Oleh : Muhammad Imadudin Siddiq, Apt

 

Pembangunan bidang kesehatan pada intinya dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauman, dan kemampuan hidup sehat kita semua loh. Hal ini demi mewujudkan tingkat kesehatan yang baik sebagai salah satu unsur kesejahteraan yang mana ini telah diamanahkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.   

Tahukah kamu, obat merupakan salah satu unsur utama dalam pelayanan kesehatan. Obat bukanlah barang biasa, obat beresiko tinggi bila disalahgunakan atau penggunaan tidak sesuai peruntukan, sehingga perlu pengelolaan yang ketat dan baik. Adalah Tenaga Kefarmasian yang terdiri dari Apoteker dan Tenaga Teknis Apoteker yang bertanggung jawab disana. Karena merekalah yang paham dan mengerti mulai dari pembuatan obat hingga dapat digunakan oleh pasien. Hal ini tentu untuk menjaga kualitas, khasiat, serta keamanan dari obat.

Kamu penasaran gak sih bagaimana obat itu dibuat hingga sampai ke tangan kamu? Yuk cari tahu bagaimana obat bisa sampai ke tangan kamu!

Perjalanan pembuatan obat dimulai dari sebuah industri farmasi. Industri farmasi sebagai produsen obat akan memproduksi obat dengan berbagai bentuk, mulai dari tablet, kapsul, salep, hingga bentuk cair, seperti infus dan vial.

Tentu, sebelum memproduksi obat secara masal, industri obat telah mengantongi dua izin. Pertama, sudah mendapatkan izin industri farmasi dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Izin ini berisi syarat-syarat dan beragam sistem terkait pembuatan obat yang baik. Syarat Kedua, produk obat yang diproduksi telah mendapatkan nomer izin edar (NIE), dengan mengajukan beragam berkas terkait produk tersebut. Kedua hal ini dilakukan demi memastikan kualitas, khasiat, dan keamanan obat.

Pembuatan obat di Industri farmasi di Indonesia tidak kalah bagus loh dengan diluar loh. Kita sudah memiliki standar pembuatan obat, yaitu Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang mengacu pada standar internasional, c-Good Manufacturing Practice (c-GMP).  CPOB terbaru yaitu CPOB 2018. CPOB inilah standarkan yang digunakan. CPOB ini ialah upaya pemerintah untuk menjamin dan memastikan mutu yang baik dari obat yang beredar di Indonesia.

Mengenal CPOB

CPOB tidak hanya bicara menyoal proses produksi obat, tapi juga sebelum proses produksi. Seperti bagaimana membuat bangunan untuk ruang produksi obat, bagaimana memilih produsen bahan awal/bahan baku obat, hingga bagaimana penanganan obat ketika sudah sampai ke pasien. Ternyata, industri farmasi bertanggung jawab penuh atas hal tersebut loh! Tentu ini demi menjaga kualitas, khasiat, dan keamanan obat yang akan dikonsumsi bagi pasien yang membutuhkan.

Secara umum CPOB berisikan 12 bab yang merangkum seluruh alur, mulai dari hulu hingga hilir suatu obat. Dimulai dari bab pertama tentang manajemen mutu hingga bab kedua belas tentang kualifikasi dan validasi yang berisikan bagaimana pembuktian proses yang ada adalah bermutu dan terus menjaga kualitas dari sistem serta proses produksi obat dari waktu ke waktu.

Industri farmasi juga tidak sembarangan dalam memilih pekerja. Satu industri farmasi diwajibkan memiliki setidaknya 3 Apoteker yang terbagi pada departemen penjaminan mutu, departemen pemastian mutu, serta departemen produksi obat.

Proses produksi obat pun tidak sembarangan. Ia melalui beragam persiapan dan pengujian yang sistematis, serta ketat. Yang terlibat dalam proses pembuatan obat ini pun tidak hanya departemen produksi, namun beragam departemen dengan fungsi dan tugas yang berbeda-beda namun demi mencapai tujuan yang sama. Contohnya, departemen penjaminan mutu dan departemen pemastian mutu. Keduanya tidaklah sama, secara sederhana, departemen pemastian mutu adalah yang bertanggungjawab terhadap sistem mutu, sedangkan departemen penjaminan mutu ialah yang bertanggungjawab terhadap mutu produk saat proses.

Lalu departemen produksi, bagaimana? Departemen produksi adalah yang memastikan obat dibuat dengan alur dan cara yang sesuai. Bahkan Departemen produksi pun dibantu oleh departemen engineering, yang bertanggung jawab terhadap seluruh alat serta perlatan yang digunakan agar berjalan dengan baik dan benar sesuai peruntukan.

Proses pembuatan obat secara umum dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: bahan awal, produk antara, produk ruahan, serta barang jadi. Setiap selesai satu tahap selalu masuk proses karantina (dipisahkan) untuk di pastikan kesesuaian nya dengan serangkaian uji. Baru setelah dinyatakan sesuai, proses dapat dilanjutkan.

