Trending

Info Obat : Kortikosteroid, Obat Dewa?

Swamedikasi Diare

Sunscreen, SPF, dan yang Kita Pilih Selama Ini

Bagaimana Cara Menggunakan Obat di Bulan Ramadhan?

Tarik Ulur Ranitidin di Indonesia

Tarik Ulur Ranitidin di Indonesia

  • 939

Dinda Arditta, Apt dan Sani Asmi, Apt

Pada tanggal 11 Oktober 2019, sempat beredar informasi penarikan obat lambung Ranitidin dari pasaran. Hal tersebut cukup membuat resah masyarakat karena alasan penarikan Ranitidin adalah adanya cemaran N-nitrosodumethylamine (NDMA) yang dapat menyebabkan kanker. Namun, pada tanggal 20 November 2019, BPOM memberikan edaran baru yang mengatakan bahwa peredaran Ranitidin diperbolehkan untuk diedarkan lagi dan diproduksi lagi oleh industri-industri farmasi.

 

Jadi, apa, sih, yang terjadi?

Sebelumnya, kita ‘tengok’ dahulu apa itu obat Ranitidin?

 

Ranitidin adalah obat lambung golongan antagonis reseptor H-2, yang intinya, ia mencegah lambung mengeluarkan asam labung berlebihan. Golongan ini juga sebetulnya punya banyak ‘kerabat’, tidak hanya ranitidin, ada juga famotidin, simetidin, dan tiding-tidin lainnya. Kebetulan, Ranitidin ini sering diresepkan oleh dokter karena ia adalah pilihan pertama pada pasien dengan kelebihan sekresi asam lambung. Selain itu, ranitidine juga memiliki efek samping yang lebih sedikit dibandingkan simetidin.

 

Apa Ranitidin bisa dibeli bebas di pasaran?

Ranitidin ini termasuk obat keras. Jadi, untuk mengonsumsi obat ini perlu resep dari dokter.

 

Lalu, kenapa sih tidin ini terkenal menjadi obat lambung?

Ternyata, di dalam lambung kita dihasilkan asam yang sangat pekat. Asam pekat bekerja sama dengan enzim lambung mencerna makanan dan minuman yang kita konsumsi. Asam yang pekat ini tak jarang mengakibatkan iritasi lambung. Mengapa demikian? Tubuh memiliki jam biologis, dan pada jam–jam tertentu asam pekat ini akan dihasilkan. Bila di dalam lambung kita tidak ada makanan ataupun pelindung lambung, hal ini yang menyebabkan asam lambung didalam tubuh kita yang semakin banyak dapat mengiritasi lambung kesayangan kita. 

 

Nah, golongan tidin ini bekerja untuk mengurangi pengeluaran asam lambung. Sebagai agen antagonis reseptor H-2, golongan tidin akan berkompetisi dengan lawannya untuk mendudukan reseptor H-2. Apabila Tidin berhasil menduduki reseptor H-2, maka akan berkurang pengeluaran asam lambung. Ketika sekresi asam lambung berkurang, risiko iritasi pada lambung tentunya akan berkurang. Inilah mengapa Tidin sangat sering digunakan. Selain untuk mengurangi iritasi lambung, Tidin juga berguna dalam mengobati proses penyembuhan lambung yang mengalami iritasi akibat penggunaan obat-obatan AINS misalnya ibuprofen, asam mefenamat, diklofenak, dan teman temannya. Selain itu, Tidin juga dapat digunakan untuk mengatas gejala refulks gastroesofagus atau yang terkenal dengan nama GERD, juga untuk megobtai tukak lambung karena infeksi bakteri H. pylori, dan sindrom Zollinger-Ellison.

 

Ada berapa jenis Ranitidin yang tersedia di pasaran?

Ranitidin tersedian dalam bentuk tablet (150 mg dan 300 mg), sirum (75 mg/5 mL), dan injeksi (25 mg/mL).

 

Bagaimana Cara meminum obat Ranitidin?

Ranitidin ini bisa diminum sebelum ataupun sesudah makan, dengan dan/atau makanan. Jika ranitidine diminum 2x sehari, waktu terbaik adalah pagi dan malam. Jika diminum sekali sehari, malam adalah waktu terbaik mengonsumsi Ranitidin.

 

Apa Saja efek samping Ranitidin?

Efek samping Ranitidin umumnya adalah diare dan gangguan saluran cerna, terkadang mengakibatkan sakit kepala, pusing, ruam,takikardi (jarang), nefritis intestinal (jarang sekali), dan rasa letih. 

 

Apakah Ranitidin aman dikonsumsi ibu hamil dan menyusui?

Ranitidin termasuk pada kategori B sehingga relatif aman digunakan pada ibu hamil. Ranitidin dapat masuk ke dalam ASI sehingga obat ini tidak direkomendasikan untuk ibu menyusui.

 

Apa semua orang boleh mengonsumsi ranitidine?

Penggunaan ranitidin sebaikanya tidak diberikan bersamaan kepada teman-teman yang sedang menerima terapi warfarin, nifedipin, glipizide, ketoconazole, metoprolol, procainamide, midazolam, dan klorometiazol karena terdapat interaksi obat. Jika memang sedang mengonsumsi obat-obatan tersebut, baiknya dikonsultasikan kembali kepada dokter dan apoteker. 

 

Lalu, kenapa BPOM akhirnya memperbolehkan lagi distribusi Ranitidin setelah ia ditarik dari peredaran?

Berdasarkan hasil kajian risiko oleh BPOM, studi global tentang cemaran NDMA (yang menjadi alasan ranitidine ditarik dari peredaran) memiliki ambang batas cemaran sebesar 96 ng/hari. Jika NDMA dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama, barulah ia akan berpotensi menyebakan kanker. BPOM menganjurkan perusahaan farmasi melakukan pengujian cemaran NDMA ini pada produk ranitidinnya secara mandiri. Kalau ternyata cemaran NDMA ini melebihi ambang batas, maka industri farmasi wajib menarik produk dari pasaran. Kemudian, melalui edarannya pada tanggal 20 November 2019, BPOM merilis daftar produk ranitidine yang diperbolehkan beredar kembali. Rilis daftar ranitidine yang boleh beredar lagi di pasaran ini cukup panjang terlampir dalam edaran tersebut, sehingga bila masyarakat bingung, bisa mengetahui produk ranitidine mana yang boleh dikonsumsi melalui website Badan POM (https://cekbpom.pom.go.id) atau melalui aplikasi Cek BPOM. 

 

Jadi, jika menemukan dokter sekarang meresepkan ranitidine, masyarakat tidak lagi perlu khawatir karena menurut BPOM, produk ranitidine ini dapat diedarkan kembali. Jika masih merasa ragu, silakan konsultasikan dengan dokter atau apoteker terdekat.

  • BPOM. Antagonis Reseptor H-2. Tersedia secara online di http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-1-sistem-saluran-cerna-0/13-antitukak/131-antagonis-reseptor-h2
  • BPOM. 2019. Informasi Produk Ranitidin yang Dapat Diedarkan Kembali.
  • MIMS. 2019. Ranitidine. Tersedia online di https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ranitidine/?mtype=generic
  • Rakesh Pahwa, et.al. 2016. Ranitidine hydrochloride: An update on analytical, clinical and pharmacological aspects. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research. 8(7):70-78.
Farmasi Indonesia Info Update Informasi obat Obat

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here