari punggung ke punggung, sudah tinggal dari jari ke jari melalui media social.

Perkembangan yang pesat tersebut perlu diawasi karena, lagi, klaim penyembuhan dari obat herbal bias jadi hanya bohong semata. Maka dari itu,  pada tahun 2004, Badan Pengawasan Obat dan Makanan mengeluarkan peraturan tentang Ketentuan Pokok Pengelompokkan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia. Tujuannya, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjamin produk-produk herbal tersebut aman dikonsumsi oleh masyarakat.

Isi dari peraturan yang dikeluarkan BPOM adalah adanya pengelompokan dari obat herbal berdasarkan cara pembuatan, klaim penggunaan, juga tingkat pembuktian khasiat. Masing-masing kelompok ditandai dengan logo yang diletakkan di atas sebelah kiri dari wadah/pembungkus/brosur. Ketiga kelompok itu, yaitu:

1. Jamu

Jamu merupakan salah satu obat tradisional yang cukup popular di Indonesia. Kisah jamu ini adalah kisah turun temurun dan termasuk dalam warisan budaya Indonesia sebab khasiatnya telah terbukti berdasarkan pengalaman sesepuh-sesepuh jaman dahulu. Syarat dari jamu itu sendiri tentu haruslah aman dan bermutu sesuai persyaratan dari BPOM, pengakuan khasiat harus berdasarkan data empiris (pengalaman sesepuh jaman dahulu).

Pada dasarnya, jamu ini masih diolah secara tradisional, sehingga dalam klaimnya, harus diawali dengan kata-kata: “Secara tradisional digunakan untuk……” atau kata-kata yang menjelaskan bahwa jamu ini tidak menyembuhkan, melainkan meringankan atau meredakan atau untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Untuk mengenalinya, jamu ditandai dengan tulisan ‘JAMU’ dan logo ranting daun yang terletak dalam lingkaran yang dicetak dengan warna hijau di atas dasar warna putih atau warna lain yang menyolok dengan warna logo

 

2. Obat Herbal Terstandar (OHT).

Obat herbal terstandar atau disingkat OHT juga harus memenuhi kriteria aman sesuai persyaratan. Yang membedakannya dengan jamu adalah klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah atau dengan uji pra klinik. Uji praklinik ini adalah penelitian yang tujuannya untuk mengetahui keamanan dan profil obat di dalam tubuh dengan hewan sebagai subjek penelitiannya. Selain itu, bahan baku yang digunakan juga harus terstandar yang berujung pada mutu dari OHT itu sendiri. Standardisasi bahan baku ini meliputi cara penyiapan bahan baku seperti cara pembuatan ekstrak yang digunakan, serta metode analisis senyawa aktif yang terkandung di dalam tanaman tersebut. Kenapa senyawa aktif ini begitu penting? Karena senyaw aktif inilah yang punya peran dalam klaim khasiat OHT.

Logonya adalah lingkaran dengan garis tepi berwarna hijau dengan 3 pasang jari-jari daun hijau di dalamnya dengan warna dasar putih atau warna lain yang kontras dengan warna logo. Harus ada pula tulisan ‘OBAT HERBAL TERSTANDAR’ dengan warna hitam di atas warna dasar putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan tulisan.

 

3. Fitofarmaka

Perbedaan fitofarmaka dengan golongan obat herbal yang lain adalah sudah dilakukannya uji klinik. Jika obat herbal terstandar klaim khasiatnya dilanjutkan dengan pembuktian uji klinik, ia akan menjadi fitofarmaka. Uji klinik adalah penelitian yang dilakukan untuk menemukan atau memastikan efek dari obat serta keamanannya dengan manusia sebagai subjek penelitian. Karena proses pengujian yang begitu banyak dan cenderung membutuhkan waktu yang lama, di Indonesia sendiri baru ada 18 fitofarmaka yang terdaftar di BPOM. Persyaratan yang ketat dan biaya penelitian yang terbilang mahal, menjadi kendala dari perkembangan produk fitofarmaka. Namun, kendala tersbut sebanding dnegan jaminan mutu untuk masyarakat.

Obat tradisional ini ditandai dengan lingkaran bergaris tepi hijau dengan gambar jari-jari daun yang kemudian membentuk bintang di dalamnya. Terdapat juga tulisan ‘FITOFARMAKA’ berwarna hitam di atas dasar warna putih atau warna lain yang menyolok kontras dengan tulisan.

 

Jika anda telah familiar dengan logo ataupun tanda dari obat tradisional tersebut, jangan lupa untuk mengecek izin edarnya di cekbpom.bpom.go.id sebab tidak dapat dipungkiri bahwa masih saja ada oknum yang melabeli dengan logo obat tradisional namun ternyata belum terdaftar di BPOM. Selain itu, banyak pula produk-produk bahan alam yang ternyata dicampur dengan bahan kimia obat—yang tentu saja tidak diperbolehkan. Maka dari itu, sangat penting untuk check and recheck apakah produk herbal yang kita beli dan miliki sudah terdaftar di BPOM atau belum.

 

Sumber:

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan

Keputusan Kepala Badan Pengawasa Obat dan Makaran Republik Indonesia Nomor HK.00.05.4-2411 tahun 2004 tentang Ketentuan Pokok Pengelompokkan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia

Keputusan Kepala Badan Pengawasa Obat dan Makaran Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2013 tentang Pedoman Uji Klinik Obat Herbal

Permenkes No. 88 tahun 2013 tentang Rencanan Induk Pengembangan Bahan Baku Obat Tradisional

Peraturan Kepala Badan Pengawasa Obat dan Makaran Republik Indonesia Nomor HK.00.05.41.1384 tahun 2005 tentang Kriteria dan Tata Laksanana Pendaftaran Obat Tradisional, obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka

 

 


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.