Oleh : Dinda Arditta, Apt.

 

Tahukah kamu obat itu tidak dibuat sembarangan loh! Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 73 Tahun 2016, obat merupakan bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi untuk manusia. Banyak ya kegunaan obat? Tapi, pernah dengar istilah obat itu juga racun? Obat itu bisa menjadi racun jika digunakan berlebihan dan tidak sesuai dengan dosis penggunaanya. Oleh karena itu, industri farmasi sebagai produsen obat pun tidak membuat obat sembarangan, terdapat berbagai regulasi yang mengatur segala sesuatu yang berkenaan dengan produksi obat ini.

 

“Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diproduksi dan/atau diedarkan harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan kemanfaatan”.

 

Tiga persyaratan utama inilah menjadi penjamin bahwa obat yang kita minum aman dan layak untuk dikonsumsi. Lalu, apa saja penjelasan dari masing-masing persyaratan diatas?

 

1. Obat harus aman

Artinya adalah obat yang itu tidak menyebabkan kerugian pada tubuh atau tidak menyebabkan toksik apabila dikonsumsi pada dosis yang dianjurkan. Pengujian keamanan obat ini dilakukan dengan pengujian toksisitas pada hewan uji sebelum obat diproduksi, yaitu pada fase uji pra-klinik. Kemudian setelah diketahui aman pada hewan uji, dilanjutkan dengan pengujian klinik pada manusia, pengujian klinik ini bertujuan untuk mengetahui keamanan dan efeknya pada manusia. Pengujian ini dilakukan sebelum obat diproduksi secara besar dan diedarkan. Tenang saja, obat yang sudah beredar dan mempunyai NIE (Nomor Izin Edar) sudah dipastikan aman oleh BPOM.

 

2. Obat harus bermutu

Artinya adalah obat yang beredar harus memiliki mutu yang baik. Apoteker di industri berperan besar dalam menjaga mutu atau kualitas obat ini, memastikan kualitas obat dari hulu hingga ke hilir. Dimulai dari pengembangan obat, pemilihan bahan baku, proses pembuatan obat, hingga proses pengemasan. Dalam proses produksi obat ini, BPOM (Badan pengawas Obat dan Makanan)  mengeluarkan regulasi seperti CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik) untuk menjamin konsistensi Industri Farmasi dalam memproduksi obat-obatan, baik obat konvensional maupun obat tradisional.

 

Pada saat proses distribusi, obat juga dijaga sedemikian rupa agar berada dalam kondisi stabilnya pada saat didistribusikan dari industri farmasi hingga ke tempat-tempat pelayanan kesehatan. Hal ini dilakukan agar obat tidak berubah bentuk, rasa, dan baunya yang mana perubahan ini dapat menurunkan kualitas bahkan efeknya. dengan cara penyimpanan yang diatur dalam CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik).

 

Mutu obat juga dijaga oleh Apoteker di pelayanan kefarmasian loh! Apoteker yang teman-teman temui di Rumah Sakit, Klinik, maupun di Apotek bekerja sesuai standar pelayanan kefarmasian yang juga diatur dalam Peraturan Pemerintah. Mulai dari pengkajian resep, hingga pemberian informasi obat yang benar untuk pasien mengenai cara penggunaan hingga cara penyimpanan. Hal ini dilakukan agar obat tetap terjaga mutunya sehingga bisa bermanfaat untuk pasien.

 

3. Obat harus bermanfaat

Persyaratan obat aman sudah terpenuhi. Obat bermutu sudah terpenuhi. Terakhir adalah obat harus bermanfaat! Iya, artinya obat ini harus bermanfaat atau memeliki efek yang dapat menangani kondisi patologis sesuai dengan tujuan penggunaan. Obat harus memilik tujuan seperti yang terlah didefinisikan dalam peraturan pemerintah seperti bertujuan untuk diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan maupun kontrasepsi pada manusia. Kalau obat tidak memiliki manfaat atau efek, tentu bukan obat namanya. Obat yang beredar di masyarakat telah diuji secara praklinis pada hewan dan klinis pada manusia dan untuk dipastikan memiliki efek yang diinginkan.

 

Ternyata, obat tidak bisa dibuat sembarangan ya! Jadi, ketahui cara penggunaan obat yang baik dan benar. Bingung ? Tanyakan saja pada Apoteker!

 

Referensi

Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Sistem Pengawasan Obat dan Makanan. Terseedia secara daring pada https://www.pom.go.id/new/view/direct/strategic

 

Kementerian Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 : Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek.

 

Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 : Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. Tersedia secara daring pada http://pelayanan.jakarta.go.id/download/regulasi/peraturan-pemerintah-nomor-72-tahun-1998-tentang-pengamanan-sediaan-farmasi-dan-alat-kesehatan.pdf

 

 


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.