Trending

Kenali Macam-macam Area Suntik

Swamedikasi Diare

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

INFORMASI OBAT: GOLONGAN PENGHAMBAT KANAL KALSIUM ATAU CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB)

MSD x HAI: “Modelling to estimate the cost-effectiveness of interventions for mitigating the COVID-19 ” & “How can help a diabetes patients to control their HbA1c during pandemic”

MSD x HAI: “Modelling to estimate the cost-effectiveness of interventions for mitigating the COVID-19 ” & “How can help a diabetes patients to control their HbA1c during pandemic”

  • 164

MSD x Halo Apoteker Indonesia

 

Di tengah pandemic Covid19 ini, kerjasama Halo Apoteker Indonesia, Pusat Unggulan IPTEK Perguruan Tinggi Inovasi Pelayanan Kefarmasian Universitas Padjadjaran, bersama dengan MSD Indonesia melakukan webinar dengan tema:

 

🌟1 Jam Bicara: Covid19!

Diskusi dan update ilmu dengan tema

“Mathematical modelling to estimate the cost-effectiveness of non-pharmacology and pharmacology interventions for mitigating the COVID-19 pandemic” dan “How can help a broad range of diabetes patients in your practice to control their HbA1c during pandemic” yang dipandu oleh Apt Derisha Putri dari MSD Indonesia.

Dilaksanakan pada tanggal;

Rabu, 18 Mei 2020.

Pukul 15.00-17.00 WIB!

 

Webinar ini diikuti oleh berbagai profesi tenaga kesehatan, dengan jumlah partisipan lebih dari 200 orang.

 

Berikut konten materi webinar yang kami rangkum khusus untuk sahabat HAI:

“Mathematical modelling to estimate the cost-effectiveness of non-pharmacology and pharmacology interventions for mitigating the COVID-19 pandemic”

  • Terjadi pandemic global yang tercatat dari mulai tahun 1981 hingga 2015 yang berdampak pada bidang ekonomi, social, serta politik.
  • Pada 2017, World Bank mencatat Indonesia berada pada kuintil 3 yang menandakan bahwa Indonesia tidak siap menghadapi pandemik.
  • Pertumbuhan ekonomi akan menurun karena pandemi COVID-19
  • Pandemic ini akan meningkatkan tingkat kemiskinan dan yang paling terdampak adalah pada sector manufaktur.
  • Melandaikan kurva pandemic adalah focus dari kebijakan yang harus dikeluarkan. Tanpa intervensi public health, kurva pandemic akan meningkat tajam, sedangkan kurva akan melandai jika terdapat intervensi dari public health. Semakin landai kurva, kasus akan lebih mudah teratasi.
  • Selain itu, kebijakan makroekonomi juga perlu diperhatikan agar tingkat keparahan resesi juag melandai.
  • Terdapat 4 skenario yang perlu disiapkan dan strategi bisnis yang sesuai
  1. skenario resesi jangka pendek, di mana kebijakan pemerintah berjalan efektif dan vaksin cepat ditemukan. Strategi tersebut perlu dipertahankan.
  2. Scenario resesi berkepanjangan, di mana kebijakan pemerintah tidak efektif dan vaksin cepat ditemukan. Strategi yang dibutuhkan adalah perlu adanya strategi yang lebih ringkas.
  3. Skenario ketahanan, di mana kebijakan efektif namun penemuan vaksin berlangsung lama. Maka strategi yang diperlukan adalah pembaruan strategi.
  4. Scenario kacau, di mana kebijakan pemerintah tidak efektif dan vaksin ditemukan dalam jangka yang relative lama. Maka, strategi yang berlaku harus disudahi dan diberlakukan strategi yang baru.
  • Skenario Mitigasi Pandemi
  1. Mengurangi interaksi antara populasi yang terinfeksi dan yang tidak terinfeksi, misal dengan social distancing. Intervensi ini termasuk intervensi nonfarmakologi dan menjadi pilihan utama bila obat/vaksin belum tersedia.
  2. Mengurangi infeksi pada pasien bergejala, dengan antiretrovirus atau antibiotic.
  3. Mengurangi kerentanan individu yang tidak terinfeksi, dengan menggunakan vaksin.
  • Dari scenario mitigasi pandemic tersebut muncullah pertanyaan, apakah WFH (work from home) cost effective? Maka dilakukanlah penelitian berjudul “Biaya dan dampak penutupan sekolah dan tempat kerja untuk mengurangi pandemi COVID-19 di Jakarta, Indonesia”
  • Objek penelitian tersebut menginvestigasi biaya dan efek dari strategi alternative untuk mitigasi pandemic COVID-19 di Jakarta dengan membandingkan baseline tanpa intervensi pada penutupan sekolah dan penutupan tempat kerja selama 2, 4, dan 8 minggu.
  • Kesimpulan dari penelitian adalah semakin lama durasi penutupan sekolah maupun penutupan tempat kerja, semakin cost-saving juga jumlah kematian dapat dihindari.
  • Model yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah model SEIR (suspectible, exposed, infected, recovered). Model ini digunakan untuk memprediksi angka yang terinfeksi.
  • Input parameter yang dalam model tersebut beragam dari mulai basic reproduction number, periode inkubasi, periode infeksi, dll.
  • Rt atau effective reproduction number adalah ukuran kunci seberapa cepat virus berkembang. Nilai Rt ini adalah jumlah rata-rata orang yang terinfeksi oleh orang yang terinfeksi. Jika Rt di atas 1.0, virus akan menyebar dengan cepat. Ketika Rt di bawah 1.0, virus akan berhenti menyebar. Menurut WHO, ketika nilai Rt<1, berulah boleh dilaksanakan relaksasi PSBB.
  • Menurut penelitian, total pandemic cost akan menurun seiring adanya intervensi.
  • Poin-poin penting dari implementasi intervensi non-farmakologis untuk mengurangi COVID-19:
  1. Semua skenario mitigasi dianggap hemat biaya.
  2. Meningkatkan durasi penutupan sekolah dan penutupan tempat kerja akan lebih hemat biaya dan jumlah kematian bisa dihindari.
  3. Upah per hari, periode infeksi, jumlah reproduksi dasar, periode inkubasi, dan tingkat kematian kasus adalah parameter yang paling berpengaruh yang mempengaruhi penghematan dan jumlah kematian yang dapat dihindari dalam semua skenario mitigasi.
  • Meskipun begitu, intervensi farmakologi lebih cost effective/hemat biaya dibandingkan dengan intervensi non-farmakologi. Intervensi farmakologi diantaranya seperti vaksin dan pengobatan. Namun, hingga kini belum ditemukan vaksin maupun obat spesifik untuk mengatasi COVID-19.
  • Selain itu, kombinasi intervensi farmakologi dan non-farmakologi dalam mitigasi pandemic  (menurut pengalaman pandemic influenza yang lalu) tentunya akan lebih hemat biaya. 

