HATI-HATI RESISTENSI ANTIBIOTIK!

Oleh IPSF BEM KEMAFAR UNPAD X IPSF APRO 2017

 

Apa sih resistensi tuh?

Resistensi terjadi ketika mikroorganisme (seperti bakteri, jamur, virus, dan parasit) mengalami perubahan ketika mereka terkena obat antimikroba (seperti antibiotik, antijamur, antivirus, antimalaria, dan anthelmintik). Akibatnya, obat-obatan menjadi tidak efektif dan infeksi terus terjadi (bertahan) di dalam tubuh, meningkatkan resiko penyebaran kepada orang lain.

https://lh6.googleusercontent.com/y5xJOp_6cbGymYOC3XMd2r5TnVluZQSrdKBemN8qIHdJAVdC7vd7AMmhrYJI_sfqBbnr30sEpq68L2Qm7gpeE-50CSKorezxf-4zOnQ7uSkGAVMlRaO_NAaNhxrSwrA4f7KxjxisQrFMTZ60BQ

 

Angka kematian akibat Resistensi Antimikroba sampai tahun 2014  sebesar 700.000 jiwa per tahun. Dengan semakin cepatnya perkembangan dan penyebaran infeksi bakteri, Jim O’Neill memperkirakan pada tahun 2050, kematian akibat resistensi antibiotik lebih besar dibanding kematian yang diakibatkan oleh kanker, yakni mencapai 10 juta jiwa. Dan menurut Prof. Dr. dr. Kuntaman dari Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), peningkatan prevalensi resistensi antibiotik dari tahun ke tahun dipicu oleh berbagai faktor.

 

Antibiotik paling ampuh udah nggak mempan?

Pada bulan November 2015, di China, ditemukan mcr -1-gen, sebuah gen penanda resistensi colistin. Colistin merupakan antibiotik ampuh terakhir yang digunakan untuk beberapa penyakit infeksi dari bakteri multidrug-resistant (Bakteri yang sudah resisten terhadap banyak antibiotik). Gen mcr -1 yang terdapat pada plasmid (sepotong kecil DNA), mampu berpindah dari satu bakteri ke bakteri lain. Gen tersebut memiliki potensi untuk cepat menyebar ke bakteri lain dan menimbulkan resistentensi. 

Colistin adalah terapi pilihan terakhir yang sangat krusial. Obat ini jarang digunakan dalam perawatan karena efek samping yang ditimbulkan. Colistin baru-baru ini telah digunakan, dan semakin banyak digunakan untuk mengobati pasien dengan infeksi yang disebabkan oleh bakteri resisten terhadap colistin yang masih efektif, meskipun memiliki efek samping. Jika resistansi terhadap colistin menyebar bakteri yang sudah resisten terhadap golongan antibiotik lain, bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi yang benar-benar tidak dapat diobati. Kita tidak bisa terus membiarkan bakteri melakukan perubahan; bakteri pasti akan menemukan cara untuk menolak antibiotik yang dikembangkan oleh manusia. Inilah sebabnya mengapa itu lebih penting daripada untuk memperlambat penyebaran resistensi dengan mengikuti langkah-langkah pengendalian infeksi untuk setiap pasien, setiap waktu dan untuk menjaga antibiotik bekerja dengan meningkatkan bagaimana cara kita menggunakannya.”

 

Kok bisa sih terjadi resistensi antibiotik?

Salah satu faktor pemicu meningkatnya kejadian resistensi antimikroba dikarenakan penggunaan antimikroba yang tidak bijak di manusia dan hewan. Penggunaan antibiotik pada sektor pertanian, peternakan dan perikanan menyebabkan infeksi pada hewan dan tumbuhan makin sulit untuk diobati.  Selain itu penyebaran kuman resisten dari binatang ternak dan kontaminasi makanan oleh bakteri resisten antibiotik bisa menyebabkan manusia terinfeksi bakteri kebal antibiotik. Sehingga tidaklah mengejutkan dimasa depan bila reistensi antimikroba akan melewati kanker dan diabetes sebagai penyebab kematian utama di dunia. 

Faktor lainnya adalah penggunaan yang kurang tepat atau misused. Seperti pada penderita flu yang disebabkan oleh virus namun oleh dokter didiagnosa karena bakteri sehingga seharusnya tidak perlu diberikan antibiotik.

Selain itu pasien yang tidak menghabiskan antibiotik atau hanya separuh jalan saja. Hal ini dapat menimbulkan dampak buruk karena penggunaan antibiotik yang tidak dihabiskan tidak membunuh bakteri berbahaya di dalam tubuh secara menyeluruh sehingga bakteri yang belum terbunuh dapat memicu timbulnya resistensi antibiotik.

 

Gimana cara mencegah resistensi?

Sebagai seorang apoteker dan anggota terakhir dari rantai kesehatan, Anda memiliki dampak yang besar pada pengurangan tingkat prevalensi AMR hanya dengan berbicara dengan pasien Anda. Dengan mengambil menyampaikan 7 pernyataan ini, menjadi 7-stars pharmacist:

1.    Tanyakan pasien untuk selalu mencuci tangan mereka dan merawat kebersihan mereka. 

2.    Minta pasien untuk menyelesaikan program vaksinasi mereka dengan benar.

3.    Sarankan pasien untuk tidak berada dalam kontak dekat dengan orang-orang yang menderita penyakit menular.

4.    Sarankan pasien untuk tidak mendapatkan obat-obatan antimikrobaover-the-counterdan berhenti memberikan antibiotikover-the-counteruntuk pasien.

5.    Mintalah pasien untuk menyelesaikan masa pengobatan mereka dengan antibiotik, setiap hari pada waktu yang tepat sesuai dengan resep dokter sampai hari akhir.

6.    Untuk pilek, meminta pasien untuk beristirahat dan menunggu 2-3 hari untuk gejala mereka untuk meningkatkan. Dalam kebanyakan kasus, pilek adalah virus dan tidak perlu antibiotik. 

7.    Meningkatkan kesadaran tentang AMR dalam farmasi dan juga sebagai orang yang peduli untuk AMR tempat lain.

Referensi

Blair, J.M.A, dkk. 2015. Molecular mechanisms of antibiotic resistance. Nature Reviews Microbiology. Vol 13. Jan 2015.

Centers for Disease Control and Prevention. 2016. Newly Reported Gene, mcr -1, Threatens Last-Resort Antibiotics. Tersedia online di http://www.cdc.gov/drugresistance/mcr1.html[Diakses pada tanggal 10/11/2016].

Pierson, R. dan Bill Berkrot. 2016. U.S. sees first case of bacteria resistant to last-resort antibiotic.Tersedia online di http://www.reuters.com/article/us-health-superbug-idUSKCN0YH2KT[Diakses pada tanggal 10/11/2016]

World Health Organization. 2016. Antimicrobial resistance.Tersedia online di http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs194/en/[Diakses pada tanggal 10/11/2016].

 


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.