Trending

Swamedikasi Diare

Info Obat : Kortikosteroid, Obat Dewa?

ASAM URAT: Allopurinol, Kolkisin atau NSAID?

INFORMASI OBAT: GOLONGAN PENGHAMBAT KANAL KALSIUM ATAU CALCIUM CHANNEL BLOCKER (CCB)

COVID19 Session: Apakah Benar Obat-obatan ini Tidak Boleh Dikonsumsi?

COVID19 Session: Apakah Benar Obat-obatan ini Tidak Boleh Dikonsumsi?

  • 957

Sebelumnya, kenalan dulu yuk sama COVID  19 
Image result for covid 19 structure

Ini dia struktur dari COVID19. 
Terdapat protein Spike (S) yang akan bertugas sebagai jembatan untuk masuk kedalam sel tubuh kita.


Antibiotik 

Kalau kita punya gejala awal dari COVID19 seperti demam, batuk, pilek, dan sesak yang mengganggu;  jangan berfikir untuk konsumsi antibiotik tanpa instruksi dari dokter. COVID19 adalah virus yang harus dilawan menggunakan antivirus, bukan antibiotik. Antibiotik adalah obat yang fungsinya membunuh bakteri. Penggunaan antibiotik tanpa instruksi dokter dan pengawasan apoteker justru akan membuat resistensi antibiotik terjadi. Meskipun begitu, dalam terapi virus tersebut, bisa jadi dokter akan memberikan kamu antibiotik jika diketahui terdapat infeksi bakteri yang menyertai infeksi virus COVID19 itu sendiri. 

 

Curcumin (Kunyit, temulawak)

Kurkumin yang tadinya dianggap sebagai herbal yang memiliki efek meningkatkan daya tahan tubuh dan memiliki berbagai manfaat kesehatan lainnya, akhir-akhir ini justru ramai diperbincangkan (terutama dalam grup-grup whatsapp :D) dapat mempermudah seseorang terinfeksi COVID19. Apakah benar? 

Hal tersebut didasari dari jurnal penelitian yang menyatakan bahwa kurkumin dapat meningkatkan kadar dari ACE2 (salah satu enzim yang berfungsi sebagai antiradang, dan berperan dalam pengaturan tekanan darah). Sedangkan penelitian lainnya menyatakan bahwa reseptor ACE2 merupakan salah satu pintu untuk COVID19 bisa masuk kedalam sel tubuh kita. Jadi, bagaimana simpulannya? 

  • Percobaan yang dilakukan pada jurnal penelitian tersebut baru dilakukan pada hewan (tikus), jadi belum bisa dipastikan akan berdampak sama jika dilakukan pada manusia. 
  • Kadar kurkumin yang tercantum dalam penelitian adalah 150mg/kg/hari dalam bentuk isolat (kurkumin yang telah di murnikan). Untuk mencapai kadar tersebut pada manusia, misalnya manusia dengan berat 60 kg butuh 9000 mg atau 9 kg kurkumin per hari (kadar kurkumin pada kunyit adalah 3.14% dari berat total ruas kunyit). Jadi, butuh kunyit yang cukup banyak jika ingin mendapat kadar tersebut, begitu juga dengan temulawak.
  • ACE2 merupakan enzim, sedangkan yang berperan sebagai jalur masuk dari COVID19 adalah ACE2-reseptor. Kedua hal tersebut belum tentu sinergis, dalam artian, jika ACE2 meningkat, belum tentu ACE2-reseptor akan meningkat juga.
  • Beberapa jurnal lain juga ada yang menyatakan hasil sebaliknya. 
  • Yang dikandung oleh kunyit dan temulawak bukan cuma kurkumin, melainkan senyawa lain yang kompleks, maka harus dilakukan penelitian lebih lanjut tentang efek masing-masing senyawa yang dikandung. 
  • Perlu penelitian lebih lanjut untuk bisa menyimpulkan bahwa kurkumin tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi terkait dengan resiko terinfeksi COVID19.

 

Obat Golongan ACE Inhibitor, ARB, maupun NSAID

Obat golongan ACE-Inhibitor yang umum didengar seperti Kaptopril dan lisinopril, lalu golongan ARB yaitu valsartan dan telmisartan, serta NSAID seperti Ibuprofen dikatakan sebaiknya dihindari terkait dengan meningkatkan resiko tertular/terinfeksi COVID19. ACE-Inhibitor dan ARB adalah obat yang secara umum digunakan pada pasien dengan gangguan sistem jantung termasuk tekanan darah tinggi. Sedangkan Ibuprofen digunakan sebagai obat penurun panas, maupun pereda nyeri. Obat-obat ini disebutkan juga dapat meningkatkan kadar enzim ACE2 berdasarkan jurnal ilmiah keluaran The Lancet, maka asumsi (hipotesis) yang sama dengan kasus kurkumin muncul. Jadi?

  • Belum cukup bukti terkait penggunaan ACE Inhibitor dan ARB dan resikonya terhadap infeksi COVID19, tunggu informasi yang lebih valid yaa. 
  • WHO telah mengeluarkan rekomendasi untuk mengganti penggunaan ibuprofen (atau NSAID lainnya) ketika gejala demam/nyeri muncul, dengan paracetamol (bukan golongan NSAID). 
  • Pasien yang menggunakan obat ACE Inhibitor dan ARB secara langsung masuk dalam kategori pasien dengan penyakit penyerta yang memiliki resiko lebih tinggi terhadap COVID19.  
  • Pemantauan terapi dari penggunaan obat-obat tersebut harus secara ketat dilakukan oleh tenaga medis, laporkan semua keluhan yang terjadi selama konsumsi obat tersebut pada dokter atau apotekermu. 
  • https://www.sbs.com.au/news/who-warns-against-use-of-ibuprofen-for-coronavirus-symptoms
  • https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200318044053-255-484369/who-hindari-konsumsi-ibuprofen-untuk-obati-gejala-covid-19
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4651552/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17044766
  • https://jvi.asm.org/content/94/7/e00127-20
  • https://www.thelancet.com/journals/lanres/article/PIIS2213-2600(20)30116-8/fulltext
Farmasi Indonesia Info Update Informasi obat Obat Oh Ternyata

Comments (0)

    There are no comments yet

Login Here