 

“How can help a broad range of diabetes patients in your practice to control their HbA1c during pandemic”

Covid-19 di Indonesia: Latar Belakang dan Epidemiologi

  • Covid-19 (Coronavirus Disease-2019) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Corona SARS-COV2 (Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus-2) dan merupakan penyakit menular yang telah menyebar di lebih dari 100 negara di Dunia termasuk di Indonesia.
  • Penyakit ini terutama menyebar melalui droplet. Selain itu, virus juga telah ditemukan dalam tinja dan urin orang yang terinfeksi.
  • Tingkat keparahan penyakit bervariasi mulai dari penyakit ringan seperti flu yang sembuh sendiri hingga pneumonia fulminan, gagal napas, dan kematian.
  • Di Indonesia sendiri terdapat 5923 kasus dengan 80,972% sedang dalam pengobatan, 10,248% terkonfirmasi sembuh, dan kematian sebesar 8,779%.

Diabetes: Bagaimana mendiagnosis Diabetes?

  •  Fasting Plasma Glucose (FPG) ≥ 126 mg/dL (7.0 mmol/L), puasa tanpa mengonsumsi kalori kurang lebih 8 jam, atau
  • 2-h PG ≥ 200 mg/dL (11.1 mmol/L) during OGTT (Oral glucose tolerance test), atau
  • A1C ≥ 6,5% (48 mmol/mol), atau
  • Random glukosa plasma ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L).
  • Diagnosis membutuhkan dua hasil tes abnormal dari sampel yang sama atau dalam dua sampel uji terpisah.

Diabetes, Infeksi Pernapasan, dan COVID-19

  • seseorang dengan diabetes memiliki risiko infeksi, terutama influenza dan pneumonia.
  • Bisakah risiko dikurangi? Dengan control kadar glukosa yang baik, risiko dapat dikurangi (bukan berarti risiko hilang)
  • Semua orang dengan diabetes (di atas 2 tahun) direkomendasikan vaksinasi pneumokokus dan influenza tahunan.
  • Diabetes dipandang sebagai faktor risiko penting untuk kematian pada pasien yang terinfeksi H1N1 tahun 2009, SARS, dan MERSCoV—prevalensi COVID-19 dan perjalanan penyakit pada penderita diabetes akan berkembang seiring dengan analisis yang lebih rinci. Namun, pasien dengan diabetes muncul pada 42,3% dari 26 kefatalan karena COVID-19 di Wuhan, China.
  • Pasien dengan diabetes dan penyakit jantung atau penyakit ginjal lainnya perlu perawatan khusus dan upaya harus dilakukan untuk menstabilkan status jantung / ginjal mereka.

Mengapa kontrol glukosa sangat penting dalam situasi COVID-19?

