Trending

Info Obat : Kortikosteroid, Obat Dewa?

Swamedikasi Diare

Sunscreen, SPF, dan yang Kita Pilih Selama Ini

Bagaimana Cara Menggunakan Obat di Bulan Ramadhan?

Kenali Macam-macam Area Suntik

Kenali Macam-macam Area Suntik

  • 514

Anda sering mendengar istilah injeksi dalam tindakan medis bukan? Menurut WHO, dalam pelayanan kesehatan, injeksi merupakan metode introduksi obat, vaksin, kontraseptif, atau agen terapeutik lainnya ke dalam tubuh menggunakan jarum dan alat suntik. Injeksi merupakan salah satu prosedur pelayanan kesehatan yang paling umum di dunia. Hal ini menjadi sangat penting agar injeksi dapat dilakukan secara aman, dengan menggunakan metode yang tidak melukai pasien atau memaparkan risiko yang tidak diperlukan pada pekerja dalam unit pelayanan kesehatan dan tidak menghasilkan buangan yang berbahaya bagi komunitas. Penggunaan peralatan steril untuk seluruh injeksi sangat penting. 

 

Injeksi Intramuskular

Injeksi intramuskular menghantarkan obat ke dalam otot. Hal ini akan menyebabkan obat dapat diserap ke dalam pembuluh darah dengan cepat. Dokter seringkali menggunakan injeksi intramuskular untuk vaksin atau obat khusus tertentu. Orang dengan kondisi tertentu, seperti multiple sclerosis dan rheumatoid arthritis, mungkin akan memerlukan jenis injeksi seperti ini di dalam rumah—tentunya dengan bantuan perawatInjeksi intramuscular dilakukan apabila metode penghantaran obat lain tidak direkomendasikan. Dokter dapat melakukan injeksi intramuskular apabila pembuluh vena sulit dideteksi, obat tertentu dapat mengiritasi vena, dan apabila obat yang ditelan tidak efektif karena harus melewati sistem pencernaan.

 

Injeksi intramuskular menawarkan berbagai keuntungan. Injeksi intramuskular diabsorbsi lebih cepat dibandingkan injeksi subkutan karena jaringan otot memiliki suplai darah yang lebih banyak dibandingkan jaringan di bawah kulit. Jaringan otot dapat menerima obat dalam volume yang lebih besar dibandingkan jaringan subkutan. Beberapa lokasi yang digunakan untuk injeksi intramuskular, yaitu:

  • Lengan atas yang dekat dengan bahu (otot deltoid)

Otot deltoid umumnya digunakan untuk vaksin. Namun, lokasi ini tidak umum untuk injeksi mandiri, karena massa otot membatasi volume obat yang dapat diinjeksikan, umumnya tidak lebih dari 1 mililiter. 

  • Otot ventrogluteal pada panggul

Otot ventrogluteal merupakan lokasi yang paling aman, dimana cukup dalam dan tidak dekat dengan pembuluh darah utama dan saraf. Lokasi ini sulit digunakan untuk injeksi mandiri, dan mungkin membutuhkan bantuan orang lain. 

  • Otot vastus lateralis pada paha

Paha juga dapat digunakan ketika lokasi lain tidak tersedia atau apabila Anda perlu mengadministrasikan obat secara mandiri. Bagi paha atas ke dalam tiga bagian sama besarnya. Lokasikan area tengah di antara tiga daerah. 

  • Otot dorsogluteal pada bokong

Meskipun dahulu lokasi ini sering digunakan oleh tenaga kesehatan, kini, lokasi ini dihindari karena risiko melukai syaraf skiatik.

 

Komplikasi Injeksi Intramuskular

Beberapa komplikasi yang dapat dialami setelah administrasi injeksi intramuscular adalah

  • Nyeri parah pada bagian yang diinjeksi
  • Mati rasa
  • Kemerahan, bengkak pada lokasi injeksi
  • Pendarahan berkepanjangan
  • Gejala reaksi alergi, seperti kesulitan bernapas atau muka yang membengkak

 

Injeksi Subkutan

Injeksi subkutan merupakan metode administrasi obat yang disuntikkan di bawah kulit. Dalam injeksi tipe ini, jarum pendek digunakan untuk menginjeksikan obat  ke dalam jaringan di bawah kulit dan otot. Obat yang diberikan dengan cara seperti ini diabsorbsi lebih lambat dibandingkan injeksi ke dalam intravena, terkadang sampai 24 jam. Jenis injeksi seperti ini digunakan ketika metode administrasi lain dianggap kurang efektif. Sebagai contoh, obat yang tidak dapat diberikan secara oral karena asam dan enzim di dalam lambung akan menghancurkan obat terkait. 

 

Metode lain, seperti injeksi intravena, seringkali sulit dan dianggap mahal. Untuk obat tertentu dalam jumlah kecil, injeksi subkutan merupakan metode yang berguna, aman, dan nyaman untuk mengadministrasikan obat ke dalam tubuh. 

 

Obat yang Diadministrasikan melalui Injeksi Subkutan

Obat yang diberikan melalui injeksi subkutan adalah obat yang diberikan dalam volume kecil (umumnya <1 – 2 ml). Insulin dan beberapa hormon umumnya diberikan sebagai injeksi subkutan. Obat lain yang dapat diadministrasikan sangat cepat dapat diinjeksikan melaui subkutan, seperti epinefrin. Selain itu, obat pereda nyeri seperti morfin dan hidromorfon dapat diberikan dengan cara yang sama. Obat yang mencegah mual dan muntah seperti metoklopramid atau dexamethasone juga dapat diberikan melalui injeksi subkutan.

