Trending

Kenali Macam-macam Area Suntik

Swamedikasi Diare

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

INFORMASI OBAT: GOLONGAN PENGHAMBAT KANAL KALSIUM ATAU CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB)

Herbal Episode 3: Mari Mengenal Jahe

Herbal Episode 3: Mari Mengenal Jahe

  • 1542

MENGENAL HERBAL JAHE YANG KAYA KHASIAT KESEHATAN
Oleh: Muh. Imadudin Siddiq, S.Farm., Apt.

 

KENALAN YUK SAMA SI JAHE~

Penggunaan pengobatan alami atau yang hari ini ramai dengan istilah pengobatan alternative telah mengalami peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Bagi kalangan generasi baby boomers yang saat ini menginjak usia setengah abad lebih keatas, penggunaan pengobatan tambahan dan alternative ini sudah umum bagi mereka, tentu dengan harapan memberikan efek yang baik bagi tubuh. Namun, kebanyakan  hal ini dilakukan tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan para dokter (Cohen and Pan, 2002). Padahal, hal ini belum tentu aman dan disarankan untuk digunakan.   


Sebuah survei yang dilakukan telah mengkonfirmasi bahwa terjadi banyak permasalahan pada penggunaan herbal dan obat secara bersamaan. Penggunaan bersama ini menimbulkan interaksi pada pasien kanker, bahkan terdata setengah dari obat-obat herbal yang digunakan oleh pasien ini minim riset terkait interaksi yang mungkin terjadi (Engdal, Klepp, and Nilsen, 2009). Salah satu tanaman herbal yang umum digunakan ialah Jahe. 


Jahe (Zingiber officinale) ialah anggota dari famili yang sama dengan kapulaga dan kunyit. Aroma yang kuat dari jahe merupakan hasil dari keton yang mengandung senyawa gingerol. Bagian yang dikonsumsi herbal jahe ialah rizhome, sehingga sering disebut akar jahe, walaupun sejatinya bukanlah akar.


Jahe umumnya tumbuh di daratan Asia dan wilayah beriklim Tropis. Jahe juga sudah lama digunakan sebagai bahan tambahan pada kuliner, juga digunakan sebagai obat herbal. Kandungan kimia serta metabolit nya sudah banyak dianalisis, setidaknya tercatat sekitar seribu kompoenen metabolit. Komponen bioaktif yang banyak diteliti ialah gingerol dan shogaols, 

 

APAKAH BENAR JAHE BISA DIGUNAKAN SEBAGAI OBAT?


Secara umum Jahe dinyatakan aman (Kaul and Joshi, 2001). Bahkan U.S. Food and Drug Administration telah mengkategorikan jahe sebagai bahan tambahan pangan, Jahe juga sudah banyak diteliti pada pengobatan mual muntah, serta pada penyakit arthritis. 


Setiap tanaman herbal tentu memiliki jalur mekanisme aksi pada tubuh. Mekanisme herbal Jahe sebagai anti-muntah diperkirakan menghambat reseptor serotonin dan memberikan efek sebagai anti muntah pada sistem pencernaan serta sistem syaraf pusat (Der Marderosian A and Beutler JA, 2006). Sedangkan potensi jahe sebagai anti-inflamasi, ekstrak jahe memperlihatkan menginhibisi aktivasi dari sel tumor, yakni TNF-α dan COX-2 pada suatu penelitian invitro (Frondoza C.G. et al., 2004).

Namun, menurut Ann Bode and Zinggang (2011) dari beragam bukti hasil penelitian memperlihatkan bahwa Jahe serta beragam senyawa nya memiliki efek anti-inflamasi pada penelitian in vitro maupun ex-vivo. Meski begitu, data memperlihatkan bahwa Jahe sebagai anti-inflamasi yang efektif pada uji in vivo di manusia masih terjadi hasil yang berbeda-beda. 


PENGGUNAAN JAHE PADA KESEHATAN
Jahe telah diketahui dapat digunakan pada beragam treatment, seperti mabuk perjalanan, mual muntah, arthirits. Sebagai berikut: 


1.    MABUK PERJALANAN
Jahe diketahui pada sebuah studi memiliki efek lebih kuat dibandingan dimenhidrinate (Dramamine) dan placebo pada gejala mabuk perjalanan (Mowrey and Clayson, 1982). Sebuah studi memperlihatkan bahwa 1 gram jahe efektif menurunkan nyeri secara subjektif pada perjalanan laut, walaupun hasil tersebut secara statistik tidak signifikan (Grontved et al., 1988). Namun, penelitian lain memperlihatkan, jahe tidak memberikan efek yang signifikan pada mabuk perjalanan (Wood at al., 1988). 


