Trending

Swamedikasi Diare

Info Obat : Kortikosteroid, Obat Dewa?

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

INFORMASI OBAT: GOLONGAN PENGHAMBAT KANAL KALSIUM ATAU CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB)

Kenalan sama Amoksisilin

Kenalan sama Amoksisilin

  • 1615

Apakah obat amoksisilin itu?

Amoksisilin termasuk obat antibiotik (obat yang bekerja menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri) sehingga hanya boleh diminum untuk mengatasi infeksi bakteri, bukan untuk mengatasi infeksi virus (contohnya seperti pada kondisi flu/pilek) atau bahkan untuk mengatasi kondisi yang bukan infeksi. Jadi jangan meminum amoksisilin kalau tubuh tidak sedang terkena infeksi bakteri ya!

 

  1. Obat amoksisilin termasuk golongan obat apa?

Amoksisilin termasuk golongan obat keras sehingga hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Pada kemasan obatnya ditandai dengan adanya logo lingkaran merah dengan huruf K berwarna hitam. Jadi sebaiknya beli amoksisilin bila sudah berkonsultasi dan mendapat resep dari dokter ya, hindari self-diagnose dan meminum amoksisilin tanpa aturan pakai yang dianjurkan.

 

  1. Jadi apa saja indikasi amoksisilin?

Amoksisilin termasuk obat antibiotik yang spektrum penggunaannya luas karena dapat digunakan untuk mengatasi banyak jenis infeksi seperti infeksi pada telinga, hidung, & tenggorokan (THT), infeksi saluran pernafasan, infeksi pada gigi, infeksi kulit, infeksi saluran kemih dan reproduksi, dan infeksi saluran pencernaan.

 

  1. Ada berapa jenis amoksisilin yang tersedia di pasaran?

Amoksisilin tersedia dalam bentuk tablet (250 mg dan 500 mg), kapsul (250mg dan 500 mg), sirup (250 mg/5ml dan 125 mg/5ml), drop/tetes oral (100mg/ml),  dan injeksi (1 gram).

 

  1. Bagaimana aturan meminum obat amoksisilin?

Amoksisilin harus diminum sesuai aturan pakai yang diresepkan, aturan pakai tersebut bervariasi bergantung jenis infeksi dan kondisi individu. Amoksisilin yang diminum harus dihabiskan sesuai jumlah yang diresepkan sekalipun kondisi sudah membaik untuk mencegah infeksi muncul kembali.

 

Sebaiknya amoksisilin diminum pada jam yang sama setiap harinya untuk memperoleh dosis yang merata, yaitu diminum setiap 12 jam atau pagi dan malam (apabila aturan pakai: sehari 2 x 1)  dan diminum setiap 8 jam atau pagi, siang, dan malam (apabila aturan pakai: sehari 3 x 1).

 

Amoksisilin yang diberikan beberapa kali dalam sehari secara teratur, bekerja lebih efektif  daripada amoksisilin yang diberikan sekali saja dalam dosis yang relatif besar karena dibutuhkan kadar amoksisilin dalam darah yang memadai sepanjang hari yaitu kadar yang dibutuhkan untuk membunuh bakteri.

 

  1. Bagaimana cara meminum obat amoksisilin?

Amoksisilin dapat diminum sebelum atau pun sesudah makan, namun sebaiknya diminum setelah makan untuk penyerapan obat yang lebih baik dan meminimalkan efek samping pada saluran pencernaan.

 

  1. Bagaimana bila lupa untuk meminum obat amoksisilin?

Berikut merupakan hal yang harus kita lakukan1:

  1. Melewatkan dosis amoksisilin tersebut, tunggu waktu minum obat selanjutnya, dan tetap minum sesuai aturan pakai, jangan menggandakan dosis amoksisilin (syarat: kita baru ingat untuk meminum obat disaat sudah mendekati waktu minum obat selanjutnya).
  2. Segera minum amoksisilin tersebut sesuai aturan pakai (syarat: kita baru ingat untuk minum obat tidak lama dari waktu minum obat yang terlewat tersebut).

 

  1. Bagaimana mekanisme kerja amoksisilin?

Amoksisilin merupakan antibiotik golongan beta laktam yang bekerja dengan cara menghancurkan dinding sel bakteri. Dengan demikian amoksisilin termasuk antibiotik kategori bakterisidal atau antibiotik yang bekerja membunuh bakteri penyebab infeksi.

 

Namun demikian terdapat beberapa bakteri yang sudah resisten terhadap amoksisilin. Resisten yang dimaksud disini yaitu suatu bakteri sudah kebal terhadap amoksisilin sehingga amoksisilin tidak dapat bekerja dengan baik pada bakteri tersebut. Contoh bakteri yang resisten terhadap amoksisilin yaitu staphylococcieschericia coli, dan haemophilus influenzae. Bakteri-bakteri tersebut memiliki enzim beta laktamase yang dapat menguraikan dan meginaktivasi amoksisilin.

