Trending

Kenali Macam-macam Area Suntik

Swamedikasi Diare

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

INFORMASI OBAT: GOLONGAN PENGHAMBAT KANAL KALSIUM ATAU CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB)

Update COVID19: 4 Hal Tidak Umum yang Dapat Diketahui terkait Coronavirus sejak Awal Pandemik

Update COVID19: 4 Hal Tidak Umum yang Dapat Diketahui terkait Coronavirus sejak Awal Pandemik

  • 511

Sudah hampir 6 bulan sejak dunia mengumumkan kewaspadaan terhadap Covid-19 dan sudah hampir 4 bulan sejak WHO mengumumkan kasus ini sebagai pandemik. Hal ini terjadi seiring dengan peningkatan jumlah orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 Coronavirus. Berikut ini ada beberapa hal yang tidak umum yang dapat diketahui terkait dengan coronavirus.

 

1. Coronavirus mempengaruhi mekanisme pembekuan darah

Berbagai penyakit inflamasi, seperti infeksi, terkait dengan peningkatan risiko pembekuan darah. Akan tetapi, Covid-19 memberikan efek yang lebih besar dibandingkan dengan infeksi lainnya. Apabila darah yang membeku cukup banyak, maka dapat menghalangi aliran darah di dalam pembuluh darah. Hal ini akan mengakibatkan bagian tubuh yang disuplai oleh pembuluh darah ini akan mengalami kekurangan oksigen. Apabila hal ini terjadi pada arteri koroner, yang memberikan suplai darah ke jantung, akan mengakibatkan terjadinya serangan jantung. Apabila terjadi pada pembuluh darah pada paru-paru akan menyebabkan embolisme paru-paru dan menyebabkan stroke pada otak.

 

Suatu studi menunjukkan bahwa 49% pasien yang terinfeksi, umumnya memiliki bekuan darah pada paru-paru. Studi lain menunjukkan bahwa 20 – 30% pasien penderita Covid-19 yang kritis memiliki bekuan darah. Peneliti menemukan bahwa protein inflamatori yang diproduksi selama infeksi Covid-19 akan mengubah fungsi platelet secara signifikan, sehingga menjadi “hiperaktif” dan lebih rentan dalam membentuk bekuan darah yang berpotensi mematikan. Hal ini disebabkan adanya perubahan genetik pada platelet.

 

2. Penderita dapat kehilangan kemampuan penciuman

Seperti yang diketahui bahwa Covid-19, seperti infeksi virus lainnya, akan menyebabkan anosmia, atau kehilangan kemampuan penciuman. Suatu studi menunjukkan bahwa sekitar 5% pasien di rumah sakit dengan Covid-19 kehilangan kemampuan penciumannya. Namun, untuk beberapa orang dengan gejala penyakit yang sangat ringan, menyebutkan bahwa mereka tiba-tiba mengalami kehilangan penciumannya sebelum memperolehnya kembali. Anosmia, akhir-akhir ini ditambahkan ke dalam list gejala Covid-19.

 

Umumnya, orang yang mengalami flu akan memiliki gejala hidung tersumbat yang dapat mempengaruhi kemampuan penciumannya. Namun, Covid-19 berbeda. Penderita dapat kehilangan penciumannya tanpa mengalami gejala hidung tersumbat (terjadi secara mendadak). Hal ini disebabkan virus menempel pada reseptor hidung sebelum memasuki sel. Reseptor yang dimaksud adalah ACE2, yang merupakan akses virus memasuki bagian tubuh lainnya, seperti paru-paru. Protein yang dikenal sebagai TMPRSS2 kemudian membantu virus menginvasi sel. Beberapa penderita Covid-19 yang mengalami kehilangan penciumannya juga dilaporkan mengalami penurunan kemampuan pengecap.

 

Studi menunjukkan bahwa protein ACE2 ditemukan pada “sustentacular cells”, yang merupakan sel penunjang bagi saraf olfaktori. Sel penunjang inilah yang mengalami kerusakan akibat virus, dan respon sistem imun menyebabkan pembengkakan area tersebut. Oleh karena itu, saat sistem imun berperang melawan virus, pembengkakan akan mereda dan molekul aroma akan memiliki jalur tersendiri menuju reseptor yang tidak rusak, sehingga kemampuan penciuman kembali normal. Akan tetapi, pada beberapa kasus, kemampuan penciuman tidak kembali normal. Hal ini diakibatkan oleh tingkat keparahan inflamasi, yang mengakibatkan sel di sekitarnya juga mengalami kerusakan. Alhasil, saraf olfaktori yang mengalami kerusakan.

