Apa itu Vaksinasi?

Oleh: Nadiya Nurul Afifah, Apt

Vaksin merupakan salah satu tindakan preventif (pencegahan) penyakit. Vaksinasi sangat membantu untuk mencegah penyakit-penyakit infeksi menular baik karena virus atau bakteri, misalnya polio, campak, difteri, pertussis (batuk rejan), rubella (campak Jerman), meningitis, tetanus, Haemophillus influenza tipe B, dan hepatitis.

Cara kerja vaksin adalah dengan memicu sistem imun tubuh untuk memproduksi “antibodi”, yaitu zat dalam tubuh yang berfungsi untuk melawan zat asing yang masuk seperti virus dan bakteri (antigen). Oleh karenanya, vaksin mengandung antigen, diambil bagiannya atau keseluruhan dalam keadaan sudah dibunuh atau sangat lemah. Saat vaksin masuk ke dalam tubuh, antigennya tidak cukup kuat untuk menyebabkan gejala penyakit, namun sangat cukup untuk menghasilkan antibodi terhadap antigen tersebut. Dengan demikian, vaksinasi akan mengembangkan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit tertentu. Karena pada dasarnya pemberian vaksin adalah memberikan antigen pada tubuh, maka kondisi anak sebaiknya dalam keadaan sehat saat vaksinasi sehingga daya tahan tubuhnya optimal.

Vaksinasi pada anak, atau yang lebih dikenal dengan program Imunisasi Nasional adalah suatu program pemerintah yang ditujukan untuk mencegah penyakit yang mematikan terutama pada bayi dan anak, serta mencegah terjadinya wabah penyakit. 



Bagaimana cara membuat Vaksin? Siapa yang memroduksi?

 

Produksi vaksin merupakan proses yang rumit, terlebih saat konversi produk dari skala lab menjadi skala produksi. Tahapan pembuatan vaksin adalah sebagai berikut:

1.    Menyiapkan “benih” virus

Virus harus murni dari virus lain yang mirip atau tipe virus yang sama dengan virus penyebab penyakit. Benih ini harus dijaga pada kondisi yang ideal, biasanya dalam freezer, sehingga mencegah virus lebih kuat atau lebih lemah dari yang diinginkan.

 

2.    Penumbuhan virus

Benih virus kemudian ditumbuhkan dalam media yang sesuai sehingga virus bisa memperbanyak diri. Setiap virus memiliki media tumbuh yang spesifik. Pada media tersebut, terkandung senyawa organik lain yang mendorong reproduksi sel virus. Banyak faktor yang harus dipantau pada proses ini agar virus dapat berkembang dengan baik. Selanjutnya, virus dipisahkan dari medianya dan ditempatkan dalam medium kedua untuk pertumbuhan tambahan.

 

3.    Pemisahan dan pemilihan strainvirus

Bila virus yang tumbuh sudah cukup banyak, dilakukan pemisahan virus dengan medianya. Virus yang diperoleh dapat dilemahkan atau dibunuh. Contohnya virus rabies, karena sifatnya yang virulen maka virusnya dibunuh untuk dibuat vaksin. Sedangkan untuk vaksin dari virus yang dilemahkan, strainvirus dipilih secara hati-hati lalu ditumbuhkan berulang kali di berbagai media. Ada kriteria yang ditetapkan untuk memilih strain yang tepat untuk selanjutnya diproses menjadi vaksin, karena virus yang terlalu kuat atau lemah tidak dapat digunakan sebagai vaksin.

Produsen vaksin di Indonesia saat ini adalah Biofarma, GlaxoSmithKline, Novartis, Sanofi. Indonesia hanya memiliki satu BUMN yang memproduksi Vaksin dan Antisera, yaitu PT. Bio Farma. Selama 126 tahun pendiriannya, Bio Farma telah berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa, khususnya Indonesia. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Bio Farma untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam program Imunisasi Nasional. 

 

Bagaimana proses distribusi Vaksin, khususnya di Indonesia?

 

Bio Farma memiliki prosedur baku yg menjamin kualitas dan keamanan vaksin dalam proses pendistribusiannya. Untuk vaksin yang masuk dalam program pemerintah, distribusi dilakukan melalui jalur pemerintah. Barang dikirimkan langsung ke pemerintah Provinsi untuk disebarkan ke RSUD, Puskesmas, Posyandu, dan fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah lainnya. Sedangkan untuk Rumah Sakit swasta dan pihak swasta penyedia pelayanan vaksinasi, distribusi dilakukan melalui distributor resmi yg telah terkualifikasi, distributor resmi dengan mengimplementasikan cold chain yang konsisten dan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) sehingga terjaga kualitas, keamanan dan efektivitas. Selama pengguna (konsumen) mendapatkan vaksin Bio Farma dari kedua jalur resmi tersebut, maka keaslian, kualitas, keamanan dan keefektivitasan produk vaksin terjamin. 

Seberapa penting Vaksinasi untuk anak?