 

Lokasi Injeksi Subkutan

Lokasi injeksi ini sangat penting untuk injeksi subkutan. Obat ini perlu diinjeksikan ke dalam jaringan berlemak di bawah kulit. Beberapa lokasi injeksi subkutan yang umum adalah:

  • Perut: pada titik di bawah pusar, sekitar 2 inch dari pusar
  • Lengan: di bagian belakang atau samping dari lengan atas
  • Paha: di paha atas

 

Komplikasi Injeksi Subkutan

Apabila injeksi dilakukan terus menerus, lokasi injeksi sebaiknya tidak diulang pada satu tempat yang sama untuk mencegah terjadinya kerusakan jaringan.

Berbagai gejala infeksi dari lokasi yang diinjeksikan subkutan adalah nyeri parah, kemerahan, dan bengkak. 

 

Injeksi Intravena

Beberapa obat diinjeksikan secara intravena atau infus. Hal ini bertujuan agar obat dikirimkan secara langsung ke dalam pembuluh darah menggunakan jarum. Melalui administrasi intravena, tube plastic kecil yang dikenal sebagai kateter intravena dimasukkan ke dalam vena. Cateter akan menyebabkan dosis obat yang berulang dapat diadministrasikan secara aman.

 

Penggunaan Injeksi Intravena

Obat yang diberikan secara intravena seringkali digunakan karena dapat mengontrol dosis yang dapat diadministrasikan ke dalam tubuh. Sebaagi contoh, dalam beberapa situasi, orang dapat menerima obat dengan sangat cepat. Hal ini mencakup kasus emergensi, seperti serangan jantung, stroke, dan keracunan. Dalam kasus ini, mengonsumsi obat atau cairan melalui mulut tidak akan cukup cepat untuk menghantarkan obat ke dalam aliran darah. Namun, pada kasus lainnya, obat dapat diberikan secara lambat namun konstan. 

 

Pemberian obat secara intravena dilakukan untuk kebutuhan jangka pendek. Sebagai contoh, selama rawat inap di rumah sakit untuk pemberian obat selama pembedahan, obat mual, obat nyeri, atau antibiotik. Umumnya, standar IV diberikan dalam waktu hingga 4 hari. Biasanya, jarum akan dimasukkan ke dalam vena di pergelangan tangan, siku, atau bagian belakang tangan. Berbagai obat yang diadministrasikan secara intravena adalah:

  • Obat kemoterapi, seperti doxorubicin, vincristine, cisplatin, dan paclitaxel
  • Antibiotik, seperti vankomisin, meropenem, dan amfoterisin
  • Antifungi, seperti micafungin dan amfoterisin
  • Obat Pereda rasa nyeri, seperti hidromorfon dan morfin
  • Antihipertensi, seperti dopamin, epinefrin, norepinefrin, dan dobutamin
  • Obat immunoglobulin 

 

Efek Samping Injeksi Intravena

Obat yang diberikan secara intravena dapat bertindak dengan sangat cepat di dalam tubuh, sehingga efek samping, reaksi alergi, dan efek lain dapat terjadi secara cepat. Efek samping lain yang mungkin terjadi adalah gejala infeksi yang terjadi seperti demam, kemerahan, nyeri, dan pembengkakan pada tempat injeksi, emboli/gumpalan udara, pembekuan darah, dan kerusakan pada pembuluh darah.

 

Injeksi Intradermal

Umumnya, vaksin akan diinjeksikan melalui rute  intradermal, yaitu di bagian dermis, salah satu lapisan pada  kulit yang memiliki tebal hanya beberapa milimeter. Lapisan ini, adalah lapisan di bawah epidermis, yang telah divaskularisasi dan mengandung sejumlah sel imun, seperti sel dendritic. Injeksi intradermal umumnya rute adminisitrasi yang digunakan untuk vaksinasi. Hal ini disebabkan vaksinasi melalui injeksi intradermal memiliki berbagai keuntungan apabila dibandingkan dengan jenis vaksinasi lainnya, sehingga dapat mengakibatkan peningkatan respon imun terhadap vaksin, potensial reduksi dosis antigen, dan penurunan kecemasan dan nyeri. 

Visualitator:
  • Putri Kholilah
  • 1. World Health Organization (2019). Injections [Online]. Diakses pada 21 Juli 2019, dari WHO: https://www.who.int/topics/injections/en/
  • 2. Leonard, Jayne. (2018). How to Give an Intramuscular Injection [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari Medical News Today: https://www.medicalnewstoday.com/articles/323115.php
  • 3. Case-Lo, Christine. (2017). What is a Subcutaneous Injection? [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari Healthline: https://www.healthline.com/health/subcutaneous-injection
  • 4. Cafasso, Jacquelyn. (2017). What are Intramuscular Injection? [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari Healthline: https://www.healthline.com/health/intramuscular-injection
  • 5. Case-Lo, Christine. (2016). Intravenous Medication Administration: What to Know [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari Healthline: https://www.healthline.com/health/intravenous-medication-administration-what-to-know
  • 6. Novosanis. (2019). Intradermal Injection [Online]. Diakses pada 25 Juli 2019, dari Novosanis: https://novosanis.com/intradermal-injection
Informasi obat Obat

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here