Strategi  pencegahan untuk penyakit diabetes dibagi menjadi 3 fase:

  1. Pencegahan primer dimungkinkan selama tahap pra-diabetes [gangguan glukosa puasa (IFG) / toleransi glukosa yang terganggu (IGT)], sebelum perkembangan diabetes mellitus. IGT : 140-199 mg/dl. IFG : 100-125 mg/dl.
  2. Pencegahan sekunder: strategi pencegahan yang dilakukan setelah diabetes telah terdeteksi untuk mencegah atau menunda perkembangan komplikasi jangka panjang dari penyakit.
  3. pencegahan tersier: dilakukan pada tahap ketika komplikasi telah terjadi, dengan tujuan mencegah perkembangan komplikasi ini.

Setiap penurunan 1% pada A1C akan mengurangi risiko komplikasi terkait diabetes.

Apa yang Perlu Kita Lakukan dengan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Terinfeksi oleh COVID-19?

  • Pasien harus mengikuti sick day guidlines dan mungkin perlu lebih sering memantau glukosa darah dan melakukan penyesuaian obat.

Penyakit yang biasanya memberikan efek pada level glukosa darah:

  • Flu, termasuk COVID-19
  • Sakit t enggorokan
  • Infeksi saluran kemih
  • Bronchitis atau infeksi pernapasan
  • Nyeri perut dan diare
  • Infeksi kulit seperti abses
  • Meningkatnya kadar kortisol juga dapat berdampak pada kadar glukosa darah.

 

Apa yang terjadi pada orang dengan diabetes?

  1. Tubuh bereaksi mengeluarkan hormone untuk melawan penyakit
  2. Hormone yang dikeluarkan meningkatkan glukosa darah dan pada waktu yang sama membuat insulin sulit mengendalikannya
  3. Orang dengan diabetes, meski dengan penyakit ringan dapat menyebabkan level gula darah yang berbahaya yang dapat menyebakan komplikasi seperti diabetes ketoasidosis, atau hiperglikemik hyperosmolar.

 

Diabetes Mellitus, SARS-CoV2, dan ACE2

Terdapat beberapa kekhawatiran tentang ACE2 sebagai reseptor SARS-CoV2, serta perasn ACE2 dalam cedera paru; terdapat hasil yang bertentangan dengan penggunaan ACE inhibitor dan obat golongan ARB.

Mikroangiopati terjadi pada saluran pernapasan pasien dengan DM sehingga menghambar pertukaran udara di paru-paru. Kerusakan tersebut akan lebih parah jika pasien dengan DM mengalami pneumonia akut karena SARS-CoV2. Hal ini dikarenakan penurunan kadar ACE2.

Apa yang Perlu Kita Lakukan dengan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Terinfeksi oleh COVID-19?

Orang yang hidup dengan diabetes, pengasuh mereka, dan orang tua dari anak-anak yang hidup dengan diabetes harus bekerja dengan tim perawatan kesehatan mereka untuk membuat rencana penyakit. Ada 4 titik focus:

  1. target glukosa darah selama sakit
  2. seberapa sering melakukan pengecekan kadar gula darah dan keton
  3. kapan waktunya menghubungi tenaga kesehatan
  4. bagaimana cara menyesuaikan obat-obatan mereka (misalnya cara menyesuaikan dosis insulin dan kapan harus menggunakan insulin). Ketika sakit, insulin tambahan mungkin diperlukan karena kadar glukosa darah dapat meningkat bahkan jika pasien tidak dapat makan atau minum secara normal.

Apa yang harus diketahui oleh penderita T2DM dalam Situasi Pandemic Covid-19?