2.    MUAL-MUNTAH
Sebuah review yang dilakukan oleh Borelli F. et al., (2005) menganalisis 33 studi yang mengevaluasi efektivitas jahe dalam meredakan gejala mual-muntah yang disebabkan oleh kehamilan. Hanya enam studi dari total 675 partisipan, yang memenuhi kriteria inklusi, model studi double-blind, dan randomized controlled trials (RCTs). Empat dari penelitan itu memperlihatkan jahe memiliki efek yang lebih kuat dibandingkan placebo, dan dua penelitian lain memperlihatkan jahe memiliki efektivitas yang lebih dari vitamin B6, yang telah diketahui secara umum efektif digunakan pada muntah karena kehamilan. Dari data tersebut pun menyatakan bahwa tidak ada efek buruk pada penggunaan jahe pada kehamilan 


Pada 2006 telah dilakukan analisis evaluasi penggunaan jahe untuk mual-muntah pasca operasi, hasilnya memperlihatkan bahwa lima penelitian uji acak dengan total 363 pasien, memperlihatkan jahe lebih efektif dibandingan placebo (Chaiyakunapruk et al., 2006). 
Menurut Ann and Zigzag (2011), dari beragam hasil riset mengindikasikan bahwa jahe dan komponen-komponen nya banyak terakumulasi pada saluran pencernaan, oleh sebab itu, hal ini disinyalir memberikan efek sebagai agen antimual serta memungkinkan sebagai senyawa pencegah kanker kolon. 


3.    ARTHRITIS
Studi yang mengevaluasi efektivitas jahe pada pasien dengan osteoarthritis sebagai berikut. Satu studi memperlihatkan ekstrak jahe memiliki efek signifikan menurunkan gejala osteoarthritis pada lutut secara statistik (Altman R.D. and Marcussen K.C., 2001). Sedangkan,  pada studi silang memperlihatkan jahe memiliki efek yang signifikan hanya pada periode pertama uji. Pada studi retrospektif dengan 28 pasien dengan rheumatoid arthritis yakni 18 pasien osteoarthritis dan 10 pasien nyeri otot, setelah pasien mengkonsumsi jahe dalam bentuk tepung, mereka merasakan berkurang nyeri dan bengkaknya. 


4.    EFEK LAINNYA 
Meskipun satu studi yang dilakukan oleh Jiang X. et al, (2005) menyatakan bahwa jahe tidak memberikan efek pada International Normalized Ratio (INR), studi lain menyatakan terjadi peningkatan yang signifikan dari aktivitas fibrinolitik setelah konsumsi suplementasi jahe bubuk sebanyak 5 gram. Perlu diketahui, INR ialah acuan lab untuk menyatakan rasio terjadinya perdarahan pada tubuh. Selain itu, jahe juga diketahui dapat menurunkan kolesterol, meningkatkan metabolism lemak, serta membantu menurunkan resiko cardiovascular serta diabetes (Verma S.K., and Bordia A., 2001). 


EFEK MERUGIKAN DAN INTERAKSI OBAT HERBAL JAHE


Obat herbal memang diambil secara langsung dari alam dengan proses pengolahan yang tergolong sederhana. Namun, bukan berarti obat herbal ini 100% aman dan tanpa efek yang berpotensi merugikan ketika digunakan. Terlebih, ketika obat herbal digunakan secara bersamaan dengan obat lainnya, sehingga dapat menyebabkan interaksi antar obat yang bisa jadi memberikan efek yang merugikan. 


Efek yang merugikan setelah penggunaan herbal jahe secara per-oral sangatlah jarang tetapi hal ini dapat menyebabkan gangguan saluran pencernaan seperti nyeri ulu hati, iritasi pada mulut (Altman R.D. and Marcussen K.C., 2001). 
Sedangkan, Interaksi Herbal jahe dengan beberapa obat juga dapat terjadi. Herbal jahe juga dapat memberikan efek fibrinolitik, sehingga penggunaan herbal jahe pada pasien yang sedang menggunakan obat warfarin (anticoagulant) perlu diperhatikan ketat. Dokter wajib memonitor nilai INR pasien. 


Sebuah studi yang dilakukan oleh Okonta, Uboh, and Obonga (2008) bahwa hasil pengujian farmakokinetik antara herbal jahe dengan obat antibiotic metronidazole yang diuji coba pada kelinci memperlihatkan herbal jahe meningkatkan absorbsi dan mempercepat T1/2, serta signifikan menurunkan laju eleminasi dan clearance dari obat metronidazole. Penggunaan secara bersamaan memberikan efek yang serius, yakni mengakibatkan banyak obat terakumulasi dalam tubuh sehingga dapat berakibat pada meningkatkan toksisitas obat antibiotic metronidazole.  


Meskipun begitu, menurut Brett (2007) tidak pernah dilaporkan efek toksik jahe secara tunggal pada manusia, namun diperlukan beragam penelitian serta analisis terkait efek samping yang merugikan dan potensial interaksi obat. 


