Trending

Swamedikasi Diare

Info Obat : Kortikosteroid, Obat Dewa?

DAGUSIBU

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

Swamedikasi? Mengapa Tidak?

Swamedikasi? Mengapa Tidak?

  • 712

Oleh : Sani Asmi Ramdani Lestari, Apt.

Ketika saya merasa tidak enak badan, kadang saya bingung, apa saya harus ke dokter untuk rasa tidak enak badan ini—mendramatisirnya sebagai penyakit yang serius, padahal itu hanya kelelahan belaka? Background pendidikan apoteker saya ternyata cukup menguntungkan di saat-saat seperti itu. Saya tinggal pergi ke apotek dan membeli obat yang sesuai dengan gejala yang saya rasakan. Namun, praktik self-medication atau swamedikasi bisa dilakukan oleh siapa saja terlepas ia tenaga kesehatan atau bukan. Tentunya, praktik swamedikasi itu harus pula didasari oleh beberapa pengetahuan yang mendasar.

Menurut WHO, swamedikasi adalah pemilihan dan menggunakan obat, termasuk pengobatan herbal dan tradisional, oleh individu untuk merawat diri sendiri dari penyakit atau gejala penyakit. Singkatnya, swamedikasi merupakan pengobatan yang dilakukan diri sendiri tanpa melalui resep dokter. Selain itu, membeli obat berdasarkan resep lama yang pernah diterima, berbagi obat-obatan dengan teman, atau menggunakan sisa obat yang ada di rumah juga termasuk dalam swamedikasi. Keluhan-keluhan ataupun penyakit-penyakit ringan seperti demam, nyeri, batuk, flu, maag, diare bisa diatasi dengan swamedikasi. Apotek biasanya akan memberikan rekomendasi obat-obat dengan label obat bebas atau obat bebas terbatas untuk mengatasi gejala-gejala ringan tersebut. Seorang individu juga bisa memilih obat-obatan OTC (over the counter) di minimarket yang juga biasanya terdiri dari obat-obat bebas maupun bebas terbatas.

Namun, praktik swamedikasi itu juga bisa membahayakan jika pasien salah mengenali gejala-gejala ringan, salah membeli obat, salah menggunakan obat, salah dosis, atau bahkan telat penanganan. Maka dari itu, masyarakat serta khalayak ramai perlu mengenal bagaimana swamedikasi yang baik juga jeli dengan gejala-gejala yang muncul.

Untuk memepermudah, saya akan menjelaskan langkah-langkah penting untuk pengobatan sendiri.

1. Mengenal kondisi ketika melakukan swamedikasi

Beberapa kondisi seperti sedang hamil, berencana untuk hamil, menyusui, balita, lansia, atau sedang dalam diet khusus, sedang atau baru berhenti menggunakan suatu obat, mengalami penyakit lain selain yang sedang dirasakan, perlu diperhatikan.

 

2. Memahami kemungkinan adanya interaksi obat

Minimal, anda harus tahu nama obat atau zat yang berkhasiat dalam obat yang dibeli. Anda juga bisa bertanya kepada apoteker atau tenaga kesehatan lain mengenai interaksi obat yang mungkin, entah itu dengan makanan, minuman, atau obat lainnya.

 

3. Mengenali obat-obat yang dapat digunakan untuk swamedikasi

Obat yang bisa digunakan untuk swamedikasi adalah golongan obat bebas dan obat bebas terbatas. Tanda dari obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Sedangkan obat bebas terbatas adalah ingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.

4. Waspada akan adanya efek samping yang muncul

Mengenal beberapa efek samping yang akan muncul sangatlah penting. Seperti misalnya, ketika mengkonsumsiobat antialergi seperti CTM akan membuat Anda mengantuk. Efek samping ini merupakan efek yang tidak diinginkan dari mengkonsumsi obat dan tidak selalu memerlukan tindakan medis untuk mengatasinya. Jika efek samping tidak dapat ditoleransi lagi, dianjurkan untuk menghentikan pengobatan dan lebih baik konsultasi dengan tenaga kesehatan.

 

5. Meneliti obat yang akan dibeli

Bentuk sediaan (tablet, sirup, kapsul, krim, dll)

Kemasan obat (jangan mengambil obat yang menunjukkan adanya kerusakan walaupun kecil

Bentuk fisik sediaan

Tanggal kedaluwarsa

Penyimpanan obat di tempat penjualannya (obat tidak boleh ditaruh di tempat yang terpapar cahaya matahari langsung

Obat yang diminum harus sudah memiliki nomor izin edar dari BPOM

 

6. Mengetahui cara penggunaan obat yang benar

Bacalah aturan pakai sesuai dengan petunjuk yang tertera di kemasan

 

7. Mengetahui cara penyimpanan obat yang baik

Tidak disimpan dalam tempat yang lembap, tidak terpapar sinar matahari langsung, jauhkan dari jangkauan anak-anak, obat tidak dianjurkan untuk ditaruh dalam lemari pendingin kecuali obat-obat tertentu.

 

Kapan kita harus menghentikan swamedikasi?

Jika gejala semakin parah atau muncul gejala lain seperti pusing, mual, dan muntah

Jika terjadi reaksi alergi seperti gatal dan kemerah-merahan pada kulit

Salah minum obat atau minum obat dengan dosis yang salah

Sudah sembuh (gejala tidak lagi muncul)

 

Kunci dari swamedikasi ini sebetulnya membaca brosur obat-obat bebas maupun obat bebas terbatas karena dalam pelaksanaannya, swamedikasi perlu memenuhi kriteria penggunaan obat yang rasional (tepat obat, tepat dosis, tidak ada efek samping, tidak ada kontraindikasi, tidak ada interaksi obat, dan tidak adanya polifarmasi). Selain itu, anda bisa bertanya rekomendasi obat kepada apoteker maupun petugas farmasi lainnya.

Meski bisa melakukan swamedikasi, ada baiknya kita semua tetap menjaga kesehatan. Berdasarkan Gerakan Masyarakat Sehat yang diusung kementerian kesehatan Indonesia, terdapat 7 langkah menjaga kesehatan:

1.   Melakukan altivitas fisik

2.   Budaya konsumsi buah dan sayur

3.   Tidak merokok

4.   Tidak mengonsumsi minuman beralkohol

5.   Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala

6.   Menjaga kebersihan lingkungan

7.   Menggunakan jamban

 

Referensi:

InfoPOM. 2014. Menuju Swamedikasi yang Aman. Volume 15, No. 1. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Harahap, Nur Aini, Khairunnisa & Juanita Tanuwijaya. 2017. Tingkat Pengetahuan Pasien dan Rasionalitas Swamedikasi di Tiga Apotek Kota Panyabungan. Jurnal Sains Farmasi & Klinis (3:2). Sumatera

Kemenkes RI. 2017. Germas: Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Tersedia di: http://promkes.kemkes.go.id/germas [diakses pada 21 Juni 2019]

 

 

 

 

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here