Oleh : Muhammad Imadudin Siddiq, S.Farm

Teman-teman tahu bawang putih? Bukan cerita konflik bawang putih dan bawang merah itu loh ya! hehe. Tapi, tentang tanaman bawang putih. Itu loh, salah satu bumbu yang biasa ada di dapur rumahmu.

Bawang putih (Allium sativum L) merupakan salah satu dari tanaman herbal yang secara serius dan banyak diteliti oleh Para Ilmuan Dunia selama beberapa tahun terakhir. Tahukah kalian bahwa Bawang Putih ini adalah “The Best Selling” di produk herbal! Dan selama satu abad ini, merupakan obat tradisional yang paling sesuai dengan efek kesehatan nya loh. Menarik, bukan?  Yuk, kita cari tahu lebih tentang bawang putih ini!

 

Sejarah Bawang Putih

Penggunaan bawang putih ternyata sudah sejak dulu telah digunakan dalam bidang kesehatan. Disinyalir bawang putih ini pertama kali ditemukan oleh orang-orang mesir kuno, sekitar tahun 3700 SM. Bahkan, sejak tahun 1550 SM sudah digunakan sebagai bahan tambahan pangan yang sangat bernilai.

Bangsa Romawi pun telah memanfatkan bawang putih dalam bidang kesehatan. Mereka memanfaatkan dengan cara mengunyahnya agar para pekerja dan para tentara kuat ketika bekerja atau berperang, bahkan ada juga anggapan bawang putih dapat menjadi penawar terhadap bisa ular yang mematikan. Bahkan, di Afrika, Para nelayan biasa melumuri badan mereka dengan ekstrak bawang putih yang dipercaya dapat mencegah mereka dari serangan buaya.

Hingga hari ini, bawang putih telah banyak diteliti dan diketahui bahkan diketahui varietas bawang putih telah mencapai 300 varietas di seluruh dunia. Singkatnya, bawang putih adalah herbal dengan beragam efek yang begitu kompleks.

 

Kandungan Bawang Putih

Bawang putih memilik beragam kandungan yang membuat ia memiliki beragam efek terhadap kesehatan manusia. Tercatat, ada sekitar 2000 senyawa aktif yang memiliki efek biologis bagi tubuh manusia, mulai dari senyawa volatile, senyawa yang larut air, bahkan senyawa yang larut dalam minyak, gula 32%, flavonoid, pektin, dan juga senyawa organik yang mengandung sulfur seperti allin dan scordinin A dan B.

Selain itu bawang putih juga mengandung, vitamin C, vitamin B1, provitamin dan mineral. Seperti kalium, magnesium, dan juga selenium dan germanium. Yang mana, mineral seperti selenium dan germanium diketahui berperan penting dalam mencegah pembelahan sel, sehingga memperlambat pertumbuhan sel kanker bahkan hingga merusak sel kanker.

 

Manfaat Bawang Putih bagi Kesehatan

Kolesterol

Konsumsi bawang putih ternyata membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Meningkatkan kolesterol baik, HDL dan menurunkan kolesterol jahat, LDL dan trigliserida, serta memperkuat jalur peredaran darah dan jantung.

Bawang putih secara signifikan dapat menurunkan aktivitas dari enzim HMG-CoA reduktase yang berperan dalam peningkatan kadar kolesterol sehingga berefek menurunkan kadar kolesterol, serta berefek pada proses pembentukan asam lemak.

Pada penelitian secara in vitro (penelitian yang dilakukan pada suatu sel atau organ) menunjukan, bawang putih memiliki efek anti-atherosklerotik, yaitu pencegah terjadinya penggumpalan lemak di jalur peredaran darah yang pada gilirannya dapat menyumbat aliran darah yang dapat berakibat fatal, seperti stroke dan serangan jantung.

 

Kanker

Pada studi terbaru menyatakan bahwa kandungan bawang putih memiliki aktivitas anti oksidan yang kuat dan senyawa sulfur yang dikandungnya memiliki aktivitas anti-tumor. Fraksi protein yang telah dipurifikasi dari bawang putih segar diketahui dapat mencegah pertumbuhan tumor lebih efektif ketika dibandingkan dengan ekstrak nya.

