Herbal Episode 3 : Kunyit

Oleh: Muh Imadudin Siddiq, S. Farm

 

Siapa sih yang tidak mengenal kunyit? Salah satu bumbu dapur yang wajib ada di setiap rumah di Indonesia. Kunyit telah menjadi salah satu bumbu dalam khazanah kuliner nusantara. Rimpang yang berwarna kuning ini selain berfungsi sebagai pewarna bagi beberapa jenis makanan, penghilang bau amis, serta tak lupa sebagai bahan tambah pada minuman tradisional.

Disisi lain, ternyata kunyit memiliki efek yang baik untuk kesehatan juga loh! Bahkan di negara-negara Asia kunyit secara tradisional secara turun temurun sebagai obat tradisional. Kunyit sebagai tanaman herbal dari keluarga rimpang-rimpangan ini diketahui mengandung senyawa kurkumin yang berefek secara farmakologi. Kunyit dengan nama latin Curcuma longa atau Curcuma domestica mengandung senyawa kurkumin yang memiliki beragam manfaat secara medis, Yuk kita cari tahu lebih dalam manfaat dari tanaman kunyit ini!

 

Berikut manfaat dan khasiat dari kunyit :

1. Anti nyeri

Sebuah penelitian yang membandingkan antara kunyit dengan ibuprofen, diketahui memiliki efek anti nyeri yang serupa. Namun, obat NSAID cepat dalam mencapai efek kerja, termasuk obat yang terbaik dalam menghilangkan rasa nyeri setelah satu jam dikonsumsi, tetapi memiliki efek buruk pada gastrointestinal.

Sistematik review dan meta analisis memberikan bukti bahwa penggunaan ekstrak kunyit terstrandardisasi (ekstrak kurkumin 1000 mg/hari) selama 8-12 minggu dapat menurunkan gejala pada artritis seperti rasa nyeri dan bengkak. Efek perbaikan dari kurkumin ini serupa dengan obat ibuprofen ataupun natrium diklofenak. Sehingga, ekstrak kunyit dan kurkumin dapat menjadi rekomendasi untuk gejala pada arthritis khsusunya osteoarthritis. Tentu dengan kombinasi dengan enhancer seperti senyawa piperin dalam merica. (Kimberly et al., 2016).

 

2. Sindrom metabolik

Efek antiinflamasi pada kurkumin tidak hanya pada arthritis tapi lebih dari itu juga berkhasiat pada inflamasi secara sistemik, seperti resistensi insulin, hiperglikemia, hipertensi, dan hiperlipidemia, serta obesitas.

Kurkumin dari beragam studi telah memperlihatkan dapat meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan kerja adipogenesis (pembentukan sel adiposa/lemak), menurunkan peningkatan tekanan darah, menurunkan inflamasi, dan oksidatif stress sebagai antioksidan (Susan and Douglas, 2017).

 

3. Antioksidan

Kurkumin yang dikandung pada kunyit memperlihatkan marker sistemik dari stress oksidatif. Hal ini memiliki efek sebagai antioksidan yang ditandai dengan peningkatan serum superoksida dismutase (SOD).  Kurkurim juga berefek pada radikal bebas yang memiliki beberapa mekanisme berbeda. Kurkumin berefek seperti vitamin E (Susan and Douglas, 2017).

 

4. Hepatoprotektor

Kurkumin juga diketahui memiliki efek sebagai hepatoprotektor atau sebagai agen yang dapat mencegah terjadinya kerusakan liver (hati) secara lebih lanjut. Proses kerusakan liver ini ternyata dipengaruhi oleh proses stres oksidatif yang disebabkan oleh adanya berbagai penyebab, seperti konsumsi alcohol, obat, infeksi virus, polusi lingkungan, dan makanan. Selanjutnya, kerusakan hati ini secara lebih lanjut dapat berakhir menjadi sirosis hati.

Senyawa kurkumin pada kunyit ini ternyata diketahui memiliki efek farmakologis memproteksi hati dari kerusakan lebih lanjut yang berhubungan dengan proses stress oksidatif tersebut. Sehingga kerusakan hati yang umumnya juga disebabkan oleh adanya proses inflamasi pada jaringan hati dapat dikurangi (Farzaei M. H., et al., 2018).

 

5. Anti-Inflamasi

Inflamasi atau sederhananya pembengkakan pada suatu jaringan tubuh kita salah satunya disebabkan adanya aktivitas stress oksidatif yang menyebabkan penyakit kronis. Inflamasi ini dimediasi oleh beragam mediator inflamasi seperti TNF-α yang selanjutnya mengaktivasi beragam sitokin proinflamsi. Senyawa kurkumin diketahui beefek dengan menurunkan pada jalur pembentukan TNF-α sehingga proses inflamasi dapat berkurang sehingga dapat berpotensi sebagai agen anti-inflamasi (Susan and Douglas, 2017).

