Oleh : Septyani Rahayu, Apt.

Inhaler merupakan alat kesehatan yang sangat membantu pasien dengan keluhan sesak napas seperti pada penyakit asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau bronkitis. Inhaler merupakan alat inhalasi yang membantu penggunaan obat agar obat dapat sampai ke paru-paru secara langsung. Obat yang dipakai dalam inhaler adalah obat dalam bentuk aerosol yang membuat obat bekerja lebih cepat dan relatif lebih aman dari efek samping dibandingkan obat yang diminum karena bekerja secara langsung ke saluran napas dan paru-paru. Aerosol adalah bentuk obat seperti kabut tipis, dimana obat terdispersi (tersebar) dalam zat gas. Oleh karena itu, kita dapat menghirup obat menggunakan inhaler.1,2,3,4

Terdapat tiga jenis inhaler berdasarkan kandungan obatnya, yaitu inhaler yang bekerja cepat untuk meredakan gejala sesak napas, inhaler yang bertujuan sebagai penanganan untuk mencegah timbulnya sesak napas kembali, dan inhaler kombinasi keduanya. Contoh obat untuk inhaler jenis pertama yaitu albuterol/salbutamol, procaterol, fenoterol merupakan obat golongan beta 2 agonis aksi cepat. Sedangkan obat untuk inhaler jenis kedua yaitu golongan beta 2 agonis aksi panjang seperti salmeterol atau formoterol, golongan kortikosteroid seperti fluticasone, budesonide, dan golongan antikolinergik seperti ipratropium bromida. Obat golongan beta 2 agonis dan obat golongan antikolinergik menyebabkan saluran napas melebar sehingga meredakan gejala sesak napas, sedangkan obat golongan kortikosteroid mengurangi peradangan pada saluran napas.5

Secara umum, terdapat 4 jenis inhaler yaitu metered dose inhaler, dry powder inhaler, nebuliser, dan soft mist inhaler.4  

1.       Metered dose inhaler (MDI)

MDI terbuat dari bahan plastik, terdiri atas tempat untuk canister (wadah obat) dan mouthpiece (tempat menyimpan mulut untuk menghirup inhaler). Canister MDI mengandung obat serta propelan (contohnya hidrofluoroalkane/HFA) yaitu zat gas yang membantu obat dapat terdispersi menjadi aerosol. Canister MDI ini bertekanan sehingga di dalam canister, obat dan propelan berada dalam bentuk cairan. Ketika canister ditekan, MDI mengeluarkan propelan dan obat dalam bentuk semprotan aerosol dengan dosis yang sama disetiap semprotannya karena terdapat metering valve pada inhalernya. MDI disarankan dihirup dengan napas yang pelan dan dalam.1,4,5

MDI merupakan inhaler paling umum dan disukai karena ukurannya kecil sehingga mudah dibawa. Kekurangannya dibutuhkan ketepatan waktu penekanan inhaler dengan dihirupnya obat dari inhaler dan apabila teknik menghirupnya kurang tepat maka bisa saja obat tidak sampai seluruhnya ke paru-paru, hanya sampai ke saluran napas. MDI juga dapat digunakan dengan bantuan alat bernama spacer atau valves holding chamber (VHC) yang bisa memperlambat geraknya aerosol, terutama untuk pasien yang kesulitan dengan cara pemberian inhalasi seperti pada pasien anak dan lansia. Dengan penggunaan spacer/VHC, tidak dbutuhkan ketepatan waktu antara penekanan inhaler dan dihirupnya inhaler tetapi obat tetap dapat mencapai paru-paru secara maksimal.1,3,4

Contoh merk dagang: Ventolin inhaler, Atrovent Inhaler

2.                   Dry powder inhaler (DPI)

DPI mengandung obat dalam bentuk kapsul terpisah atau serbuk di dalam disk/cartridge/blister dan tidak mengandung propelan. DPI ini menjadi solusi dari permasalahan MDI yang butuh ketepatan waktu antara menekan inhaler dengan inhalasinya. Oleh karena itu DPI juga dikenal sebagai breath-actuated inhaler yaitu inhaler dimana obat dilepaskan hanya saat kita bernapas dengan cepat dan dalam melalui inhaler (inhalasi) tanpa perlu menekan inhaler karena obat hanya dapat menjadi aerosol dengan bantuan udara dari inhalasi. DPI juga bersifat lebih stabil karena bentuk obatnya berupa zat padat1,4,5