Konsumsi tinggi bawang putih diketahui dapat menurunkan resiko kanker prostat hingga 50 %. Senyawa diallyl trisulfida (DATS) dalam bawang putih berperan dalam proses antioksidan, anti-inflamasi, serta sebagai anti-karsinogenik. Senyawa turunan allium, S-allylmercaptosistein juga diketahui menginhibisi pertumbuhan tumor di paru dan kelenjar adrenal hingga 90%. Bahkan, penelitian terbaru, kombinasi penggunaan alliinase dengan obat kanker, rituximab memberikan efek yang bagus dengan efek toksik yang lebih rendah pada penyakit leukemia.  

Telah diketahui, bahwa selenium memiliki peran dalam mencegah pertumbuhan sel kanker. Ternyata, tanaman bawang putih merupakan tanaman seleniferus, yaitu tanaman yang menyerap dan menangkap mineral selenium dalam tanah, sehingga mineral selenium banyak dikandung oleh bawang putih.

 

Darah dan Jantung

Bawang putih telah diketahui secara signifikan berefek pada sistem kardiovaskular. Seperti meningkatkan keseimbangan kadar lemak, berefek pada tekanan darah, dan menginhibisi terjadinya penggumpalan darah sebagai anti-platelet, antioksidan.

Bawang putih juga berpotensi sebagai protektor jantung pada gangguan, infraksi miokardial, aritmia, hipertropy, serta iskemia reperfusi. Bawang putih berperan dengan menginduksi senyawa endogen yang berperan sebagai antioksidan pada jantung dan menurunkan peroksidasi lemak yang menghasilkan senyawa oksidan yang merusak.

 

Infeksi Bakteri, Jamur, Parasit, dan Virus

Studi in vitro menunjukan bawang putih memiliki aktivitas terhadap bakteri gram negartif maupun gram positif, yaitu : Escherichia, Salmonella, Staphylococcus, Streptoccocus, Klebsiella, Proteus, Bacillus, Clostridium dan Mycobacterium tuberculosis. Secara in vitro memiliki aktivitas terhadap infeksi bakteri Helicobacter pylori. Studi in vitro memang belum lah cukup memberikan bukti yang kuat jika digunkan pada manusia. Tetapi setidaknya dapat memberikan gambaran bahwa bawang putih memiliki efek yang beragam.

Bawang putih juga memiliki efek antibakteri disebabkan kandungan allicin dan adanya senyawa yang memiliki allyl grup yang berefek sebagai antimikroba sebagai turunan sulfide seperti DADS, DAD, DATS. Sifat unik dari allicin adalah dengan kemampuan nya mencegah terjadinya resistensi bakteri yang banyak terjadi.

Pada penggunaan topical, minyak bawang putih dapat digunakan untuk penyakit tinea pedis, tinea cruris, serta menghilangkan kapalan. Secara in vitro memperlihatkan bawang putih memiliki aktivitas antiviral pada beberapa tipe virus, seperti, cytomegalovirus, virus influenza B, virus herpes simplex tipe 1 dan 2, parainfluenza tipe 3 dan virus human rhinovirus tipe 2. Serta, bawang putih berperan sebagai agen yang baik untuk membunuh cacaing dalam tubuh manusia dengan mengeluarkan parasite dari saluran pencernaan.

 

Efek Samping yang Harus Diperhatikan

Perdarahan

Bawang putih memiliki aktivitas sebagai antiplatelet yang dapat meningkatkan resiko perdarahan. Hal ini semakin meningkat jika dalam waktu yang bersamaan kita mengkonsumsi obat antikoagulan atau antiplatelet seperti obat aspirin, clopidogrel, ticlopidine, dipirdamol, heparin, dan warfarin. Karena memiliki efek antiplatelet, bawang putih harus diberi jeda pada pasien 1-2 minggu sebelum dilakukannya tindakan operasi. Bahkan, perdarahan yang lama mengering pernah dilaporakan pada luka saat mencukur brewok.  

 

Aktivitas Sitokrom

Suplementasi bawang putih yang mengandung allicin dapat menurunkan aktivitas dari sitokrom, yaitu suatu senyawa yang berperan untuk memetabolisme obat yang masuk dalam tubuh, sehingga efek tersebut dapat meningkatkan atau menurunkan konsentrasi obat dalam tubuh yang pada gilirannya dapat membuat efek toksik atau tidak berefeknya obat yang kita konsumsi.