 

Ibu menurunkan antibody pada anak-anaknya. Namun, imunitas tersebut hanya berlangsung selama satu bulan sampai satu tahun. Setelah itu, anak harus berjuang sendiri melawan beberapa penyakit yang semestinya dapat dicegah dengan vaksin. Jika seorang anak tidak divaksinasi dan terkena kuman penyakit, daya tahan tubuh anak mungkin tidak cukup kuat untuk melawat penyakit tersebut.

 

Selain itu, vaksinasi dapat membantu individu lainnya untuk melindungi kesehatan masyarakat sekitar, terutama bagi orang-orang yang tidak/belum diimunisasi.

Vaksin yang direkomendasikan untuk anak dan masuk dalam Lima Imunisasi Lengkap yang merupakan program dari Pemerintah, terdiri dari vaksin BCG, Hepatitis B, DPT, Polio, dan Campak.

 

Apa itu Vaksin palsu?

 

Vaksin Palsu berarti bahan antigenik yang digunakan bukan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit, bahan Vaksin bukan berupa galur virus atau bakteri yang telah dilemahkan atau bukan berupa organisme mati atau bukan hasil pemurniannya. Vaksin Palsu bukan ditujukan untuk menstimulasi reaksi kekebalan bahkan bisa menimbulkan gejala, efek toksik (misalnya Vaksin tidak steril dan tidak bebas pyrogen), sampai kematian karena bahan Vaksin diisi dengan bahan obat lain melebihi kadar toksik minimal. Vaksin palus diproduksi tidak memenuhi standar dan syarat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), didistribusikan tidak memenuhi standar dan syarat CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik), dan digunakan dalam pelayanan yang tidak memenuhi standar dan syarat CPKB (Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik).

 

Apa bahaya dari Vaksin palsu?

 

Peredaran vaksin palsu yg terungkap ini bisa dibilang masalah di bidang kesehatan yg menimbulkan dampak yg besar apalagi peredaran vaksin tersebut dimulai dari 2003.
Dengan adanya peredaran vaksin palsu, sulit diketahui bagaimana status vaksin pd anak-anak Indonesia. harus ditelusuri selengkapnya dan secepatnya agar dapat dilakukan tindakan penyelesaian yg efektif.Sedangkan efek langsung terhadap pasien adalah;

1.    Pasien tidak mendapatkan kekebalan atau imunitas.Jadi pencegahan penyakit tidak terjadi sejak awal atau dini.

2.     Kalau produksi tidak steril dan tidak memenuhi standar dan syarat CPOB maka sangat berbahaya, karena bisa menyebabkan gangguan demam, mudah terserang infeksi bakteri, virus, dan penyakit lainnyayang diakibatkan karena imunitas tergantung jenis vaksin, gangguan fungsi organ, cacat, bahkan kematian.

3.     Kasus Vaksin Palsu menurut pengakuan pelaku, dibuat dan diisi dengan gentamisin, suatu antibiotik yang berfungsi untuk terapi membunuh bakteri yang menyebabkan penyakit infeksi seperti meningitis, darah, paru, saluran cerna, saluran kencing, kulit, tulang. Efek samping gentamisin mulai dari mual, muntah, pusing, diare, gatal, gangguan pernafasan, bisa terjadi pada dosis pemakaian normal sebagai injeksi. Masalah lebih lanjut bisa berbahaya tergantung dosis dalam setiap volume yang diberikan pada bayi yang diimunisasi. Gentamisin yang berbahaya bukan sedikitnya volume yang disuntikkan ke bayi tetapi dosis diberikan dari konsentrasi berapa yang ada dalam sediaan vaksin, sebagai contoh, gentamisin 40 mg/ml, maka setiap ml mengandung 40 mg gentamisin. Bagaimana nasib gentamisin di dalam tubuh anak atau bayi? Profil farmakokinetika gentamisin dalam konsentrasi rendah saja bisa didistribusikan ke ASI dengan cepat, apalagi pada anak fungsi ginjal belum sempurna sehingga waktu paruh gentamisin menjadi lebih panjang, dampaknya gentamisin sukar diekskresi dan bisa jadi kadar gentamisin bisa melebihi konsentrasi toksik minimal dan menyebabkan nefrotoksisitas. Belum kondisi lain yang bisa memperparah.

 

Bagaimana cara membedakan vaksin asli dan palsu?

 

Cara paling mudah dengan melihat dan identifikasi penandaan dan kemasan vaksin/produk biologi. Siapa yang kompeten dan punya kewenangan? Apoteker, terutama di bagian pengadaan di apotek, klinik, RS, Puskesmas atau di sarana kesehatan resmi.

Caranya :

1.     Perlu diperhatikan korelasi tahun produksi pada nomer bets dengan tanggal kadaluwarsa produk.Dua digit terakhir pada nomor bets menunjukkan tahun produksi. Juga tutup vial berwarna abu-abu, contoh pada produksi vaksin Biofarma.

