Oleh : Dinda Arditta, S.Farm., Apt.

 

Hingga tahun ini, program pencegahan stunting masih menjadi fokus pemerintah. Hal ini dikarenakan berdasarkan data WHO Indonesia menempati posisi peringkat 3 dengan jumlah balita stunting terbanyak di regional Asia Tenggara (South East Asia Regional),  dengan prevalensi stunting 36,4%. Berdasarkan data Riskesdas 2013, Daerah Nusa Tenggara Timur yaitu tepatnya pada Timor Tengah Selatan dengan persentase prevalensi stunting tertinggi sebesar 70,4%.

 

Stunting pada dasarnya merupakan kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibandingkan dengan tinggi badan orang lain seusianya. Menyebabkan terjadinya serangan infeksi berulang pada 1000 hari pertama kehidupan anak.

 

Penyebab stunting sendiri dikarenakan kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin maupun bayi, yaitu saat anak dibawah usia 2 tahun, kurangnya praktek pengasuhan yang baik dimana seharusnya pada awal usia anak disarankan untuk mendapaktna Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif dan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). Selain itu, terbatasnya layanan kesehatan pada ibu selama masa kehamilan post natal care. Kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang layak untuk anak.

 

Ciri - ciri stunting anak pada anak yaitu

1.       terlambatnya tanda pubertas,

2.       performa yang buruk pada kegiatan belajar dibuktikan dari perhatian dan kemampuan mengingat saat belajar,

3.       pertumbuhan gigi terlambat,

4.       usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam,

5.       pertumbuhan yang melambat dan wajah tampak lebih muda

 

Upaya intervensi yang dapat dilakukan berfokus pada ibu hamil, saat bayi lahir, dan usia bayi mulai dari 6 bulan hinggaa 2 tahun. Upaya tersebut meliputi :

1.       Pada ibu hamil dengan memperbaiki gizi dan kesehatan ibu hamil dengan cara memberikan makanan yang bergizi, pemberian tablet penambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan, dan menjaga kesehatan ibu agar tidak sakit.

2.       Pada saat bayi lahir, persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu lahir segera dilakukan Inisiasi menyusu dini. Selanjutnya selama 6 bulan diberikan Air Susu Ibu Eksklusif saja.

3.       Saat usia bayi berusia 6 bulan hingga 2 tahun, dimana pada usia menginjak 6 bulan maka selain diberikan ASI juga diberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), lalu diberikan kapsul vitamin A disertai engan imunisasi dasar yang lengkap

4.       Pemantauan pertumbuhan balita di posyandu untuk mendeteksi dini adanya ganggungan pertumbuhan

5.       Membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) setidaknya dari lingkungan keluarga, seperti menjaga kebersihan lingkungan, lalu meningkatkan akses air bersih dan fasilitas sanitasi.

 

Referensi

Kemenkes. 2018. Ini Penyebab Stunting pada Anak. Tersedia secara online di http://www.depkes.go.id/article/view/18052800006/ini-penyebab-stunting-pada-anak.html

Wurisastuti, T., & Suryaningtyas, N. H. (2017). Perbedaan Karakteristik Demografi dan Riwayat Infeksi Malaria Menurut Status Gizi Balita di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 20(1), 10-15.

Kemenkes RI. 2018. PUSDATIN : Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Tersedia secara online di http://www.pusdatin.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/buletin/Buletin-Stunting-2018.pdf

Kemenkes RI. 2016. PUSDATIN : Situasi Balita Pendek . Tersedia secara online di http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/situasi-balita-pendek-2016.pdf

 


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.