Didapatkan data bahwa, penggunaan allicin dengan beberapa obat perlu dilakukan perhatian ekstra, seperti obat protease inhibitor, cyclosporine, ketoconazole, itraconazole, glukortikoid, kontrasepsi oral, verapamil, diltiazem, lovastatin, simvastatin, atorvastatin.

 

Gangguan Pencernaan dan Alergi

Beragam studi telah menjelaskan efek yang merugikan juga terjadi pada saluran pencernaan, seperti nyeri perut, kehilangan nafsu makan, bau mulut yang tidak sedap serta tidak disarankannya penggunaan bawang putih pada pasien dengan gastroenteritis (adanya infeksi pada saluran pencernaan).

Selain itu, reaksi alergi juga dikabarkan muncul seperti, alergi dermatitis, urtikaria, angioedema, bahkan hingga syok anafilaktik, alergi terhadap cahaya. Sehingga tidak direkomendasikan penggunaan bawang putih pada kulit dengan baju yang mudah terpapar cahaya karena dapat menyebakan terbakarnya kulit.

 

Diabetes Melitus

Pasien dengan riwayat diabetes mellitus perlu dipantau ketat ketika penggunaan suplementasi bawang putih, terlebih pada terapi insulin. Hal ini dapat berakibat pada jatuhnya kadar gula dalam darah (hipoglikemia).

 

Lain-lain

Bawang putih tidak direkomendasikan pada pasien dengan batuk dan demam akibat pneumonia. Harus dihindari pula untuk pasien dengan gangguan inflamasi pada ginjal. Penggunaan dosis tinggi bawang putih dan turunan nya adalah berbahaya, terlebih pada pasien anak-anak, dan tidak diberikan pada anak dibawah 10 bulan. Bawang putih dengan jumlah yang banyak juga perlu dihindari dari ibu hamil dan ibu yang sedang menyusui karena dapat berefek buruk pada hippocampal neurogenesis, dan fungsi neurocognitive bayi.  

 

Kesimpulan

Pada beberapa tahun belakangan ini, penelitian tentang bawang putih mulai banyak dilakukan, baik secara pre-klinik (uji non manusia) dan klinik (uji terhadap manusia). Beragam studi ini ingin mencari tahu efek protektif dari bawang putih terhadap beragam gangguan penyakit, khususnya penyakit jantung dan kanker. Dan ada yang menarik, bahwa banyak efek baik yang ditimbulkan karena suatu senyawa bernama allicin yang dikandung oleh bawang putih. Baik yang berefek pada kardiovaskular, kanker, gangguan liver, peningkat sistem imun, serta yang lainnya. Walaupun, senyawa lain pun memiliki efek baik yang beragam pula. Namun, disamping efek baik dari bawang putih, adapula efek yang perlu kita ketahui karena dapat berakibat fatal, seperti penggunaan pada kondisi-kondisi tubuh tertentu, interaksi dengan obat-obat tertentu. Alhasil, bawang putih memiliki beragam manfaat menarik untuk tubuh namun sudah seharusnya kita tetap belajar dan berhati-hati dengan menjadi pengguna yang cerdas pada penggunaan setiap  herbal atau produk herbal.

 

Daftar Pustaka

1.       Arditti F.D., Rabinkov A., Miron T., Reisner Y., Berrebi A., Wilchek M., Mirelman D.: Apoptotic killing of B-chronic lymphocytic leukemia tumor cells by allicin generated in situ using a rituximab-alliinase  onjugate. Mol Cancer Ther 2005;4(2):325-331.

2.       Borrelli F., Capasso R., Izzo A.A.: Garlic (Allium sativum L.): adverse effects and drug interactions in humans. Mol Nutr Food Res 2007;51(11):1386-1397.

3.       Casella S., Leonardi M., Melai B., Fratini F., Pistelli L.: The role of diallyl sulfides and dipropyl sulfides in the in vitro antimicrobial activity of the essential oil of garlic, Allium sativum L., and leek, Allium porrum L. Phytother Res 2013;27(3):380-383.

4.       Druesne-Pecollo N., Latino-Martel P.: Modulation of histone acetylation by garlic sulfur compounds. Anticancer Agents Med Chem 2011;11(3):254-259.

5.       Fashner J., Ericson K., Werner S.: Treatment of the common cold in children and adults. Am Fam Physician 2012;86(2):153-159.

