Oleh : Muhammad Imaddudin Siddiq, S.Farm

 

Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menunjukan bahwa penggunaan Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) sebanyak 30,4%, dimana porsi penggunaan obat herbal mencapai angka 49,0% (Riskesdas, 2013). Ini menunjukan masyarakat Indonesia masih menjadikan obat herbal suatu alternative pengobatan. Terlebih, obat herbal secara empiris telah membudaya sejak dahulu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Bandung, didapatkan bahwa obat herbal yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat pada tahun 2014 adalah bawang putih, lechitin, dan spirulina untuk pengobatan penyakit kolesterol (Dika and Auliya, 2014).

Dewasa ini obat herbal masih dijadikan primadona sebagai alternative pengobatan. Namun, banyak kesimpang-siuran informasi terkait obat herbal. Mulai dari mitos keamanan, efek, hingga cara penggunaan nya. Disamping itu pula ada beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang obat herbal. Yuk, kita ulas Lima Hal Penting Tentang Obat Herbal!

1. Mengenal Obat Herbal

Obat herbal adalah setiap bentuk dari tumbuhan, hasil tumbuhan, baik daun, batang, bunga, akar, maupun biji. Ternyata, obat herbal sendiri dapat berisikan satu jenis maupun dari berbagai jenis yang berbeda. Bahkan, di beberapa tempat, obat herbal tidak hanya berasal dari tumbuhan, namun juga dari hewan dan mineral (Bent, 2004). Perlu diketahui, obat herbal sendiri terdiri dari berbagai bentuk, mulai dari bentuk asli nya, seperti akar, batang, namun ada pula yang dalam bentuk cairan, pasta, maupun bubuk.

Mengapa obat herbal juga dapat digunakan sebagai alternative pengobatan? Jawabannya ialah, dalam obat herbal ternyata mengandung senyawa organik, seperti flavonoid, alkaloid yang juga memiliki efek bagi tubuh.

2. Mitos Obat Herbal

“Obat herbal selalu aman karena berasal dari alam”. Begitu kira-kira ungkapan yang sering kita dengar. Namun, apakah benar begitu? Begini, obat herbal memiliki senyawa yang poten yang memberikan efek, dan ternyata satu dari tiga obat kimia saat ini didapatkan dari tumbuhan.

Banyak jenis obat herbal yang memiliki efek yang bukan hanya tidak aman, justru malah mematikan. Ada sebuah studi “case series” memperlihatkan penggunaan obat herbal yang berisikan tanaman Aristolochia fangchi sebagai anti-obesitas, dari 104 wanita yang menggunakan, 43 wanita mengalami kerusakan ginjal tahap akhir. Di studi “case series” lain didapatkan, dari tujuh pasien yang menggunakan obat herbal berisikan herbal yohimbine yang dikombinasikan dengan beberapa obat kimia mengalami kerusakan hati dalam tiga bulan, dan kembali sehat ketika obat herbal tidak digunakan kembali (Bent, 2004). Ini menunjukan bahwa obat herbal tidak selamanya aman.

3. Efektivitas Obat Herbal

Obat herbal telah menjadi alternative pengobatan dewasa ini. Bahkan, di negara berkembang, hampir 80% masih menjadi tumpuan untuk penyembuhan sakit, peningkatan kesehatan (Gesler, 1992). Namun, perlu diketahui, bahwa penelitian serta studi klinis penggunaan obat herbal masih sangat terbatas. Terlebih, studi yang berbentuk rancangan acak terkontrol yang menjadi pegangan dasar efektivitas pada obat kimia. Hasil dari beberapa studi rancangan acak terkontrol pun masih belum memuaskan bila dibandingkan dengan obat kimia (Bent, 2004).  

4. Penggunaan Obat Herbal dengan Kondisi Tertentu

Penggunaan obat herbal memang lebih banyak digunakan sebagai peningkat stamina, menjaga daya tahan tubuh. Perlu diketahui, penggunaan itu ditunjukan untuk tubuh yang sehat dan sangat berbeda ketika tubuh kita sakit atau pada kondisi tertentu. Seperti pada penyakit glaukoma, epilepsy, gangguan hati, gangguan sistem imunitas, tekanan darah, diabetes, parkinson, gangguan perdarahan, dan beberapa lain nya.

Pada kondisi tertentu seperti pada tindakan operasi juga penting untuk diketahui. Sebagai berikut :

Obat Herbal

Efek farmakologi

Efek Ketika Operasi

Pemutusan Obat herbal

Bawang putih

Menghambat agregasi platelet, efek antihipertensi

Potensi terjadinya perdarahan.

Setidaknya 7 hari sebelum operasi.

Kava

Efek sedasi

Potensi meningkatkan efek sedasi pada obat anastetik, potensi adiksi

Setidaknya 24 jam sebelum operasi.

Ginkgo biloba

Menghambat agregasi platelet, efek antihipertensi

Potensi terjadinya perdarahan.

Setidaknya 36 jam sebelum operasi.

Gingseng

Menurunkan gula darah, Menghambat agregasi platelet, efek

Hipoglikemia, potensi perdarahan

Setidaknya 7 hari sebelum operasi.

(King et al., 2009)

 

5. Penggunaan Obat Herbal bersama Obat Kimia

Penggunaan obat herbal bersama dengan obat kimia juga perlu diperhatikan, karena dapat berinteraksi yang menimbulkan efek bagi tubuh. Seperti berikut :

Obat Herbal

Obat Kimia

Interaksi

Bawang putih

Warfarin

Perdarahan

 

Chlorpropamide

Hipoglikemia

Ginkgo biloba

Warfarin

Perdarahan

 

Aspirin

Perdarahan

 

Thiazide diuretik

Peningkatan tekanan darah

 

Trazodone

Peningkatan efek sedasi (mengantuk)

Gingseng

Phenelzine

Insomnia

Kava

Levodopa

Menurunkan efek levodopa

Valerian

Antidepresan

Meningkatkan efek sedasi (mengantuk)

St Jhon Wort

Kontrasepsi Oral

Menurunkan efek kontrasepsi yang dapat menyebabkan kehamilan

 

Digoxin

Menurunkan efek digoxin

 

Amitriptilin

Menurunkan efek amitriptilin

 

Theofilin

Menurunkan efek theofilin

(Bent, 2004).

 

Penggunaan Obat Herbal yang Tepat

Lalu, bagaimana penggunaan obat herbal yang tepat? Pertama, gunakan obat herbal dengan selalu memastikan isi kandungan herbal tersebut. Kedua, pastikan obat herbal anda adalah asli bukan palsu dan tidak berisikan bahan kimia obat (BKO) yang justru malah berbahaya bagi tubuh. Ketiga, selalu konsultasikan penggunaan obat herbal anda kepada dokter maupun apoteker, terlebih bila anda sedang melakukan terapi suatu penyakit menggunakan obat kimia.  Moga bermanfaat! []

 


Referensi

  • Badan Litbang Kesehatan (2013) Laporan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013. Jakarta : Badan Litbang Kesehatan.
  • Bent S., and Richard K., 2004. Commonly Used Herbal Medicine in The United States : A Review. The American Journal of Medicine [116] : 478-485.
  • Dika P. D., and Auliya A. S., 2014. Penggunaan Suplemen Herbal sebagai Upaya Swamedikasi di Kota Bandung. Jurnal Farmasi Klinik Indonesia.1.[4] : 71-76.
  • Gesler WM. Therapeutic landscapes: medical issues in light of the new cultural geography. Soc Sci Med. 1992;34:735–746.

Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.