2.    Kualitas kemasan warna dan hurufproduk asli terlihat sangat jelas, produk palsu berwarna pudar.

3.    Letak HET(Harga Eceran Tertinggi) tertempel pada vial dan khusus produk Vaksin Sanofi di atas tulisan Sanofi Pasteur, tidak ditemukan pada Vaksin palsu.

4.     Perbedaan penulisan koding Manuf.Date/tanggal produksi.

5.    Harga Vaksinpalsu sangat murah dan obral diskon bisa lebih dari 10%.

6.     Paling penting, produk Vaksin asli bisa ditelusur dan ditanyakan keberadaan faktur pembeliandari apotek, klinik, RS, Puskesmas atau sarana kesehatan berijin menggunakan surat pesanan asli ditujukan ke Pedagang Besar Farmasi yang resmi/legal yang akan mengeluarkan Faktur pengiriman bernomor PBF kepada pemesan atau pembelian bisa melalui e-katalog. Tanya Vaksin asli, Tanyakan kepada Apoteker.

 

Bagaimana pendapat Apoteker terkait hal tersebut?

 

Menurut Apoteker Reza Arie Yanuar –Direktorat Pemasaran PT. Bio Farma, sebagai apoteker kita harus bisa menjadi bagian dari solusi. Saat konsolidasi dilakukan tanpa mengundang apoteker, bukan berarti kita tidak dapat menjadi bagian dari solusi. Apoteker dan IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) harus tetap berkontribusi dalam mencari informasi dan mengevaluasi, bagaimana profesi apoteker dapat memberikan peranan untuk mencegah kasus ini terulang. Bukannya malah menjadi malah bagian dari pelaku. Secara pribadi saya belum mengetahui keterlibatan apoteker dalam pembuatan vaksin palsu, namun dalam sebuah jaringan, ada pembuat, distribusi, dan penjual. Dalam jaringan tersebut kemungkinan ada apoteker yang ikut berperan. 

Sedangkan menurut Apoteker Ipang Djunarko, M.Sc., Vaksin palsu sudah merupakan kejahatan kemanusiaan luar biasa kejam berikut dampaknya, bahkan bisa disebut BIOTERORISME. Siapapun yang mengaku sebagai Apoteker Indonesia harus peduli dan ikut berperan serta menyelesaikan masalah kejahatan kemanusiaan yang luar biasa ini. Semua harus ambil peran sesuai kapasitas masing-masing di manapun Apoteker berada dan melaksanakan praktek kefarmasian. Harus menjadi kewajiban Apoteker Indonesia menjunjung tinggi kesehatan seluruh masyarakat dan masa depan bangsa Indonesia.

 

Bagaimana respon pemerintah terkait hal tersebut?

 

Kemenkes menanggapi kasus vaksin palsu yang telah menjadi perbincangan publik. Masyarakat dihimbau untuk tidak perlu cemas atas adanya berita ini. Penjelasan mengenai vaksin palsu dan himbauan pemerintah tersebut dapat dilihat dalam laman websiteKementerian Kesehatan RI. Beberapa alasan diantaranya adalah poin penjaminan keamanan keaslian vaksin; 

1.     Jika anak Anda mendapatkan imunisasi di Posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah, vaksin disediakan oleh Pemerintah yang didapatkan langsung dari produsen dan distributor resmi. Jadi vaksin dijamin asli, manfaat dan keamanannya.

2.     Jika anak Anda mengikuti program Pemerintah yaitu Imunisasi Dasar Lengkap diantaranya Hepatitis B, DPT, Polio, Campak, BCG; pengadaanya oleh Pemerintah didistribusikan ke Dinas Kesehatan hingga ke fasyankes. Jadi dijamin asli, manfaat dan keamanannya.

 

Bicara barang palsu, barang apa sih yang tidak dipalsukan? Sepanjang punya nilai ekonomi, motif bisnis dan manusia bermental curang, apa saja dipalsukan. Demikian juga vaksin, tak luput dari pemalsuan. Sikapi saja dengan hati-hati dan tenang tanpa khawatir berlebihan. (Kemenkes RI, 2016)

 

Press ReleasePT. Bio Farma terkait Vaksin Palsu dapat dilihat selengkapnya di: http://www.biofarma.co.id/en/featured-news/penjelasan-bio-farma-terkait-vaksin-palsu/

Penjelasan mengenai vaksin palsu dari Kementerian Kesehatan RI selengkapnya dapat dilihat di: 

http://binfar.kemkes.go.id/2016/06/7-alasan-tidak-perlu-khawatir-atas-berita-vaksin-palsu/

 

Narasumber artikel:

Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt. – Guru besar farmakologi dan farmasi klinik Universitas Gadjah Mada

Reza Arie Yanuar, S.Farm., Apt. – Direktorat Pemasaran PT. Bio Farma

Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. - Pengurus Pusat IAI staf bidang Lembaga Akreditasi Mandiri PT. Kesehatan, dan Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

 

 


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.