 

6. Orang Sehat

Manfaat kurkumin pada kunyit juga dapat digunakan pada orang sehat. Konsumsi kurkumin pada orang dewasa sehat berumur 40-60 rahun yang mengkonsumsi 80 mg/hari selama 4 minggu diketahui memperlihatkan penurunan kadar trigliserida namun tidak pada total kolesterol, LDL, atau HDL. Pada orang yang letih dan lelah setelah beraktivitas cukup tinggi seperti berolahraga dan kerja dengan aktivitas fisik yang tinggi, penggunaan kurkumin berkhasiat untuk mempercepat waktu recovery dari kelelahan serta meningkatkan kekuatan saat aktivtias fisik (Susan and Douglas, 2017).

 

Simpulan

Singkatnya, tanaman kunyit ini memiliki beragam manfaat secara kesehatan. Beragam obat herbal  berasal dari tanaman kunyit yang mengandung senyawa kurkuminoid ini pun telah lulus uji US Food and Drug Administration (FDA) dikatakan bahwa, “Secara umum diketahui aman”, dengan nilai toleransi yang baik dan aman pada uji klinis (uji pada manusia) bahkan hingga dosis antara 4000-8000 mg/hari.

Kurkumin sudah lama diketahui aman. Selain data dari US FDA, juga dari The Joint United Nations and World Health Organization Expert Commiteee on Food Additives (JECFA) dan Eropean Food Safety Authority (EFSA) melaporkan, konsumsi perhari yang diperbolehkan untuk kurkumin adalah 0-3 mg/kgBB.

Namun, efek samping dari beberapa studi memperlihatkan konsumsi kurkumin yang diberikan dengan dosis 500-12.000 mg selama sehari, pada 72 jam setelahnya mengalami diare, pusing, feses kuning. Pada studi lain juga telah dilaporkan konsumsi kurkimin dengan dosis 0,45-3,6 g/hari, satu dari empat bulan penggunaan, dilaporkan mengalami diare (Susan and Douglas, 2017).

Namun, permasalahan yang mengemuka pada tanaman herbal kunyit (Curcuma longa) serta turunan nya adalah adalah bioavailabilitas yang rendah. Dalam ilmu kefarmasian, bioavailabilitas adalah suatu perhitungan berapa kadar obat yang masuk hingga pembuluh darah. Artinya, tidak sejumlah obat yang kita konsumsi dapat masuk seluruhnya ke pembuluh darah kita, disebabkan salah satunya adanya proses metabolisme obat dalam tubuh.

Misalkan, kita mengkonsumsi suatu obat “X” yang kadarnya 500 mg, namun kadar obat dalam darah setelah konsumsi obat tersebut hanya sekitar 300 mg. Maka, bioavailabilitas obat tersebut adalah 0,75. Sehingga, bila tidak dilakukan sebuah modifikasi baik secara bentuk sediaan atau metode konsumsi sebanyak apapun mengkonsumsi kunyit, namun efeknya tidaklah berpengaruh besar.

Maka, pada kasus kunyit ini, dengan bioavailabilitas kunyit sangat rendah, selain modifikasi bentuk sediaan, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengkonsumsi ekstrak kunyit bersama dengan herbal yang dapat meningkatkan bioavailabilitas kunyit, salah satunya adalah black paper (merica) yang mengandung senyawa piperin, yang ternyata dari hasil studi menunjukan dapat meningkatkan bioavailabilitas sebesar 200%. Sehingga disarankan, konsumsi kunyit yang bertujuan untuk kesehatan pemberian nya dibarengi dengan konsumsi merica (Susan and Douglas, 2017).

Alhasil, kurkmin telah memiliki beragam keuntungan pada kesehatan, yang utamanya sebagai antioksidan dan anti inflamasi. Namun, keuntungan itu didapatkan dengan kombinasi kurkumin dengan senyawa lain, seperti piperin yang ada pada black paper (merica). Lebih dari itu, konsumsi dosis rendah pada orang sehat pun menunjukan efek yang baik [].

 

Daftar Pustaka

Kimberly P., William S., and Rober D. R., 2016. Efficacy of Curcuma for trearment of Osteoarthritis. Journal of Evidence-Based Complementary & Alternative Medicine. 1-10.  

Susan J. H., and Douglas S. K., 2017. Kurkumin: A Review of It’s Effect on Human Health. Journal Foods [6]: 92.

Farzaei M. H., Mahdi Z., Fatemeh P., Fardous F. E., Ilias M., Ericsson C. B., Rozita N., Seyed M. N., Roja R., and Mohammad A., 2018. Kurkumin in Liver Disease: A Systematic Review of the Cellular Mechanisms of Oxidative Stress and Clinical Perspective. Journal Nutrient. [10]: 855.


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.