 

Untuk menangani hal tersebut, pada tahun 1970an ditemukan zat yang dapat dikombinasikan dengan amoksisilin untuk meningkatkan efektivitasnya pada bakteri yang telah resisten yaitu asam klavulanat sehingga kini banyak obat di pasaran dengan kandungan amoksisilin+asam klavulanat. Asam klavulanat memiliki efek antibiotik yang relatif rendah, namun dapat mengikat enzim beta laktamase yang dihasilkan oleh bakteri yang resisten terhadap amoksisilin sehingga dapat mencegah penguraian amoksisilin.

 

Dosis yang tersedia untuk kombinasi tersebut yaitu amoksisilin/asam klavulanat: 250 mg/125 mg atau 500 mg/125 mg (tablet), 125 mg/31,25 mg atau 250 mg/62,5 mg (sirup).

 

  1. Apa saja efek samping obat amoksisilin?

Efek samping yang biasa terjadi (terjadi pada 1 dari 10 orang) setelah penggunaan amoksisilin yaitu mual, muntah, dan diare. Minum amoksisilin setelah makan dan minum (asupan cairan harian) dalam jumlah yang memadai dapat mengatasi efek samping tersebut, namun tetap konsultasikan kepada dokter apabila efek samping tersebut sangat mengganggu. 

 

Efek samping serius (terjadi pada 1 dari 1000 orang) setelah penggunaan amoksisilin yaitu diare disertai kram perut atau adanya darah/lendir pada feses, atau berlangsung selama lebih dari 4 hari. Selain itu feses berwarna pucat dan urin berwarna pekat, kulit berwarna kuning, nyeri otot dan sendi yang muncul setelah 2 hari meminum amoksisilin. Apabila terjadi hal-hal tersebut, segera konsultasi ke dokter.

 

  1. Apakah obat amoksisilin aman digunakan pada ibu hamil dan menyusui?

Kehamilan: Amoksisilin maupun kombinasinya dengan asam klavulanat merupakan obat pada kehamilan dengan kategori B sehingga relatif aman digunakan pada ibu hamil.

 

Laktasi: Amoksisilin dapat masuk ke dalam ASI dalam kadar yang rendah sehingga tidak menimbulkan efek samping bagi bayi. Adapun amoksisilin-asam klavulanat juga aman untuk dapat dikonsumsi oleh ibu menyusui, apabila dibandingkan dengan amoksisilin lebih tinggi kejadian efek sampingnya pada bayi meskipun tidak signifikan. 

 

Namun sebaiknya penggunaan amoksisilin saat hamil/menyusui perlu konsultasi dokter terlebih dahulu, Karena dalam kondisi tersebut sebaiknya hanya gunakan obat-obat yang betul-betul dibutuhkan, obat yang jelas keamanannya, dalam dosis efektif yang terendah, dipilih obat tunggal (tidak menggunakan beberapa antibiotik sekaligus), dan disarankan tidak pada trimester pertama apabila memungkinkan.

 

 

Supervisor:
  • Nadiya Nurul
  • 1. NHS. 2018. Amoxicillin: Antibiotic to Treat Bacterial Infections. Dapat diakses di: www.nhs.co.uk/medicines/amoxicillin/
  • 2. https://reference-medscape.com/drug/amoxil-amoxicillin-342473
  • 3. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 11 2011-2012.
  • 4. Akhavan BJ, Vijhani P. 2019. Amoxicillin. Dapat di akses di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482250/
  • 5. Bryan, J. 2011. Still going Strong a 30: Co-Amoxiclav. Dapat diakses di: www.pharmaceutical-journal.com/news-and-analysis/features/still-going-strong-at-30-co-amoxiclav/11079379.article?firstPass=false
  • 6. FDA. 2017. Amoxicillin Use by Pregnant and Lactating Women. Dapat diakses di: https://www.fda.gov/drugs/bioterrorism-and-drug-preparedness/amoxicillin-use-pregnant-and-lactating-women
  • 7. Benyamini, L., Merlob, P., Stahl, B., Braunstein, R., Bortnik, O., Bulkowstein, M., Zimmerman, D., Berkovitch, M. 2005. The Safety of Amoxicillin/Clavulanic Acid and Cefuroxime During Lactation. Therapeutic Drug Monitoring 27(4): 499-502.
  • 8. Norwitz, E.R., Greenberg, J.A. 2009. Antibiotics in Pregnancy: Are They Safe?. Rev Obstet gynecol 2(3): 135-136.
Informasi obat

Comments (1)

  1. Halo Apoteker Indonesia Ginanjar Pamungkas - 13 December 2019

Login Here