 

3. Covid-19 dapat memicu terjadinya penyakit inflamasi yang serius pada anak-anak

Ciri-ciri yang tidak umum lainnya adalah bagaimana Covid-19 terlihat hanya sedikit mempengaruhi anak-anak, apabila dibandingkan dengan infeksi saluran pernapasan lainnya. Akan tetapi, dokter-dokter di Eropa dan Inggris, mengamati bahwa terjadinya peningkatan jumlah penderita Covid-19 pada anak-anak, memperhatikan bahwa adanya kondisi inflamasi yang serius pada anak-anak, yang dikenal sebagai “multisystem inflammatory syndrome in children” atau disebut MIS-C.

 

Studi dari Inggris, Italia, dan Perancis, menunjukkan bahwa kebanyakan anak-anak dengan kondisi serius seperti ini menderita Covid-19 pada awalnya. Umumnya gejala yang ditimbulkan akan bervariasi, namun salah satu gejala utamanya adalah demam, ruam-ruam dan gejala gangguan saluran pencernaan (muntah, nyeri perut, dan diare). Beberapa anak bahkan mengalami komplikasi jantung. Gejala ini umumnya menyerupai penyakit Kawasaki dan sindrom syok toksik. Penelitian menunjukkan bahwa penyebab MIS-C bukan hanya virus, namun juga respon sistem imun tubuh terhadap virus.

 

Menurut Professor Robert Tulloh, kardiologis di Bristol Royal Hospital for Children, mengungkapkan bahwa infeksi Covid-19 berefek pada sel T dan membatasi kemampuan tubuh anak-anak dalam melawan proses inflamasi.

 

4. Covid-19 dapat menyebar dari manusia ke binatang dan kembali lagi ke manusia

Pada awal pandemik, dipercaya bahwa SARS-CoV-2 berasal dari binatang sebelum menyebar ke manusia. Akan tetapi, belum diketahui secara pasti bahwa virus tersebut dapat menyebar kembali ke binatang. Namun, diketahui bahwa manusia dapat menyebarkan Covid-19 ke manusia lain ataupun binatang peliharaan, seperti anjing, kucing, dan bahkan harimau. Di Belanda, terjadi perjangkitan pada binatang di peternakan. Penelitian membuktikan bahwa pekerja yang terinfeksi akan menyebarkan virus ke peternakan. Binatang yang dikenal sebagai cerpelai, sejenis musang, mengalami pneumonia, yang menyebar ke binatang lainnya. Cerpelai ini kemudian menginfeksi dua orang manusia – kasus pertama yang tercatat sebagai penyebaran dari binatang ke manusia.

Supervisor:
  • Sani Asmi Ramdani Lestari
Visualitator:
  • Putri Kholilah
  • 1. Senanayake, Sanjaya. (2020). 4 unusual things we’ve learned about the coronavirus since the start of the pandemic [Online]. Diakses pada 10 Juli 2020, dari Jakarta Post: https://www.thejakartapost.com/life/2020/06/30/4-unusual-things-weve-learned-about-the-coronavirus-since-the-start-of-the-pandemic.html
  • 2. Dollemore, Doug. (2020). Covid-19 causes ‘hyperactivity’ in blood-clotting cells [Online]. Diakses pada 12 Juli 2020, dari U-Health, University of Utah: https://healthcare.utah.edu/publicaffairs/news/2020/06/covid-blood-clots.php
  • 3. Gane, Simon & Parker, Jane. (2020). Covid-19 can cause loss of smell, and scientists finally discovered why [Online]. Diakses pada 12 Juli 2020, dari Science Alert: https://www.sciencealert.com/scientists-worked-out-how-covid-19-disrupts-some-people-s-smell
  • 4. Chadwick, Lauren. (2020). Explained: Inflammatory syndrome in children possibly linked to Covid-19 [Online]. Diakses 12 Juli 2020 dari Euronews: https://www.euronews.com/2020/05/24/coronavirus-what-is-kawasaki-disease-and-its-possible-link-with-covid-19-in-children
Corona Virus Covid-19

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here