Trending

Kenali Macam-macam Area Suntik

Swamedikasi Diare

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

INFORMASI OBAT: GOLONGAN PENGHAMBAT KANAL KALSIUM ATAU CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB)

Info Obat: Metformin

Info Obat: Metformin

  • 1231

Penyakit diabetes mellitus (DM) atau yang lebih dikenal dengan penyakit gula oleh masyarakat awam merupakan sindrom metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia), dimana glukosa merupakan bentuk gula sederhana yang terdapat dalam darah. Gejala umum diabetes yang mudah dikenali yaitu sering buang air kecil, sering haus, terdapat penurunan berat badan, sering merasa lapar sehingga nafsu makan meningkat, dan penglihatan yang kabur(1). Sebelum seseorang mengalami penyakit DM, terdapat kondisi yang dinamakan prediabetes. Prediabetes adalah istilah untuk seseorang yang kadar glukosanya tidak memenuhi syarat untuk kondisi diabetes tetapi terlalu tinggi untuk dapat dikatakan normal. Prediabetes meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit DM. Tanda dari prediabetes yaitu memiliki kadar glukosa puasa 100-125 mg/dL (5.6-.9 mmol/L), dan atau kadar glukosa 2 jam setelah makan 140-199 mg/dL (7.8-11 mmol/L), dan atau kadar HbA1C 5.7-6.4% (39-47 mmol/mol)(2).

 

DM terjadi karena adanya kerusakan pada sekresi/produksi insulin, kinerja insulin, atau keduanya. Adapun insulin merupakan hormon yang dihasilkan oleh pankreas yang mengatur kadar glukosa dalam darah. Berdasarkan penyebabnya tersebut, secara umum DM dibedakan menjadi dua tipe yaitu tipe 1 dan tipe 2. DM tipe 1 yaitu saat terdapat kerusakan pada sel pankreas sehingga jumlah insulin berkurang mutlak, sedangkan DM tipe 2 yaitu saat terdapat penurunan kerja insulin atau jumlah insulin yang tersedia tidak bekerja secara memadai untuk mengontrol kadar gula darah dalam batas normal. Selain dua tipe tersebut, ada juga yang dinamakan “diabetes gestasional” yaitu kondisi diabetes yang terjadi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan, meski sebelum kehamilan tidak terdeteksi kondisi diabetes(2).

 

Metformin merupakan obat pilihan pertama dalam penanganan penyakit diabetes mellitus tipe 2(3). Selain itu metformin juga dapat digunakan untuk mencegah timbulnya diabetes pada pasien prediabetes, terutama pada pasien yang juga merupakan obesitas (BMI ≥ 35 kg/m2), pasien lansia (>60 tahun), dan pasien wanita yang memiliki riwayat diabetes gestasional(2,3,4).

 

Hal apa saja sih yang harus kita ketahui tentang metformin?

Obat metformin termasuk golongan obat apa?

Metformin termasuk golongan obat keras sehingga hanya dapat diperoleh setelah menerima konsultasi dan resep dari dokter. Tidak disarankan untuk memutuskan sendiri pemakaian atau penghentian obat ini tanpa saran dari dokter.

 

Ada berapa jenis obat metformin yang tersedia di pasaran?

Berdasarkan kandungannya, metformin tersedia secara tunggal atau kombinasi dengan obat antidiabetes lainnya (contohnya metformin+linagliptin, metformin+glimepirid, metformin+glibenklamid, dan lain-lain).

Sedangkan berdasarkan jenis tabletnya, metformin tersedia dalam tablet immediate release dan extended release. Perbedaannya, pada jenis tablet extended release memungkinkan obat untuk bekerja dalam durasi yang lebih panjang sehingga bisa meminimalkan frekuensi minum obat.

 

Berapa dosis dan aturan pakai obat metformin?

Metformin immediate release tersedia dalam dosis 500, 850, dan 1000 mg. Aturan pakainya yaitu sehari 2 x 1 tablet 500 mg atau sehari 1 x tablet 850 mg untuk penggunaan awal, dan sehari 3 x 1 tablet 500 mg atau 3 x 1 tablet 850 mg untuk terapi pemantauan rutin, atau sesuai yang diresepkan oleh dokter. Tidak diperbolehkan mengonsumsi metformin immediate release lebih dari 2550 mg/hari(4).

Metformin extended release tersedia dalam dosis 500, 750, dan 1000 mg. Aturan pakainya yaitu sehari 1 x 1 tablet 500 mg atau sehari 1 x 1 tablet 750 mg, atau 1 x 1 tablet 1000 mg, atau sesuai yang diresepkan oleh dokter. Tidak diperbolehkan mengonsumsi metformin extended release lebih dari 2000 mg/hari(4).

 

Bagaimana cara meminum obat metformin?

Metformin diminum dengan menelan tablet secara utuh, tidak dikunyah atau dihancurkan terlebih dahulu dan dibarengi segelas air putih. Metformin sebaiknya diberikan bersama makanan sehingga metformin sebaiknya diminum “saat makan” atau “segera setelah makan”.

Hal ini karena metformin tidak bekerja dengan meningkatkan produksi insulin, metformin bekerja meningkatkan kinerja insulin endogen (insulin dalam tubuh), sehingga tetap dibutuhkan insulin pada tubuh untuk pengaturan kadar glukosa darah yang memadai. Adapun insulin pada tubuh akan banyak diproduksi ketika makan. Selain itu, pemberian bersama makanan bertujuan untuk meminimalkan efek samping metformin pada saluran cerna, terutama diare dan mual. Efek samping ini tidak muncul di semua orang dan bila muncul biasanya saat beberapa minggu awal pemakaian(5).

Metfromin immediate release diminum sesuai aturan pakai dan jam makan, contohnya bila sehari 2 kali maka bersamaan makan pagi dan makan malam. Adapun metformin extended release diminum biasanya bersamaan makan malam bila aturan pakainya sehari 1 kali(4,5).

 

Bagaimana mekanisme kerja obat metformin?

Metformin merupakan obat golongan biguanida. Metformin mengurangi kadar gluosa darah dengan meningkatkan efek insulin sehingga disebut “insulin sensitisizer”. Metformin bekerja membantu memperbaiki respon tubuh terhadap insulin atau meningkatkan sensitivas sel tubuh terhadap insulin, menurunkan penyerapan glukosa pada saluran cerna, dan menurunkan glukosa yang dihasilkan oleh hati(4,6).

 

Apakah obat metformin menyebabkan hipoglikemia?

Metformin biasanya jarang menyebabkan hipoglikemia tetapi hipoglikemia dapat terjadi bila penggunaan metformin digunakan bersamaan dengan obat antidiabetes lainnya. Hipoglikemia mungkin terjadi bila kalori yang dikonsumsi melalui makanan kurang cukup, adanya olahraga berat atau konsumsi alkohol dalam jumlah besar(6).

Hipoglikemia yaitu kondisi saat kadar glukosa darah rendah yaitu <70 mg/dL, cirinya yaitu gemetar, cemas, berkeringat, detak jantung meningkat, pusing, kepala terasa ringan, kelaparan, mual, mengantuk, lemas tak berenergi, penglihatan kabur, sakit kepala, kejang (7).

 

Apa saja efek samping obat metformin?

Perlu diketahui bahwa efek samping obat tidak selalu muncul pada setiap orang. Namun perlu diketahui potensi efek samping dari obat yang akan dikonsumsi.

Efek samping metformin secara umum diantaranya yaitu mual, muntah, nyeri perut, diare, konstipasi, lemas, pusing, kembung, heartburn (sensasi panas pada dada), flatulens (buang angin), nyeri otot,  dan rasa pahit pada mulut (4,6).

Penggunaan metformin secara jangka panjang tidak meningkatkan berat badan (dibandingkan dengan penggunaan obat antidiabetes lainnya) (6), menurunkan kadar vitamin b12 dalam tubuh (terutama pada pasien anemia dan neuropati perifer) sehingga diperlukan pengukuran secara berkala atau konsumsi vitamin b12 tambahan untuk mengatasinya(34,).

Efek samping serius dari metformin yaitu asidosis laktat, tetapi efek samping ini jarang terjadi. Gejalanya pusing, kantuk berat, nyeri otot, kelelahan, kulit kedinginan dan membiru, kesulitan bernapas atau bernapas dengan cepat, detak jantung tidak beraturan, nyeri perut dengan diare, mual dan muntah. Asidosis laktat ini berpotensi muncul bila metformin diberikan pada pasien dengan kondisi medis tertentu seperti infeksi serius, penyakit ginjal dan hati, kondisi lainnya yang menyebabkan sirkulasi darah memburuk atau menurunkan kadar oksigen dalam darah (seperti stroke, gagal jantung kongestif, dan serangan jantung), penggunaan alkohol dalam jumlah besar, dehidrasi, penggunaan obat kontras iodine untuk prosedur xray, dan pasien dengan usia lebih dari 80 tahun(6).

 

Apakah obat metformin aman digunakan pada ibu hamil dan menyusui?

Penggunaan metformin pada ibu hamil dan menyusui memerlukan konsultasi dengan dokter.

Metformin dapat meningkatkan sensitivitas insulin selama kehamilan dan ini menguntungkan untuk pasien diabetes gestasional. Metformin saat ini dikategorikan sebagai kategori B oleh FDA Amerika, yang mengimplikasikan bahwa studi pada hewan tidak menunjukkan risiko pada janin tetapi masih kurang data memadai untuk studi pada manusia(7,8).

Beberapa guideline pengobatan ada yang merekomendasikan metformin sebagai pilihan pertama untuk diabetes gestasional (terutama pada trimester kedua dan ketiga) seperti NICE Inggris, FIGO (Federation International of Gynecology and Obstetrics). Ada pula yang lebih merekomendasikan insulin karena masih kurangnya data penggunaan metformin yaitu seperti American Diabetes Association (ADA), American Congress of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) (8).

Efek metformin pada ibu hamil yaitu lebih sedikit risiko hipoglikemia, lebih rendah risiko naiknya berat badan saat, lebih sedikit risiko hipertensi yang diinduksi kehamilan. Efek metformin pada janin yaitu tidak meningkatkan risiko teratogenisitas (kerusakan pada janin), tidak meningkatkan risiko komplikasi perinatal, mengurangi hipoglikemia neonatal. Metformin dapat digunakan oleh ibu menyusui karena metformin dapat masuk ke dalam ASI hanya dalam jumlah yang sedikit atau tidak signifikan(7,8).

  • 1. American Diabetes Association. 2012. Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. Diabetes Care 2012 Jan; 35 (Supplement 1): S64-S71.
  • 2. American Diabetes Association. 2019. Classification and Diagnosis of Diabetes: Standards of Medical Care in Diabetes-2019. Diabetes Care 42 Suppl. 1: S13-S28.
  • 3. American Diabetes Association. 2018. Standards of Medical Care in Diabetes-2019 Abridged for Primary Care Providers. Diabetes Care 2018: 42 (Supplement 1): S1-S194.
  • 4. www.reference-medscape.co/drug/glucophage-metformin-342717
  • 5. Ruszala, V. 2013. Question From Practice: Diabetes-Missing Meals and Doses. Dapat diakses di: www.pharmaceutical-journal.com/learning/learning-article/question-from-practice-diabetes-missing-meals-and-doses/11123225
  • 6. Nasri, H and Rafieian-Kopaei, M. 2014. Metformin: Current Knowledge. Journal of Research in Medica Sciences (The Official Journal of Isfahan University of Medical Sciences: 19 (7): 658-664.
  • 7. Hague, W.M. 2007. Metformin in Pregnancy and Lactation. Aust Prescr: 30: 68-9. Dapat diakses di: www.nps.org.au/australian-prescriber/articles/metformin-in-pregnancy-and-lactation
  • 8. Priya, G, Kalra, S. 2018. Metformin in the Management of Diabetes During Pregnancy and Lactation. Drugs in Context 7 : 212523.
Informasi obat Obat

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here