6.       Goncagul G., Ayaz E.: Antimicrobial effect of garlic (Allium sativum). Recent Pat Antiinfect Drug Discov 2010;5(1):91-93.

7.       Ho B.E., Shen D.D., McCune J.S., Bui T., Risler L., Yang Z., Ho R.J.: Effects of Garlic on Cytochromes P450 2C9- and 3A4-Mediated Drug Metabolism in Human Hepatocytes. Scientia Pharmaceutica 2010;78(3):473481.

8.       Howard E.W., Ling M.T., Chua C.W.: Garlic-derived S-allylmercaptocysteine is a novel in vivo antimetastatic agent for androgen-independent prostate cancer. Clin Cancer Res 2007;13:1847– 1856.

9.       Iciek M.B., Kowalczyk-Pachel D., KwiecieĊ„ I., Dudek M.B.: The Effects of Different Garlic-derived Allyl Sulfides on Peroxidative Processes and Anaerobic Sulfur Metabolism in Mouse Liver. Phytother Res 2012;26(3):425-431.

10.   Ji S.T., Kim M.S., Park H.R., Lee E., Lee Y., Jang Y.J., Kim H.S., Lee J.: Diallyl disulfide impairs hippocampal neurogenesis in the young adult brain. Toxicol Lett 2013;221(1):31-38.

11.   Khatua T.N., Adela R., Banerjee S.K.: Garlic and cardioprotection: Insights into the molecular mechanisms. Can J Physiol Pharmacol 2013;91(6):448-458.

12.   Kim S.H., Bommareddy A., Singh S.V.: Garlic constituent diallyl trisulfide suppresses x-linked inhibitor of apoptosis protein in prostate cancer cells in culture and in vivo. Cancer Prevantion Resarch 2011;4(6):897-906.

13.   Kuo C.H., Lee S.H., Chen K.M., Lii C.K., Liu C.T.: Effect of garlic oil on neutrophil infiltration in the small intestine of endotoxin-injected rats and its association with levels of soluble and cellular adhesion molecules. J Agric Food Chem 2011;59(14):7717-7725.  

14.   Ledezma E., Apitz-Castro R.: Ajoene the main active compound of garlic (Allium sativum): a new antifungal agent. Rev Iberoam Micol 2006;23(2):75-80.

15.   Lee S.Y., Shin Y.W., Hahm K.B.: Phytoceuticals: mighty but ignored weapons against Helicobacter pylori infection. J Dig Dis 2008;9(3):129-139.

16.   O’Gara E.A., Maslin D.J., Nevill A.M., Hill D.J.: The effect of simulated gastric environments on the anti-Helicobacter activity of garlic oil. J Applied Micr 2008;104(5):1324-1331.

17.   Rai S.K., Sharma M., Tiwari M.: Inhibitory effect of novel diallyldisulfide analogs on HMG-CoA reductase expression in hypercholesterolemic rats: CREB as a potential upstream target. Life Sci 2009;85(5-6):211-219.  

18.   Reinhart K.M., Coleman C.I., Teevan C., Vachhani P., White C.M.: Effects of garlic on blood pressure in patients with and without systolic hypertension: a meta-analysis. Ann Pharmacother 2008;42(12):1766-1771.  Ried K., Frank O.R., Stocks N.P.: Aged garlic extract lowers blood pressure in patients with treated but uncontrolled hypertension: a randomized Controlled trial. Maturitas 2010;67(2):144-150.

19.   Shirzad H., Taji F., Rafieian-Kopaei M.: Correlation between antioxidant activity of garlic extracts and WEHI164 fibrosarcoma tumor growth in BALB/c mice. J Med Food 2011;14(9):969-974. 47

20.   Sobenin I.A., Andrianova I.V., Fomchenkov I.V., Gorchakova T.V., Orekhov A.N.: Time-released Garlic powder tablets lower systolic and diastolic blood pressure in men with mild and moderate arterial hypertension. Hypertens Res 2009;32(6):433-437.

21.   Sobenin I.A., Andrianova I.V., Fomchenkov I.V., Gorchakova T.V., Orekhov A.N.: Time-released Garlic powder tablets lower systolic and diastolic blood pressure in men with mild and moderate arterial hypertension. Hypertens Res 2009;32(6):433-437.


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.