Setelah obat selesai ditahap produk jadi, artinya produk sudah selesai dikemas. Obat terlebih dahulu masuk ke ruang karantina sebelum dikirimkan ke pasaran. Dilakukan serangkaian uji serta disisihkan sejumlah produk untuk disimpan oleh Industri Farmasi.

 

Obat Siap di Sebar ke Pasaran

Obat jadi yang sudah mendapatkan persetujuan dari departemen pemastian mutu, maka obat dapat didistribusikan ke pasaran. Proses distribusi obat pun memiliki aturan yang ketat. Pemerintah sudah menyiapkan suatu standar, yaitu Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB). Terlebih, proses distribusi obat pun tidak dapat langsung pada pasien, harus melalui pihak lain, seperti Pedangan Besar Farmasi (PBF) atau distributor. PBF ini lah yang bertanggung jawab mendistribusikan obat ke pusat pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, klinik, apotek, serta toko obat.

Memangnya kenapa sih perlu ada standar tentang proses distribusi obat ini? Tahukah kamu, bahwa obat tidak hanya memiliki satu bentuk sediaan, namun sangatlah beragam. Dan ternyata, dari beberapa bentuk sediaan tersebut memiliki tingkat kestabilan yang rendah sehingga perlu penanganan khusus.

Tentu, kamu semua mengetahui tentang program imunisasi, kan? Ternyata obat/vaksin yang digunakan saat program imunisasi itu memiliki kestabilan yang tergantung pada suhu loh. Karena beberapanya haruslah ditaruh di suhu 2-80C agar stabil dan tidak rusak. So, bila sembarangan dalam proses distribusi serta penyimpanan, obat menjadi rusak, dan ketika digunakan tidak akan berkhasiat bahkan malah membahayakan kamu. Itulah, yang disebut sebagai distribusi cold chain. Demi memastikan hal tersebut, PBF pun saat ini sudah diwajibkan oleh Pemerintah untuk memiliki seorang apoteker.

 

Post Marketing Survaillance

Ketika kamu sakit, tentu kamu kan datang ke pusat pelayanan kesehatan tentunya. Baik itu di rumah sakit, klinik. Setelah kamu diperiksa oleh dokter, lalu dokter menuliskan resep obat. Maka, kamu akan datang ke apotek untuk menebus obat dalam resep tersebut.

Resep yang dituliskan oleh dokter akan diperiksa dan dilakukan screening oleh seorang Apoteker. Apakah obatnya, dosis, serta aman diberikan pada pasien tersebut. Setelah proses itu dipastikan aman, maka barulah apoteker akan menyiapkan obat tersebut, lalu memberikan obat sembari memberikan pelayanan informasi obat agar kamu dapat mengerti tentang obat kamu gunakan. Mulai dari nama dan kandungan obat, khasiat obat, dosis obat, cara penggunaan obat, dan efek samping obat tersebut. Hal ini dimaksudkan agar kamu paham dan mengerti hingga kamu dapat pulih kembali. Beberapa golongan obat bahkan tidak dapat diberikan bila tanpa resep dokter.

Ketika obat sudah sampai di tangan mu, obat masih tetap dalam pengawasan, itulah yang kemudian dinamakan dengan Post Marketing Survaillance. Jadi, bila terjadi sesuatu diluar perkiraan dan  membahayakan masyarakat, maka obat wajib ditarik dari pasaran oleh industri farmasi. Itu adalah kewajiban dari industri farmasi. Seperti kejadian yang menimpa obat abothyl yang ditarik dari pasaran beberapa waktu lalu.

Beragam bentuk jalur pelaporan pun sudah disiapkan pada tahap ini. Baik itu di rumah sakit, apotek, puskesmas, maupun masyarakat sendiri. Di pusat pelayanan kesehatan dikenal dengan nama form Monitoring Efek Samping Obat (MESO) yang mana hal ini diisi bila terjadi kejadian lalu dilaporkan ke pemerintah melalu Pusat MESO Nasional. Kamu pun dapat melaporkan pada apotek, atau pun langsung melalui nomer telp customer service yang tertera pada kemasan obat yang kamu gunakan.

 

Simpulan

Jadi, semua sudah paham kan ya, bagaimana obat itu dibuat hingga sampai ditangan mu. Melalui berbagai proses yang ketat dan sistematis. Hal ini tentu untuk menjamin bahwa obat yang kamu gunakan itu berkhasiat, bermutu, dan aman.  Dan jangan lupa pastikan membeli obat di apotek yang memiliki izin, serta selalu minta untuk berkonsultasi dengan apoteker yang berjaga di apotek tersebut. Terakhir, selalu sampaikan dan tanyakan segala hal yang kamu rasa berbeda setelah menggunakan obat tersebut pada apoteker [].

 

Sumber:

Pembukaan UUD 1945, 1995. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.

CPOB, 2018. Cara Pembuatan Obat yang Baik. BPOM. Jakarta.

CDOB, 2012. Cara Distribusi Obat yang Baik. BPOM. Jakarta.


 

 


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.