  1. Gejala ketoasidosis: glukosa darah lebih dari 270 mg/dl, ada keton di dalam urin, haus.
  2. Cari pertolongan bila: muntah, napas cepat dengan nafas berbau buah, nyeri perut, berkurangnya kesadaran.
  3. Gejala yang mengindikasikan level gula darah yang tinggi: haus atau mulut terasa kering, mengeluarkan banyak urin yang dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan, turun berat badan.
  • Langkah-langkah manajemen pasien diabetes dengan covid-19
  1. Jika seseorang dengan diabetes terserang demam, batuk, pilek atau dyspnoea, otoritas kesehatan yang tepat perlu diberitahu karena tes untuk penyakit ini hanya tersedia di tempat-tempat tertentu saja.
  2. Orang yang terkena harus diisolasi selama 14 hari atau sampai gejalanya hilang (mana yang lebih lama). Pedoman khusus negara harus dipatuhi.
  3. Sebagian besar pasien memiliki penyakit ringan dan dapat dikelola di rumah. Hidrasi harus dipertahankan dan pengobatan simtomatik dengan asetaminofen, inhalasi uap dll dapat diberikan.
  4. Pasien dengan diabetes tipe 1 harus sering mengukur glukosa darah dan keton urin jika demam dengan hiperglikemia terjadi. Perubahan yang sering dalam dosis dan bolus korektif mungkin diperlukan untuk mempertahankan normoglikemia
  5. Agen anti-hiperglikemik yang dapat menyebabkan penurunan volume atau hipoglikemia harus dihindari. Dosis obat anti-diabetes oral mungkin perlu dikurangi.
  6. Pasien yang dirawat karena penyakit yang parah harus memonitor kadar glukosa darah. Agen antidiabetes oral harus dihentikan, seperti metformin dan inhibitor glukosa sodium kotransporter 2.
  7. inhibitor remdesivir, dan chloroquine, serta zinc dan vitamin c telah dilaporkan—sehubungan dengan belum adanya antivirus spesifik dan belum adanya vaksin yang tersedia.
  • Manajemen untuk orang dengan DM tipe 2 dengan pengobatan tablet:
  • Agen anti-hiperglikemik yang dapat menyebabkan penurunan volume atau hipoglikemia harus dihindari. Dosis obat anti-diabetes oral mungkin perlu dikurangi
  • Metformin dapat dilanjutkan. Tetapi jika perlu untuk berhenti minum metformin karena keparahan penyakit, maka pengobatan alternatif perlu dilakukan sampai pengobatan metformin dapat dilanjutkan.
  • menjaga kadar glukosa darah antara 6 dan 10 mmol/l (110 dan 180 mg/dl).
  • Mereka mungkin perlu menguji kadar glukosa darah mereka setidaknya dua kali sehari.

Target farmakologi dari obat-obatan yang digunakan untuk mengatasi DM tipe 2

  • GLP-1 receptor agonist: meningkatkan penginderaan glukosa oleh pancreas, memperlambat pengosongan lambung, meningkatkan rasa kenyang.
  • Biguanide/metformin: menurunkan konsumsi makanan, dan produksi gula oleh hati, menurunkan resistensi insulin.
  • Sulfonylurea: meningkatkan sekresi insulin dari sel beta pancreas.
  • Glinides: meningkatkan sekresi insulin dari sel beta pancreas.
  • DPP-4 inhibitors: memperpanjang aksi GLP-1 sehingga meningkatkan kemampuan pancreas untuk mendeteksi glukosa.
  • Thiazolidinediones: menurunakan lipolysis di jaringan adipose, meningkatkan pengambilan glukosa pada otot dan menurunkan produksi glukosa oleh hati
  • SGLT-2 inhibitor: menurunkan ambang glukosa di ginjal sehingga meningkatkan ekskresi glukosa di ginjal.
  • Alfa-glukosidase inhibitor: menunda absorpsi karbohidrat di pencernaan.

DPP4i dan COVID-19

DPP4I dapat mewakili target potensial untuk mencegah dan mengurangi risiko dan perkembangan komplikasi pernapasan akut yang muncul pada diabetes tipe 2 dengan infeksi COVID-19. DPP4 sendiri merupakan enzim yang berperan penting pada regulasi insulin dan respon inflamasi pada tubuh, sehingga penekanan DPP4 oleh DPP4i dapat membantu mengobati infeksi COVID-19.

Dibandingkan dengan agen antidibetes oral yang lainnya, golongan DPP4i (sitagliptin, linagliptin, dan saxagliptin) secara umum dapat diteruskan pada pasien DM2 dengan COVID-19. Sitagliptin merupakan golongan DPP4i yang sering digunakan. Ia dapat menurunkan HbA1C sekitar 0,5-1,5%, dikonsumsi 100 mg sehari sekali, dapat digunakan sebagai monoterapi maupun dikombinasi, memiliki efek samping yang sama dengan placebo, weight neutral profile, belum ada kontraindikasi yang teridentifikasi.

  • Manajemen untuk orang dengan DM tipe 2 dengan pengobatan insulin:

 

  • Menjaga kadar glukosa darah antara 6 dan 10 mmol/l (110 dan 180 mg / dl).
  • Jika kadar glukosa darah tetap di atas 10 mmol / l (180 mg / dl), mereka harus meningkatkan dosis insulin mereka. Tes glukosa darah ekstra seringkali diperlukan. Pengujian harus dilakukan setiap empat jam, terutama jika kadar glukosa darahnya tinggi (lebih dari 15 mmol / l [270 mg / dl]).
  • Keton: Jika kadar glukosa darah terlalu tinggi (lebih dari 15 mmol / l [270 mg / dl]), maka mereka mungkin perlu melakukan tes urine untuk keton. Jika positif, mereka harus menghubungi penyedia layanan kesehatan mereka untuk meminta nasihat.

 

 

 

 

Supervisor:
  • Nadiya Nurul
Visualitator:
  • Putri Kholilah
Diabetes mellitus

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here