Trending

Kenali Macam-macam Area Suntik

Swamedikasi Diare

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

INFORMASI OBAT: GOLONGAN PENGHAMBAT KANAL KALSIUM ATAU CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB)

MSD x Halo Apoteker Indonesia: “Practical Approach to Protect Diabetes Patients fron Covid19: Focus on Preventive Action” dan “Covid19 Identification Method: What Do We Need to Know?”

MSD x Halo Apoteker Indonesia: “Practical Approach to Protect Diabetes Patients fron Covid19: Focus on Preventive Action” dan “Covid19 Identification Method: What Do We Need to Know?”

  • 155

Di tengah pandemic Covid19 ini, kerjasama Halo Apoteker Indonesia, Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran, bersama dengan MSD Indonesia melakukan webinar dengan tema:

 

🌟1 Jam Bicara: Covid19!

Diskusi dan update ilmu dengan tema

“Practical Approach to Protect Diabetes Patients fron Covid19: Focus on Preventive Action” dan “Covid19 Identification Method: What Do We Need to Know?” yang dipandu oleh Apt Derisha Putri dari MSD Indonesia.

Dilaksanakan pada tanggal;

Rabu, 6 Mei 2020.

Pukul 15.30-16.30 WIB!

 

Webinar ini diikuti oleh berbagai profesi tenaga kesehatan, dengan jumlah partisipan lebih dari 200 orang.

 

Berikut konten materi webinar yang kami rangkum khusus untuk sahabat HAI:

Practical Approach to Protect Diabetes Patients fron Covid19: Focus on Preventive Action

Pasien dengan diabetes dan COVID-19 memiliki kemungkinan glukosa darah yang fluktuatif karena:

  • Asupan makanan yang tidak seimbang
  • Berkurangnya aktivitas fisik
  • Gangguan saluran pencernaan
  • Kondisi stress sebab infeksi meningkatkan sekresi glukokortikoid (penggunaan glukokortikoid dalam pengobatan dapat menyebabkan level glukosa darah yang meningkat tajam
  • Interupsi pengobatan diabetes ketika isolasi
  • Ketakutan, cemas, dan tekanan
  • COVID-19 sendiri dapat menyebabkan tubuh manusia memproduksi siktokin yang dapat menyebabkan stress pada pasien dengan gejala yang parah maupun pasien yang kritis.

Penyakit yang biasanya memberikan efek pada level glukosa darah:

  • Flu, termasuk COVID-19
  • Sakit t enggorokan
  • Infeksi saluran kemih
  • Bronchitis atau infeksi pernapasan
  • Nyeri perut dan diare
  • Infeksi kulit seperti abses
  • Meningkatnya kadar kortisol juga dapat berdampak pada kadar glukosa darah.

Apa yang terjadi pada orang dengan diabetes?

  1. Tubuh bereaksi mengeluarkan hormone untuk melawan penyakit
  2. Hormone yang dikeluarkan meningkatkan glukosa darah dan pada waktu yang sama membuat insulin sulit mengendalikannya
  3. Orang dengan diabetes, meski dengan penyakit ringan dapat menyebabkan level gula darah yang berbahaya yang dapat menyebakan komplikasi seperti diabetes ketoasidosis, atau hiperglikemik hyperosmolar.

Diabetes, infeksi pernapasan dan COVID-19

Diasumsikan bahwa orang dengan diabetes berisiko lebih tinggi terkena infeksi SARS-CoV-2. Penyakit penyerta seperti penyakit jantung, penyakit ginjal, usia lanjut memiliki tingkat keparahan yang cenderung tinggi.

Risiko dapat diturunkan dengan mengontrol kadar glukosa darah.

Semua orang dengan diabetes (di atas 2 tahun) direkomendasikan vaksinasi pneumokokus dan influenza tahunan. Tidak hanya itu, pasien diabetes memiliki penyakit parah ketika terinfeksi virus pernapasan.

Diabetes dipandang sebagai faktor risiko penting untuk kematian pada pasien yang terinfeksi Pandemi Influenza A 2009 (H1N1), SARS dan MERSCoV.

Mengapa kontrol glukosa sangat penting dalam situasi COVID-19?

Strategi  pencegahan untuk penyakit diabetes dibagi menjadi 3 fase:

  1. Pencegahan primer dimungkinkan selama tahap pra-diabetes [gangguan glukosa puasa (IFG) / toleransi glukosa yang terganggu (IGT)], sebelum perkembangan diabetes mellitus. IGT : 140-199 mg/dl. IFG : 100-125 mg/dl.
  2. Pencegahan sekunder: strategi pencegahan yang dilakukan setelah diabetes telah terdeteksi untuk mencegah atau menunda perkembangan komplikasi jangka panjang dari penyakit.
  3. pencegahan tersier: dilakukan pada tahap ketika komplikasi telah terjadi, dengan tujuan mencegah perkembangan komplikasi ini.