Pada DPI terdapat cara untuk menyiapkan dosis obat sebelum digunakan, berdasarkan cara-cara inilah ada beberapa jenis DPI yaitu seperti Diskus inhaler atau Accuhaler, Turbuhaler, Handihaler, Diskhaler, Twisthaler, Flexhaler, Aerolizer. DPI tidak perlu digunakan bersama alat spacer. Kekurangan DPI adalah tidak cocok untuk pasien yang sudah mengalami kesulitan bernapas parah. Selain itu DPI harus dijaga agar tidak lembab, agar saat dihirup tidak ada obat yang menempel di DPI.1,5

Contoh merk dagang: Advair diskus inhaler, Seretide accuhaler, Symbicort turbuhaler, Spiriva handihaler, Serevent diskhaler, Asmanex twisthaler, Pulmicort flexhaler, dan Foradil aerolizer.

3.                   Nebuliser

Nebuliser adalah alat kesehatan dimana terdapat mesin yang mengubah obat dalam bentuk cairan menjadi bentuk obat aerosol. Cairan obat ini ada yang perlu diencerkan, ada juga yang tidak. Pengencer yang biasa digunakan yaitu larutan NaCl 0.9% steril. Dosis obat yang digunakan pada nebuliser lebih tinggi daripada dosis obat yang biasa digunakan pada inhaler. Nebuliser digunakan dengan mengalirkan obat aerosol tersebut melalui mouthpiece atau masker agar dapat dihirup oleh penggunanya. Kelebihan nebuliser adalah tidak mengandung propelan, menguntungkan bagi pasien yang sulit menggunakan MDI/DPI (seperti pasien anak, lansia, atau pasien yang sedang tidak sadarkan diri), mudah digunakan, dan tidak memerlukan napas yang dalam untuk menghirup obat. Kekurangannya adalah dibutuhkan waktu relatif lebih lama daripada menggunakan obat pada inhaler, relatif lebih mahal, dan membutuhkan arus listrik. Nebuliser bervariasi bentuk dan ukurannya tapi biasanya berukuran cukup besar sehingga tidak mudah dibawa. Terdapat dua jenis nebuliser berdasarkan perbedaan cara mengubah larutan obat menjadi aerosol, yaitu nebuliser jet dan nebuliser ultrasonik. Nebuliser jet lebih umum digunakan.1,3,4

4.                   Soft mist inhaler/Respimat

Inhaler jenis terbaru ini mirip dengan MDI tetapi tidak mengandung propelan. Obat dalam bentuk larutan diubah menjadi aerosol dengan menekan pegas yang ada di dalam inhaler. Respimat tidak membutuhkan spacer. Respimat ini menghasilkan obat aerosol yang dapat dihirup secara perlahan dan lebih tahan lama sehingga tidak memerlukan napas yang dalam untuk menghirup obat dan lebih maksimal mencapai paru-paru dibandingkan dengan MDI, DPI, ataupun nebulizer. Kelebihannya dapat digunakan pada pasien yang kesulitan bernapas parah. Namun saat penggunaan respimat harus tetap tepat waktu antara menekan inhaler dengan menghirup obat agar obat dihirup dalam jumlah yang maksimal untuk mencapai paru-paru.2,4,6

Contoh merk dagang: Spiriva respimat, Spiolto respimat

 

Referensi

 

  1. Buddiga, P. 2015. Use of Metered Dose Inhalers, Spacers, and Nebulizers. Available online at: https://emedicine.medscape.com/article/1413366-overview#a2

  2. Ponen, S. 2018. Inhalers. Available online at: https://www.healthnavigator.org.nz/medicines/i/inhaler-devices/?tab=10755#Overview

  3. BPOM. 2015. Inhalasi dan Nebulisasi. Available online at: http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-3-sistem-saluran-napas-0/31-antiasma-dan-bronkodilator/315-inhalasi-dan-nebulisasi

  4. Ibrahim, M., Verma, R., Garcia, L. 2015. Inhalation Drug Delivery Devices: Technology Update. Medical Devices: Evidence and Research 8: 131-139.

  5. DiPiro Joseph T., R.L. Talbert, G.C. Yee, G.R. Matzke, B.G. Wells, L.M. Posey. 2011. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Eight Edition. McGraw Medical Hill. New York.

  6. Anderson, P. 2006. Use of Respimat Soft Mist Inhaler in COPD Patients. International Journal of Chronic Obstructive Pulmonary Disease 1(3): 251-259.


Share yuk !....

Dengan ikutan share di social media kamu, berarti kamu ikut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan.