Trending

Info Obat : Kortikosteroid, Obat Dewa?

Swamedikasi Diare

Sunscreen, SPF, dan yang Kita Pilih Selama Ini

Bagaimana Cara Menggunakan Obat di Bulan Ramadhan?

Kenali Tanda Keracunan dan Tindakan Pertama yang Bisa Kamu Lakukan

Kenali Tanda Keracunan dan Tindakan Pertama yang Bisa Kamu Lakukan

  • 104

Keracunan adalah luka atau kematian yang disebabkan menelan, menghirup, atau terinjeksi berbagai macam obat, bahan kimia, bahan beracun, atau gas. Banyak substansi – seperti obat dan karbon monoksida – beracun hanya dalam konsentrasi yang lebih tinggi. Jenis substansi lainnya seperti pembersih – berbahaya apabila dikonsumsi. Anak – anak lebih sensitif terhadap sejumlah kecil obat dan bahan kimia. Bahkan, anak – anak dapat mengalami keracunan oleh bahan yang tidak diklasifikasikan sebagai racun, seperti bahan kosmetik, bahan perawatan diri seperti sampo, body lotion, parfum, bahan pembersih, dan tumbuhan. 

Gejala keracunan juga mencakup muntah, kesulitan bernapas, mengantuk, luka bakar dan kemerahan pada bagian mulut dan bibir, napas yang berbau seperti bahan kimia, bingung ataupun perubahan status mental, bahkan dapat menyebabkan kondisi lain seperti kejang, intoksikasi alkohol, dan stroke.

Terdapat berbagai jenis keracunan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti keracunan makanan, keracunan obat, dan keracunan pestisida / organofosfat.

 

Keracunan Makanan

Gejala keracunan makanan bervariasi dan bergantung pada penyebabnya. Namun, gejala yang muncul umumnya adalah diare, muntah, dan nyeri perut. Berbagai gejala tersebut dialami seseorang sebagai upaya tubuh untuk mengeluarkan toksin (zat racun yang dibnetuk dan dikeluarkan dari organisme yang menyebabkan kerusakan radikal) dari dalam tubuh. Umumnya, keracunan makanan disebabkan oleh makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh bakteri, virus, parasit, atau toksin.

Berbagai bakteri yang menjadi penyebab utama keracunan makanan, yaitu:

  • E. coli

E. coli dapat menginfeksi tubuh sebagai akibat mengonsumsi daging yang belum dimasak ataupun susu yang belum terpasteurisasi. Bakteri E. coli dapat menular melalui feses dari orang yang terinfeksi dan menyentuh binatang tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. 

  • Salmonella

Anda dapat terinfeksi bakteri Salmonella dengan mengonsumsi makanan terkontaminasi seperti daging sapi, telur, sayuran atau buah-buahan, air minum yang terkontaminasi, atau menyentuh binatang yang telah terinfeksi dan kemudian tidak mencuci tangan setelahnya. Salmonella seringkali diketahui dapat menyebabkan tifoid.

  • Shigella

Shigella seringkali menginfeksi seseorang yang menggunakan air yang tercemar  untuk membersihkan makanan, dan biasanya dapat ditemukan pada makanan laut atau makanan mentah. Shigella merupakan penyebab disentri dengan gejala berupa diare yang disertai dengan darah atau mucus.

  • Hepatitis A Virus (HAV)

Virus ini umumnya disebarkan ketika seseorang yang tidak terinfeksi mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi feses. Penyakit ini terkait dengan kurangya sanitasi dan kurangnya personal hygiene.

  • Norovirus

Umumnya, Norovirus dapat ditemui pada buah dan sayuran mentah. Selain itu, Norovirus juga dapat ditemukan pada binatang laut bercangkang, seperti lobster dan kerang, yang terkontaminasi oleh air kotor. 

  • Clostridium perfringens

Umumnya ditemukan pada makanan yang dibiarkan pada ruangan terbuka terlalu lama, dan seringkali berada pada daging.

  • Campylobacter

Bakteri seperti ini seringkali ditemukan pada daging mentah, khususnya ayam, susu yang tidak terpasteurisasi, dan air yang terkontaminasi. 

  • Giardia intestinalis

Parasit ini dapat ditemukan pada makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh tinja.

  • Listeria

Listeria merupakan salah satu bakteri yang paling sedikit ditemukan apabila dibandingkan dengan bakteri lainnya. Listeria umumnya diperoleh dari makanan yang telah di-pack seperti hotdog dan lunch box siap saji. Ibu hamil perlu lebih berhati-hati karena bakteri terkait dapat menyebabkan keguguran.

Pengobatan Keracunan Makanan

Keracunan makanan umumnya menyebabkan seseorang kehilangan cairan (dehidrasi). Oleh karena itu, pasien dianjurkan untuk pergi ke rumah sakit sebagai upaya untuk mendapatkan injeksi intravena. Injeksi seperti ini akan menggantikan cairan dan elektrolit dengan lebih cepat. Untuk gejala keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri, antibiotik juga perlu diberikan. 