Setiap penurunan 1% pada A1C akan mengurangi risiko komplikasi terkait diabetes.

Apa yang harus direncanakan untuk pasien DM tipe 2 dalam situasi pandemi covid-19?

Orang yang hidup dengan diabetes, pengasuh mereka, dan orang tua dari anak-anak yang hidup dengan diabetes harus bekerja dengan tim perawatan kesehatan mereka untuk membuat rencana penyakit. Ada 4 titik focus:

  1. target glukosa darah selama sakit
  2. seberapa sering melakukan pengecekan kadar gula darah dan keton
  3. kapan waktunya menghubungi tenaga kesehatan
  4. bagaimana cara menyesuaikan obat-obatan mereka (misalnya cara menyesuaikan dosis insulin dan kapan harus menggunakan insulin). Ketika sakit, insulin tambahan mungkin diperlukan karena kadar glukosa darah dapat meningkat bahkan jika pasien tidak dapat makan atau minum secara normal.

Apa yang harus diketahui oleh penderita T2DM dalam Situasi Pandemic Covid-19?

  1. Gejala ketoasidosis: glukosa darah lebih dari 270 mg/dl, ada keton di dalam urin, haus.
  2. Cari pertolongan bila: muntah, napas cepat dengan nafas berbau buah, nyeri perut, berkurangnya kesadaran.
  3. Gejala yang mengindikasikan level gula darah yang tinggi: haus atau mulut terasa kering, mengeluarkan banyak urin yang dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, turun berat badan.

Langkah-langkah manajemen pasien DM Tipe 2 selama situasi pandemic COVID-19

  1. Jika pasien dengan DM mengalami demam, batuk, hidung tersumbat, tenaga kesehatan perlu diberitahu untuk melakukan pengujian
  2. Orang yang terkena perlu diisolasi selama 14 hari atau sampai gejalanya hilang
  3. Sebagian besar pasien memiliki penyakit ringan dan dapat dikelola di rumah. Hidrasi harus dipertahankan dan pengobatan simtomatik dengan asetaminofen, uap inhalasi dll dapat diberikan.
  4. Pasien dengan T1DM harus sering mengukur glukosa darah dan keton urin jika terjadi demam dengan hiperglikemia.
  5. Agen anti-hiperglikemik yang dapat menyebabkan penurunan volume atau hipoglikemia harus dihindari. Dosis obat anti-diabetes oral mungkin perlu dikurangi. Pasien harus mengikuti pedoman hari sakit dan mungkin perlu lebih sering memantau darah glukosa dan melakukan penyesuaian obat.
  6. Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan penyakit parah perlu pemantauan glukosa darah yang sering. Agen oral terutama metformin dan inhibitor SGLT2 direkomendasikan untuk dihentikan. Insulin adalah agen yang disukai untuk mengendalikan hiperglikemia pada pasien sakit yang dirawat di rumah sakit. Obat golongan DPP4i memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan golongan antidiabetik lainnya menurut Profil Obat-obatan Antidiabetes berdasarkan American Diabetes Association 2020.

Manajemen Penyesuaian Obat Diabetes

  1. Kasus ringan: baik oral anti-diabetes (OAD) dan perawatan insulin dapat dipertahankan dan tidak perlu untuk menyesuaikan rejimen asli.
  2. Dalam kasus sedang, pengobatan asli bisa dipertahankan jika kondisi mental pasien, kontrol nafsu makan dan glukosa dalam kisaran normal.
  3. Pada kasus parah, insulin IV harus menjadi terapi lini pertama. Dalam kasus ini, metformin dapat meningkatkan kadar asama laktat. Sedangkan SGLT2 dapat menyebabkan kontraksi volume, metabolism lemak, dan asidosis.

Five No: tidak keluar rumah, tidak melakukan perkumpulan, tidak membatasi aktivitas fisik, tidak menghentikan pengobatan, tidak cemas.

Five keep: tetap menggunakan masker ketika keluar rumah, tetap menjaga kebersihan tangan, tetap melakukan pemeriksaan medis bila perlu, tetap hidup biasa, menjaga sikap ilmiah terhadap COVID-19.

Five refuse: tidak mengunjungi teman, tidak makan bersama, tidak memakan hewan liar, tidak percaya rumor, tidak berjabat tangan atau berpelukan atau berciuman.