BERAPA SIH DOSIS AMAN HERBAL JAHE
Jahe dapat dikonsumsi pada kondisi segar atau kering yang biasanya disiapkan dalam teh, softdrinks, dan roti. Tidak ada penelitian spesifik terkait dosis herbal jahe, namun, banyak penelitian klinis memperlihatkan bahwa dosis yang dianjurkan antara 250 mg dan 1 gram dalam bentuk bubuk pada kapsul, yang dikonsumsi satu hingga empat kali dalam sehari. Pada kondisi mual-muntah akibat kehamilan, mayoritas hasil studi merekomendasikan dosis sebesar 250 mg empat kali sehari (Brett, 2007). 


SO, 
Jahe tidak hanya popular sebagai bahan tambahan pangan sebagai penambah rasa pada makanan, tetapi juga sebagai obat herbal yang sudah digunakan ribuan tahun sebagai obat herbal yang berkhasiat meredakan beragam penyakit. Jahe diketahui dari beragam studi memiliki beragam efek farmakologi. Namun, informasi terkait herbal jahe masih kurang terkait keamanan, efek yang mungkin terjadi, serta interaksi obat dalam berbagai penggunaannya. Untuk kalian yang masih penasaran dengan herbal jahe, bagaimana penggunaan yang berbarengan dengan obat lainnya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan Apoteker terdekat anda ya! Tanya obat, tanya Apoteker []. 

Visualitator:
  • Muhammad Imad
  • Altman RD, Marcussen KC., 2001. Effects of a ginger extract on knee pain in patients with osteoarthritis. Arthritis Rheum;44:2531–8.
  • Ann M. B., and Zigzang D., 2011. The Amazing and Mighty Ginger: Herbals Medicine: Biomolecular and Clinical Aspects, 2nd Edition. CRC Press/taylor&Francis. UK.
  • Borrelli F, Capasso R, Aviello G, Pittler MH, Izzo AA., 2005. Effectiveness and safety of ginger in the treatment of pregnancy-induced nausea and vomiting. Obstet Gynecol.;105:849–56.
  • BRETT WHITE, MD, 2007. Ginger: An Overview. Keck School of Medicine, University of Southern California, Los Angeles, California. Am Fam Physician. Jun 1;75(11):1689-1691.
  • Chaiyakunapruk N, Kitikannakorn N, Nathisuwan S, Leeprakobboon K, Leelasettagool C., 2006. The efficacy of ginger for the prevention of postoperative nausea and vomiting: a meta-analysis. Am J Obstet Gynecol;194:95–9.
  • Cohen R. J, Ek K, Pan C. X. Complementary and alternative medicine (CAM) use by older adults: A comparison of self-report and physician chart documentation. J Gerontol A Biol Sci Med Sci.
  • Der Marderosian A, Beutler JA., 2006. The Review of Natural Products. St. Louis, Mo.: Wolters Kluwer.
  • Engdal S, Klepp O, Nilsen O. G., 2009. Identification and exploration of herb-drug combinations used by cancer patients. Integr Cancer Ther.;8(1):29–36.
  • Frondoza CG, Sohrabi A, Polotsky A, Phan PV, Hungerford DS, Lindmark L., 2004. An in vitro screening assay for inhibitors of proinflammatory mediators in herbal extracts using human synoviocyte cultures. In Vitro Cell Dev Biol Anim.;40:95–101.
  • Grontved A, Brask T, Kambskard J, Hentzer E., 1988. Ginger root against seasickness. A controlled trial on the open sea. Acta Otolaryngol;105:45–9.
  • Jewell D, Young G., 2003. Interventions for nausea and vomiting in early pregnancy. Cochrane Database Syst Rev.;(4):CD000145.
  • Jiang X, Williams KM, Liauw WS, Ammit AJ, Roufogalis BD, Duke CC, et al., 2005. Effect of ginkgo and ginger on the pharmacokinetics and pharmacodynamics of warfarin in healthy subjects. Br J Clin Pharmacol;59:425–32.
  • Kaul P. N, Joshi B. S., 2001. Alternative medicine: Herbal drugs and their critical appraisal-part II. Prog Drug Res.;57:1–75.
  • Mowrey DB, Clayson DE. Motion sickness, ginger, and psychophysics. Lancet. 1982;1:655–7.
  • Okonta J. M., Uboh M., and Obonga W. O., 2008. Herb-Drug Interaction: A Case Study of Effect of Ginger on Pharmacokinetic of Metronidazole in Rabbit. Indiana J Pharm Sci: 70 (2): 230-232.
  • Verma SK, Bordia A., 2001. Ginger, fat and fibrinolysis. Indian J Med Sci;55:83–6.
  • Wood CD, Manno JE, Wood MJ, Manno BR, Mims ME., 1988. Comparison of efficacy of ginger with various antimotion sickness drugs. Clin Res Pr Drug Regul Aff.;6:129–36.
Herbal Pengobatan Alternatif

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here