Hal yang Dapat Kamu Dilakukan di Rumah

Diare dan muntah dapat menyebabkan tubuh kehilangan keseimbangan cairan dan elektrolit. Elektrolit yang dimaksud adalah natrium dan kalium, yang membantu menjaga detak jantung agar tetap normal dan untuk mengontrol jumlah cairan di dalam tubuh. Oleh karena itu, hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Meminum banyak cairan, seperti air dan larutan elektrolit yang mengandung mineral seperti natrium, kalium, dan kalsium. Oralit juga merupakan salah satu obat yang dapat dimanfaatkan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh.
  2. Menghindari konsumsi berbagai makanan dalam waktu beberapa jam pertama hingga kondisi lambung pulih
  3. Mengonsumsi makanan dengan sejumlah kecil makanan non berlemak seperti nasi, biskuit
  4. Memperbanyak istirahat
  5. Menghindari produk susu, kafein, alkohol, atau makanan berlemak dan pedas yang dapat menyebabkan kondisi lambung memburuk

 

Keracunan Obat

Banyak sekali zat yang dapat menyebabkan bahaya, seperti obat bebas, obat resep, dan obat herbal. Risiko ini akan meningkat ketika suatu obat dikonsumsi bersamaan dengan obat lain. Keracunan obat atau seringkali dikenal sebagai overdosis terjadi ketika jumlah obat yang dikonsumsi berlebihan sehingga menimbuklan efek toksik pada tubuh. Berbagai gejala overdosis mencakup mual, muntah, kram perut, diare, pusing, kehilangan keseimbangan, kejang, keadaan mengantuk, kebingungan, kesulitan bernapas, pendarahan internal, halusinasi, gangguan penglihatan, bahkan koma. 

  • Keracunan Paracetamol

Paracetamol merupakan pelega nyeri dan demam yang umum digunakan dan seringkali dibeli secara bebas tanpa menggunakan resep dokter. Paracetamol merupakan obat yang paling umum digunakan oleh anak kecil dan obat ini umumnya digunakan seseorang untuk melukai dirinya sendiri sebagai usaha bunuh diri. Gejala keracunan paracetamol mencakup keadaan mengantuk, koma, kejang, nyeri perut, mual, dan muntah. Sesungguhnya, terdapat sedikit perbedaan antara dosis harian maksimum paracetamol dan overdosis obat yang seringkali menyebabkan kerusahkan hati. 

  • Keracunan Opioid

Opioid adalah zat aktif yagn diperoleh dari opium atau analog sintetiknya, seperti morfin dan heroin. Opioid berpotensi menyebabkan ketergantungan yang dikarakterisasikan dengan keinginan kuat untuk mengonsumsi opioid, bahkan keinginan kuat untuk tetap mengonsumsi opioid dibandingkan melakukan aktivitas lainnya. Keracunan opioid seringkali menyebabkan pupil membesar, kurangnya kesadaran, dan depresi saluran pernapasan. 

 

Pengobatan pada Pasien yang Mengalami Overdosis Obat

  1. Melakukan full assessment pada unit gawat darurat – yang mencakup uji darah, observasi, dan review psikologis
  2. Menghilangkan obat dari tubuh – sebagai contoh memberikan charcoal aktif, yang digunakan untuk mengikat obat sehingga tubuh tidak akan dapat mengabsorpsi obat terkait
  3. Mengadministrasikan antidot – sebagai contoh Nalokson HCl yaitu obat yang dapat mencegah overdosis opioid dan Asetilsistein sebagai antidotum parasetamol.
  4. Menginduksi muntah untuk menghilangkan substansi dari lambung

 

Keracunan Pestisida/Organofosfat

Organofosfat merupakan senyawa yang seringkali digunakan sebagai insektisida (isufoton, phorate, dimethoate, ciodrin, dichlorvos, dioxathion, ruelene, carbophenothion, supona, TEPP, EPN, HETP, parathion, malathion, ronnel, coumaphos, diazinon, trichlorfon, paraoxon, potasan, dimefox, mipafox, schradan, sevin, dan dimetonor) pada bahan kimia yang digunakan untuk berperang (gas seperti tabun dan sarin) dan berbentuk aerosol atau debu. Organofosfat dalam dosis besar seringkali menimbulkan bahaya bagi manusia dan binatang. Organofosfat umumnya merupakan cairan tidak berwarna hingga berwarna cokelat pada temperatur kamar. Selain itu, organofosfat dapat diabsorbsi melalui kulit dan membran mukosa atau inhalasi. Organofosfat juga digunakan dalam optalmologi – echothiopate. 