Rekomendasi Konsensus Untuk Covid-19 Dan Penyakit Metabolik

  1. Pasien rawat jalan: meyakinkan pasien untuk pentingnya mengontrol kadar glukosa, mengoptimalkan terapi yang sedang berlanjut, menggunakan telemedicine.
  2. Pasien rawat inap atau ICU: monitor onset diabetes pada pasien yang terinfeksi. Pemantauan glukosa plasma, elektrolit, pH, keton darah, atau β-hidroksibutirat, terapi insulin intravena dini dalam kursus berat (ARDS, hiperinflamasi), menghindari variable resorpsi subkutan, dan manajemen konsumsi insulin yang sangat tinggi.
  3. Tujuan terapi:konsentrasi glukosa plasma 72-144 mg/dl (rawat jalan) dan 72-180 mg/dl (rawat inap), HbA1C kurang dari 7%, TIR (3-9-10 mmol/L) lebih dari 70% atau lebih dari 50% untuk orang tua), hipoglikemia (<3-9 mmol/L) lebih dari 4% (<1% untuk orang tua).

Individualisasi tujuan untuk mengontrol kadar glukosa darah diperlukan dalam pengobatan pada pasien dengan diabetes:

  • Untuk pasien yang tidak pikun dengan COVID-19 tipe ringan atau biasa, target glukosa adalah sebagai berikut: glukosa darah puasa 80 ~ 110 mg / dL, 2 jam glukosa darah postprandial atau acak 110 ~ 140 mg / dL.
  • Untuk pasien yang lebih tua dengan tipe COVID-19 ringan atau biasa atau menggunakan glukokortikoid, tujuannya kurang ketat: glukosa darah puasa 110 ~ 140 mg / dL, 2 jam postprandial atau glukosa darah acak 140 ~ 180 mg / dL
  • Dalam kasus COVID-19 yang parah atau sakit parah, glukosa darah puasa 140 ~ 180 mg / dL dan 2 jam glukosa darah postprandial atau acak 140 ~ 250 mg / dL harus dicapai.

 

Analisis Berbasis Molekuler untuk Identifikasi COVID-19

Mutasi Virus

  • Peneliti dari Cambridge University menganalisis dan menemukan 3 strains berbeda dari SARS-CoV-2 (tipe A, B, dan C)
  • Tipe A adalah virus asli yang menulari manusia dari kelelawar via trenggiling. Terdapat dua sub-klaster yakni mutasi sinonim T29095C (T-allele di Guangdong dan C-allele di Wuhan)
  • Tipe B adalah tipe yang tersebar di Wuhan, diturunkan dari tipe A, bermutasi dengan lambat di Cina, namun bermutasi dengan cepat di luar Cina. Memiliki 2 mutasi yakni mutasi sinonim T8782C dan mutasi nonsinonim C28144T yang merubah leucin menjadi serine.
  • Tipe C adalah mutasi dari tipe B, menyebar ke Eropa via Singapore. Mutasi nonsinonim G26144T yang mengubah glisine menjadi valine.
  • Para ilmuwan percaya virus ini terus bermutasi untuk mengatasi resistensi sistem kekebalan pada populasi yang berbeda.

Deteksi Berdasarkan Nukleotida

  • Menurut pedoman dari kementerian kesehatan, terdapat 3 kategori orang yang harus melekukan pemeriksaan laboratorium menggunakan Real Time PCR gen N, yakni pasien dalam pengawasan, orang dalam pemantauan, dan kontak erat. Orang yang memiliki kontak erat dengan pasien dengan COVID-19 perlu melakukan contatct tracing, social and physical distancing, serta pembatasan social berskala besar. Real Time PCR gen N menggunakan specimen berupa sputum, serum, atau usapan pada nasofaring. Apabila hasilnya positif, maka perlu dilakukan konfirmasi ke laboratorium rujukan nasional untuk dilakukan sekuensing untuk mengkonfirmasi COVID-19. Sekuensing ini merupakan proses untuk menentukan sekuens DNA dari COVID-19.
  • rRT-PCR (Real Time Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction) merupakan metode untuk mendeteksi adanya materi generic dari pathogen, termasuk virus.
  • Awalnya, metode ini menggunakan penanda isotop radioaktif untuk mendeteksi materi genetik, tetapi pemurnian berikutnya mengarah kepada penggantian dengan pewarna fluorescent (probe).
  • Dengan teknik ini, para ilmuwan dapat melihat hasilnya hampir segera saat proses masih berlangsung (proses kuantifikasi real-time)
  • Metode ini dianggap sebagai generasi terbaru dari RT-PCR, karena RT-PCR konvensional hanya dapat memberikan hasil di akhir.
  • Dalam kasus COVID-19 ini, rRT-PCR diguanakan untuk deteksi kualitatif dari asam nukleat SARS-CoV-2 pada specimen saluran pernapasan atas maupun bawah. Hasil positif mengindikasikan keberadaan RNA dari SARS-CoV-2. RNA tersebut terdeteksi pada specimen selama fase akut infeksi.
  • Gen yang menjadi target deteksi rRT-PCR adalah E-protein yang ada pada SARS-CoV-2.

