Trending

Kenali Macam-macam Area Suntik

Swamedikasi Diare

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

INFORMASI OBAT: GOLONGAN PENGHAMBAT KANAL KALSIUM ATAU CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB)

Non-communicable Disease (NCDs) atau Penyakit Tidak Menular (PTM)

Non-communicable Disease (NCDs) atau Penyakit Tidak Menular (PTM)

  • 290

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Pusat Informasi Kesehatan, populasi di Indonesia pada tahun 2016 sekitar 256.704.986 orang, terdiri atas 129.988.690 pria dan 128.716.296 wanita. Angka ini mewakili populasi anak muda di Indonesia sebab proporsi populasi yang berusia 0 – 14 tahun lebih besar dibandingkan populasi berusia > 14 tahun. Sementara itu, proporsi populasi yang berusia 50 tahun ke atas sudah berkurang secara signifikan, yang diperkirakan akibat tingginya tingkat kematian pada populasi dengan usia menengah ke atas. Tingkat kematian di Indonesia didominasi oleh non-communicable diseases (NCDs) atau Penyakit Tidak Menular (PTM). Perubahan pada lingkungan, teknologi, dan gaya hidup telah merubah pola penyakit di Indonesia sehingga didominasi oleh NCDs seperti diabetes mellitus (DM), penyakit jantung, dislipidemia, obesitas, gangguan ginjal, penyakit paru-paru, dan kanker.

 

Berdasarkan data Indonesian Sample Registration System pada tahun 2014, 10 jenis penyakit yang paling umum ditemukan adalah stroke (21,1%), penyakit jantung (12,9%), diabetes mellitus (6,7%), tuberkulosis (5,7%), komplikasi akibat tekanan darah tinggi (5.3%), penyakit paru-paru kronis (4.9%), gangguan liver (2,7%), kecelakaan lalu lintas (2,6%), pneumonia (2,1%), dan kombinasi diare dan gastroenteritis karena infeksi (1,9%). Adapun berdasarkan Indonesian Basic Health Research 2018, kebanyakan NCD seperti kanker, stroke, gangguan ginjal, gangguan sendi, DM, penyakit jantung, hipertensi, dan obesitas, menunjukkan peningkatan tren dibandingkan tahun 2013.

 

Apa yang dimaksud dengan non-communicable disease?

NCDs adalah kondisi medis atau penyakit yang didefinisikan sebagai penyakit yang tidak menginfeksi dan tidak menular. NCDs merupakan penyebab utama dari kematian di negara berkembang. Adapun, definisi NCD berdasarkan WHO adalah penyakit kronis, yang cenderung berlangsung dalam jangka waktu panjang, sebagai kombinasi faktor genetik, fisiologis, lingkungan, dan tingkah laku. Selain itu, statistik internasional menunjukkan bahwa NCDs adalah penyebab utama terjadinya kematian di seluruh dunia.

 

Non-communicable disease umumnya bersifat asimtomatik (tidak bergejala) dan progresif, sehingga seringkali pasien tidak menyadari adanya penyakit ini hingga tanda dan gejala komplikasi terjadi. Hal ini mendorong diperlukannya skrining awal untuk populasi dengan risiko tinggi, pengobatan awal, dan pemantauan berkala. Lebih lanjut, studi epidemiologi juga dilakukan untuk mengevaluasi berbagai faktor, baik yang diketahui ataupun tidak diketahui, maupun pola perkembangan NCDs pada berbagai area dan respon pengobatan.

 

 

Bagaimana dengan prevalensi NCDs?

Menurut WHO, diperkirakan bahwa NCDs berkontribusi sebesar 71% (lebih dari 41 juta) kematian global per tahun. Setiap tahun, sejumlah 15 juta orang meninggal akibat NCDs dan terjadi pada pasien dengan usia 30 – 69 tahun, bahkan 85% kematian prematur terjadi pada negara dengan penghasilan rendah hingga menengah.

 

Penyakit kardiovaskular bertanggung jawab pada kematian NCDs terbesar, sekitar 17,9 juta orang per tahun, diikuti dengan kanker (9 juta), gangguan saluran pernapasan (3,9  juta), dan diabetes (1,6 juta). Keempat penyakit tersebut berkontribusi terhadap 80% kematian prematur akibat NCDs. Penggunaan tembakau, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan alkohol, dan makanan yang tidak sehat meningkatkan risiko kematian akibat NCD.

 

Siapa yang berisiko mengalami NCDs?

NCDs akan mempengaruhi berbagai lapisan masyarakat, baik dari sisi usia, wilayah, ataupun negara. Kondisi ini seringkali dikaitkan dengan penduduk lanjut usia, namun studi menunjukkan bahwa sekitar 15 juta kematian disebabkan oleh NCDs pada pasien berusia 30 dan 69 tahun. Kematian “prematur” ini diperkirakan mencapai 85%, terutama pada negara dengan penghasilan rendah hingga menengah. Anak-anak, orang dewasa, dan pasien lansia lebih rentan terhadap faktor risiko NCDs.

 

Penyakit ini juga didorong oleh urbanisasi cepat yang tidak terencana, pengaruh globalisasi terhadap gaya hidup yang tidak sehat, dan penuaan. Makanan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan peningkatan tekanan darah, glukosa darah, kadar lemak di dalam darah, dan obesitas. Faktor risiko ini dapat memicu gangguan kardiovaskular.

