Oleh : Rabella Mufti Soraya, Apt.

 

Tubuh memproduksi sendiri kortikosteroid, hormon yang disekresikan oleh kelenjar adrenal, yang mempunyai efek glukokortikoid dan mineralkortikoid. Glukokortikoid merupakan efek yang penting dalam metabolisme, inflamasi, dan proses pertahanan tubuh, sedangkan efek mineralkortikoid mempunyai peran yang penting dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Di dalam bidang farmasi, kortikosteroid sintetik dibuat untuk pengobatan, yang mempunyai efek farmakologi sebagai anti-inflamasi (anti-radang). Obat anti-inflamasi sendiri, dibagi menjadi dua jenis yaitu obat anti inflamasi golongan steroid dan obat anti-inflamasi non-steroid (AINS). Perbedaan penggunaan obat anti-inflamasi ini bergantung pada kekuatan peradangan yang diderita oleh pasien dan mekanisme kerjanya.[1]

Obat golongan steroid bekerja di sistem yang lebih tinggi dibanding AINS, yaitu menghambat berubahnya fosfolipid menjadi asam arakhidonat melalui penghambatan terhadap enzim fosfolipase. Pusing, ya? Intinya, obat steroid banyak digunakan untuk pasien dengan inflamasi berat atau inflamasi kronik, sedangkan AINS digunakan untuk inflamasi ringan hingga sedang.[2, 3]

Selain mempunyai efek farmakologi sebagai anti-inflamasi, obat golongan kortikosteroid juga dapat digunakan pada pasien alergi, asma, rematik, lupus eritematosus sistemik, dermatitis, dan korionetiritis.[4]

Apa saja contoh obat kortikosteroid ?

Yang paling banyak digunakan antara lain deksametason, metilprednisolon, hidrokortison dan kortison, prednison, beklametason, budesonid, dan triamsinolon.

Bentuk sediaannya pun bermacam-macam, tergantung pada tujuan pengobatan dan cara penggunannya. Cara pemberian peroral/melalui mulut tersedia dalam bentuk sediaan tablet, kapsul, atau sirup untuk penggunaan obat radang atau nyeri kronik seperti rheumatoid artritis. Bentuk sediaan inhaler atau intranasal spray untuk pengobatan asma atau alergi nasal dengan cara penggunaan inhalasi/ dihirup melalui hidung. Bentuk sedian topikal seperti krim dan salep untuk mengobati dermatitis. Bentuk sediaan injeksi untuk mengobati peradangan sistemik.[5]

Konon, deksametason sering kali dicampurkan ke dalam jamu anti-rematik sehingga jamu tersebut menjadi manjur. Selain itu, banyak oknum yang menjual deksametason secara bebas sehingga dapat diperoleh secara mudah oleh masyarakat.

Mengapa obat golongan kortikosteroid ini sering dijuluki sebagai obat dewa?

Karena aksi farmakologi yang tergolong luas, kortikosteroid termasuk ke dalam obat yang penting dalam dunia kesehatan. Orang awam banyak menjuluki kortikosteroid sebagai obat dewa karena terasa ampuh dalam mengobati segala penyakit, mulai dari pegal-pegal, nyeri sendi dan pinggang, alergi, asma, dan gatal-gatal bisa disembuhkan, hingga (katanya) membuat badan jadi ‘enteng’.[6]

Namun, perlu diingat bahwa kortikosteroid termasuk obat simtomatik, artinya obat ini hanya meredakan gejala/simptom yang muncul dan tidak mengatasi penyebab utama penyakitnya. Dengan kata lain, gejala dapat muncul kembali bila penggunaan obat ini dihentikan sehingga kortikosteroid akan digunakan kembali hingga jangka waktu yang panjang. Permasalahannya, penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter maupun apoteker dapat menimbulkan “ketergantungan” dan sejumlah efek samping yang merugikan.

Kenapa bisa ketergantungan?

Karena sejatinya kortikosteroid merupakan senyawa yang diproduksi di dalam tubuh. Saat kita mengonsumsi obat kortikosteroid, maka secara otomatis produksi kortikosteroid dalam tubuh berkurang. Dengan demikian, saat penggunaan obat dihentikan tiba-tiba tanpa berkonsultasi pada dokter atau apoteker, tubuh akan memberikan respon akan kekurangan kortikosteroid di dalam tubuh, di antaranya badan terasa pegal-pegal atau tidak enak badan. Akibatnya, sebagian besar orang akan ketergantungan terhadap obat ini.

Apa saja efek merugikan itu?

Aksi farmakologi pada sistem yang lebih tinggi dibandingkan AINS menyebabkan kortikosteroid memiliki efek samping yang beragam. Efek imunosupresif merupakan salah satu efek samping yang sangat serius pada penggunaan obat kortikosteroid dalam pemakaian jangka panjang sebab kerja obat ini terus menekan sistem imum sehingga kekebalan tubuh menjadi menurun dan rentan terserang penyakit dan juga dapat menyebabkan infeksi.[4]

Efek samping lain dari penggunaan obat ini antara lain pada tulang dapat terjadi osteoporosis, pada kelenjar hormon dapat mensupresi adrenal, di dalam darah dapat terjadi peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia) dan kadar lemak dalam darah karena gangguan metabolisme lemak (dislipidemia), penyakit jantung, syndrome Cushing, serta gangguan kejiwaan. Karena metabolisme lemak yang terganggu, dapat terjadi pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu seperti wajah, bahu, dan perut sehingga kita mengenal adanya moon-face sebagai efek samping kortikosteroid.[4,6]

Kortikosteroid pun dapat menghambat pertumbuhan janin di dalam kandungan dan dapat mensupresi kelenjar adrenal bayi pada ibu hamil. Oleh karenanya obat ini digolongkan ke dalam kategori C bahkan X dalam penggolongan obat untuk ibu hamil.[4]

 

Jadi, masih mau pakai “obat dewa” ini tanpa resep dokter? 

“Mari kenali obat yang Anda konsumsi saat ini. Tanya obat, apoteker ahlinya!”

 

Referensi :

1.       Brophy, K. M., Scarlett-Ferguson, H., Webber, K. S., Abrams, A. C., & Lammon, C. B. 2010. Corticosteroids. In: Clinical drug therapy for Canadian practice. Lippincott Williams & Wilkins.

2.       http://www.doktermuslimah.com/2013/02/obat-golongan-nsaid-non-steroidal-anti.html

3.       Liu, D., Alexandra A., Leanne W., Preetha K., Efrem D., Richard L., Jacques P., Albert C., and Harold K. 2013. A practical guide to the monitoring and management of the complications of systemic corticosteroid therapy. Allergy, Asthma & Clinical Immunology 9:30

4.       Stanbury, M, and Elizabeth M. 1998. Systemic corticosteroid therapy—side effects and their management. Br J Ophthalmol 82:704-708.

5.       Mayo Clinic. 2015. Prednisone and Other Corticosteroids. http://www.mayoclinic.org/steroids/art-20045692 (Accessed July 24th, 2016)

6.       Ikawati, Zullies. 2008. Obat bisa bikin keropos tulang?. https://zulliesikawati.wordpress.com/tag/golongan-kortikosteroid/ (diakses pada tanggal 20 September 2016)

 

 


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.