Prinsip dan Teknik dari PCR

  1. RNA mengalami reverse transcription
  2. DNA komplementer (cDNA) sebagai template
  3. Denaturasi template (cDNA)
  4. Penempelan promer pada template (annealing)
  5. Elongasi/amplifikasi dari produk yang ditargetkan
  6. Penempelan probe dan pengukuran fluoresensi (real time)
  7. Akhir siklus

Kondisi rRT-PCR: 50°C selama 15 menit, 95°C selama 3 menit, 45 siklus dalam 95°C selama 15 detik dan 60°C selama 30 detik.

Probe yang digunakan dalam quantitative PCR (qPCR) menggunakan real time fluorescence dari pembelahan 5′-3′exonuclease berlabel fluoresensi

Interpretasi Hasil

  • Positif: adanya RNA SARS-CoV-19. Riwayat pasien dan informasi diagnosis diperlukan untuk menentukan status infeksi pasien. Hasil ini tidak mengesampingkan infeksi bakteri atau koinfeksi dari virus lain. Agen yang terdeteksi mungkin tidak menjelaskan penyebab dari penyakit.

 

  • Negative: Hasil negatif tidak menghalangi infeksi SARS-CoV-2. Hasil ini juga tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk keputusan manajemen pasien. Hasil ini harus dikombinasikan dengan observasi klinis, riwayat pasien, dan informasi epidemiologi.

Rapid Diagnostic Test (Serology-based)

  • Deteksi antigen: mendeteksi adanya protein virus (antigen) yang terekspresi dari COVID-19 pada sampel specimen saluran pernapasan pada manusia
  • Deteksi antibody: mendeteksi adanya antibody yang dihasilkan oleh tubuh pasien yang muncul karena adanya virus COVID-19.

 

  • Target antigen:

CoV menggunakan spike glikoproteinnya (S)—target utama untuk netralisasi antibody—untuk mengikat reseptornya, dan memediasi fusi membran dan masuknya virus. Spike glikoprotein itulah yang menjadi target dalam tes.

Prinsip:

Antigen tersebut akan berikatan dengan antibodi spesifik yang dipasang pada strip kertas yang tertutup dalam selubung plastik dan menghasilkan sinyal yang dapat dideteksi secara visual.

Parameter yang mempengaruhi rapid test dengan antigen sebagai targetnya:

Waktu dari onset penyakit, konsentrasi virus dalam specimen, kualitas specimen yang diambil, formula reagen di dalam kit.

  • Target Antibodi:

Antibody di dalam specimen darah diikat oleh antigen SARS-CoV-19 yang berlabel reagen kolorimetri ema dan ditangkap oleh antibody IgM anti-SARS-CoV-2 pada garis uji IgM, dan antibodi IgG anti-SARS-CoV ‐ 2 di garis IgG. Jika spesimen tidak mengandung antibodi SARS-CoV-2, tidak ada kompleks berlabel yang terikat pada zona uji dan tidak ada garis yang dapat diamati.

Sisa emas koloid akan naik pada nitroselulosa ke zona garis kontrol.

 

Hasil positif akan menunjukkan garis berwarna merah muda seperti pada bagian control. IgG positif diartikan dengan garis merah muda pada bagian T1—mengindikasikan kemungkinan positif infeksi COVID-19. IgM positif diartikan dengan garis merah muda pada bagian T2—mengindikasikan kemungkinan positif infeksi COVID-19. IgM dan IgG positif dengan adanya garis pada T1 dan T2 mengindikasikan kemungkinan positif infeksi COVID-19.

 

Test akan dikatakan invalid jika tidak muncul garis merah muda pada bagian control.

Pertimbangan menggunakan rapid test untuk deteksi antibody: serokonversi akan muncul antara 7-12 hari setelah gejala timbul, sehingga diperlukan waktu untuk mengembangkan IgG spesifik.

 

  • Rekomendasi WHO

Direkomendasikan untuk menggunakan metode amplifikasi asam nukleat seperti RT-PCR. Tes serologi (rapid test) tidak direkomendasikan untuk deteksi kasus. Namun, tes tersebut akan memainkan peran dalam penelitian dan pengawasan. Tes diagnostik cepat untuk deteksi antigen untuk COVID19 perlu dievaluasi dan saat ini tidak direkomendasikan untuk diagnosis klinis, meskipun penelitian ke dalam kinerja dan potensi utilitas diagnostik sangat dianjurkan.

 

Supervisor:
  • Nadiya Nurul
Visualitator:
  • Putri Kholilah
Diabetes mellitus Diagnosis

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here