 

Apa saja faktor risiko NCDs?

Terdapat dua faktor risiko NCDs, yaitu faktor risiko gaya hidup dan faktor risiko metabolik.

  • Faktor risiko gaya hidup

Faktor risiko gaya hidup mencakup penggunaan tembakau, kurangnya aktivitas fisik, makanan yang tidak sehat, dan penggunaan alkohol yang tidak sesuai

    • Tembakau bertanggung jawab terhadap 7,2 juta kematian per tahun (termasuk efek paparan terhadap perokok pasif) dan diperkirakan jumlah tersebut akan meningkat secara signifikan.
    • Sejumlah 4,1 juta kematian per tahun disebabkan penggunaan garam yang berlebihan
    • Lebih dari setengah dari 3,3 juta kematian per tahun disebabkan oleh penggunaan alkohol, termasuk kanker
    • Sejumlah 1,6 juta kematian disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik
  • Faktor risiko metabolik

Faktor risiko metaboik mencakup 4 perubahan metabolik yang meningkatkan risiko NCDs:

    • Peningkatan tekanan darah
    • Kelebihan berat badan / obesitas
    • Hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah)
    • Hiperlipidemia (peningkatan lemak di dalam darah)

 

Apa faktor sosio-ekonomi dari NCDs?

NCDs mengacam kemajuan terhadap agenda PBB (2030 Agenda for Sustainable Development), yang mencakup target penurunan kematian prematur akibat NCDs sekitar sepertiga pada tahun 2030. Kemiskinan sangat berhubungan erat dengan NCDs. Peningkatan NCDs diprediksi akan menghalangi penurunan jumlah kemiskinan pada negara berpenghasilan rendah, khususnya dengan peningkatan biaya rumah tangga terkait dengan pelayanan kesehatan. Masyarakat yang rentan akan lebih mudah sakit dan meninggal lebih cepat dibandingkan dengan masyarakat dengan kelas sosial yang lebih tinggi, karena makanan yang tidak sehat dan keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan.

 

Bagaimana cara mencegah dan mengontrol NCDs?

Cara terbaik dalam mengontrol NCDs adalah berfokus pada penurunan faktor risiko yang berkaitan dengan penyakit. Solusi dengan biaya rendah tersedia untuk pemerintah dan pemegang saham lain untuk mengurangi faktor risiko yang umum. Pemantauan berkala NCDs menjadi penting dalam menetapkan kebijakan dan prioritas.

 

Untuk mengurangi dampak NCDs terhadap individu dan masyarakat, pendekatan komprehensif dibutuhkan pada berbagai sektor, mencakup kesehatan, keuangan, transpor, pendidikan, pertanian, perencanaan, dan untuk melakukan kolaborasi dalam mengurangi risiko terkait NCDs, serta meningkatkan intervensi iuntuk mencegah dan mengontrol NCDs.

 

Melakukan investasi dalam manajemen NCD yang lebih baik merupakan tahap kritikal. Manajemen NCDs mencakup deteksi, skrining, dan pengobatan terhadap penyakit NCDs, serta menyediakan akses pengobatan paliatif untuk pasien yang membutuhkan. Intervensi NCDs dengan dampak besar dapat dilakukan melalui pelayanan kesehatan primer untuk memperkuat deteksi awal dan pengobatan berkala. Studi menunjukkan bahwa intervensi merupakan investasi ekonomi yang baik, karena apabila disediakan lebih awal kepada pasien, maka akan mengurangi kebutuhan perawatan dengan harga yang lebih tinggi.

 

Negara dengan jaminan asuransi kesehatan yang tidak memadai umumnya tidak akan menyediakan akses universal terhadap intervensi NCDs. Intervensi manajemen NCDs bersifat mendasar untuk mencapai target global 25% dari penurunan relatif dari risiko kematian prematur akibat NCDs pada tahun 2025, dan SDG menargetkan penurunan sepertiga kematian prematur dari NCDs pada tahun 2030.

 

Supervisor:
  • Sani Asmi Ramdani Lestari
Visualitator:
  • Putri Kholilah
  • 1. PSI. (2020). Non-Communicable Diseases [Online]. Diakses pada 16 Maret 2020, dari PSI: https://www.psi.org/health-area/non-communicable-diseases/#about.
  • 2. WHO. (2018). Noncommunicable Diseases [Online]. Diakses pada 16 Maret 2020, dari WHO: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/noncommunicable-diseases.
  • 3. Purnamasari, Dyah. The Emergence of Non-communicable Disease in Indonesia. Acta Med Indones – Indones J Intern Med (2018), 50(4): 273 – 274 [cited 16 Mar 2020]. Diakses dari. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/30630990.
  • 4. Kim, Hyeon Chang dan Sun Min Oh. Noncommunicable Diseases: Current Status of Major Modifiable Risk Factors in Korea. Journal of Preventive Medicine & Public Health (2013), 46: 165 – 172 [cited 16 Mar 2020]. Diakses dari. http://dx.doi.org/10.3961/jpmph.2013.46.4.165
Farmasi Indonesia Gerakan masyarakat sehat Germas Info Update

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here