 

Berikut adalah mekanisme toksisitas organofosfat yaitu:

  • Inhibitor asetilkolinesterase yang membentuk ikatan kovalen stabil yang ireversibel terhadap enzim
  • Terjadi pada penghubung kolinergik pada sistem saraf termasuk penghubung parasimpatetik postganglionik (situs aktivitas muskarinik), ganglion autonomik, dan penghubung neuromuskular (situs aktivitas nikotinik), dan sinapsis khusus pada SSP. 
  • Asetilkolin adalah mediator neurohumoral pada penghubung kolinergik. Sebab asetilkolinesterase merupakan enzim yang mendegradasi asetilkolin dengan mengikuti simulasi saraf, dengan menghambat asetilkolinesterase, organofosfat akan menyebabkan asetilkolin terakumulasi dan menghasilkan stimulasi berlebihan yang diikuti dengan depresi. 

 

Gejala keracunan organofosfat yaitu :

  • Gejala muskarinik

(SLUDGE) salivation, lacrimation, urination, diaphoresis, gastrointestinal upset, emesis, dan akan mengakibatkan progresi yang mengarah pada bronkospasme, bronkorea, penglihatan yang kabur, bradikardia atau takikardia, hipotensi, kebingungan, dan syok. 

  • Gejala nikotinik

Otot rangka akan menghambat fasikulasi (kontraksi otot involunter yang tidak beraturan) diikuti dengan ketidakmampuan untuk melakukan repolarisasi membran sel yang menyebabkan kelemahan dan paralisis. Reaksi yang parah akan menyebabkan kegagalan ventilatori dan kematian (krisis kolinergik).

 

Komplikasi keracunan organofosfat, yaitu:

  • Gangguan metabolik, seperti hiperglikemia (gula darah tinggi) dan glikosuria (kelebihan gula di dalam urine)
  • Diabetic ketoacidosis, dimana darah akan memproduksi asam yang berlebih di dalam darah
  • Pankreatitis, atau inflamasi pada pankreas
  • Kanker
  • Gangguan neurologis, seperti kelemahan otot, menurunnya konsentrasi dan memori
  • Gangguan fertilitas
  • Paralisis 

 

Pengobatan Farmakologis

  • Atropin: paramedic akan memberikan obat ini untuk menstabilkan pernapasan.
  • Pralidoksim: diberikan oleh paramedic sebagai antidotum untuk mengembalikan kondisi paralisis otot yang dihasilkan dari keracunan pestisida. Ia merupakan agen nukleofilik yang mengikat molekul organofosfat.
  • Menggunakan cairan intravena untuk mempercepat pengeluaran toksin yang terkandung di dalam tubuh[8] .

 

Apa yang Perlu Dilakukan sebagai Pertolongan Pertama?

Sebelum bantuan tiba, alangkah baiknya langkah berikut dilakukan sebagai pertolongan pertama

  • Keracunan makanan. Keluarkan segala sesuatu dari mulut pasien. Apabila racun diduga berasal dari bahan kimia, maka baca label yang tercantum dalam wadah bahan terkait dan ikuti instruksi terkait kejadian kecelakaan keracunan.
  • Racun yang mengenai kulit. Pindahkan segala pakaian yang telah terkontaminasi menggunakan sarung tangan. Bilas kulit selama 15 hingga 20 menit dengan menggunakan shower.
  • Keracunan pada mata. Dengan perlahan, bilas mata dengan air dingin atau hangat selama minimal 15 menit hingga bantuan tiba.
  • Racun yang terinhalasi. Segera ke ruangan terbuka dan hirup udara segar.
  • Apabila pasien muntah, arahkan kepala ke bagian samping untuk mencegah cegukan.
  • Mulai lakukan CPR apabila pasien mulai hilang tanda-tanda kehidupan, seperti bergerak, bernapas, atau batuk.
Supervisor:
  • Sani Asmi Ramdani Lestari
Visualitator:
  • Raden Indah
  • 1. WebMd. (2019). Food Poisoning Treatment: What to Expect [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari WebMd: https://www.webmd.com/food-recipes/food-poisoning/understanding-food-poisoning-treatment#1
  • 2. Mayo Clinic. (2018). Poisoning: First Aid [Online]. Diakses pada 25 Julli 2019, dari Mayo Clinic: https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-poisoning/basics/art-20056657
  • 3. Better Health Channel. (2014). Drug Overdose [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari Better Health Channel: https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/drug-overdose
  • 4. Ellis, Mary Ellen. (2016). Drug Overdose [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari Healthline: https://www.healthline.com/health/drug-overdose#outlook
  • 5. OpenAnesthesia. (2019). Organophosphate poisoning: diagnosis and treatment [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari OpenAnesthesia: https://www.openanesthesia.org/organophosphate_poisoning_diagnosis_and_treatment/
  • 6. Cirino, Erica. (2017). What You Should Know About Organophosphate Poisoning [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari Healthline: https://www.healthline.com/health/organophosphate-poisoning
  • 7. World Health Organization (WHO). (2018). Information Sheet on Opioid Overdose [Online]. Diakses pada 8 November 2019, dari WHO: https://www.who.int/substance_abuse/information-sheet/en/
Informasi obat

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here